Cerpen

Anak Angu

Kawin tidak harus menunggu kaya. Tua baru kaya lalu kapan kawinnya? Sengsara menahan cinta. Cinta itu anugerah, hadiah istimewa abadi pencipta alam

Editor: Agustinus Sape
DOK POS-KUPANG.COM
Ilustrasi 

Tetapi Bani dan Botu keras kepala dan tidak memberikan, biar sejengkal. “Dia marga Lobo mengapa minta di marga Roto? Silakan minta bagian pihak om! Tanah sudah sempit, mau bagi bagaimana. Pengacau namanya”

Ketika itu Lobo mau tikam diri mengapa lahir sebagai anak angu. Waktu kecil dimanja-manja, di kala besar diinjak-injak. Nasib apa begini? Pihak om tolak, orang tua kandung lebih tolak. Kepada siapa harus berharap? Kiranya lebih baik ketika lahir dibunuh mati…

Dengan gusar Lobo turun dari balai dan mengikat parangnya di pinggang. Dikira akan potong siapa, kedua adiknya menghindar. Sebelum pergi, entah ke mana, Lobo menatap ayahnya dengan air mata darah.

 “Bapak, supaya bapak tahu. Saya ini adalah hasil gairah cinta pertama bapak dan mama. Sumpah, saya tidak pernah minta untuk dilahirkan. Mengapa saya dibuang begitu saja?!”

Setelah beberapa malam Lobo tidak pulang rumah, maka dicari di berbagai tempat oleh seluruh keluarga terkait. Tidak ditemukan. Karena sudah kehabisan akal, maka disimpulkan begitu saja, bahwa Lobo sudah mati. Maklum ketika itu lagi ganas-ganasnya perlakuan Jepang terhadap pribumi.

Perkawinan Paul dengan Iren membuka tabir yang selebar-lebarnya, bahwa Lobo yang dikatakan sudah mati ternyata beranak cucu-cece di rantau. Paul adalah cece Lobo yang telanjur kawin dengan saudarinya sendiri, Iren yang adalah cece kandung Bani.  

 Waktu urusan adat perkawinan tidak terbayang adanya kaitan darah Paul dan Iren. Orang tua Iren tahunya, bahwa suami Iren berasal dari Jawa karena Paul lahir, besar, dan bekerja di Jawa. Apa lagi nama ayah Paul yang tercantum dalam KTP dan dalam akta perkawinan bukan nama Malo, melainkan Andre.

Setelah memperoleh 2 anak, akhirnya Iren tahu bahwa nama kecil ayah Paul adalah Malo. Itu pun secara kebetulan terucap oleh mama mertua Endah yang agak marah karena Andre tidak belikan sesuatu sesuai pesanan cucu. “Gimana opa Malo gak bawa pesanan cucu?”

Tentu saja Iren kaget karena yang nama Malo biasanya dari Sumba. Kemudian setelah ditelusuri lebih jauh lewat tanya-jawab tentang silsilah Paul, maka diketahui pula bahwa ayah Andre yang bernama Bagus dalam KTP ternyata nama kecilnya Bora, anak dari Lobo.

Silsilah Paul keturunan Dangu disampaikan Iren kepada keluarga. Nono, ayah Iren terkejut dan pukul testa karena anaknya kawin dengan musuh. Bani yang adalah kakek dari Nono dan Nono adalah ayah Iren saudara kandung dengan Lobo yang adalah kakek dari Malo dan Malo adalah ayah Paul. Karena itu, disimpulkan, Paul kawin dengan saudari sendiri.

Tidak malukah Paul dan Iren yang ternyata bersaudara? Sama sekali tidak! Dengan bangganya mereka menyambut dengan suka cita, bahwa perkwinan mereka sebagai perkawinan dalam misi damai persetujuan dan suruhan leluhur.

Apa benar? Ya, karena Paul dan Iren melewati tahap perkenalan yang aneh tidak masuk akal. Iren TKW Malaysia pulang Sumba dengan transit Denpasar. Sebelum melanjutkan perjalanan Iren beranjang sana ke pantai Kuta dan secara sangat kebetulan Paul juga ada di sana.

Dari kejauhan Paul melihat Iren dengan penampilan melebihi ratu. Mata Paul mengikuti langkah demi langkah Iren berjalan di pantai Kuta. Dari belakang kepala terdengar suara ajakan dalam alunan angin sepoi tanpa wajah. Apakah itu suara leluhur?

“Paul, perempuan yang sedang berjalan di pasir putih dialah perempuan terbaik dalam hidupmu. Cepat dekati dan nyatakan cinta.”

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved