Berita Kota Kupang Hari Ini
Pengamat Laurensius : Banjir di Kota Kupang, Koordinasi Antara Birokrasi Tidak Berjalan Dengan Baik
kawasan pemukiman secara khusus di Kota Kupang yang berkembang pesat, itu kemudian secara masif mengurangi wilayah resapan
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Berto Kalu
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Pengamat Kebijakan Publik yang juga Dosen Fisipol Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang Dr. Laurensius Sayrani.MPA memberikan tanggapannya terkait banjir yang mengepung Kota Kupang pada Rabu, 23 Februari 2022.
Laurensius mengatakan, dalam pandangannya terkait kebijakan mengenai banjir yang terjadi di Kota Kupang ini, dipilah penyebabnya dalam 3 persoalan utama yang ia identifikasi.
Yang pertama ini persoalan kebijakan dan implementasi kebijakan, baginya banjir di Kota Kupang ini menandakan bahwa kita mempunyai problem terkait dengan desain kebijakan dan implementasi kebijakan terkait dengan penanganan dan penanggulangan banjir.
Baca juga: Pengrajin Sasando dan Gong, Herman Adolf Ledoh : Belajar Sendiri
"Hal ini bisa dilihat dari belum maksimalnya sistem perencanaan drainase perkotaan yang belum terkoneksi satu sama lain dan belum Jalan secara maksimal itu yang menyebabkan banjir masih terus terjadi sampai hari ini, " Ungkapnya kepada POS-KUPANG dalam sambungan telepon, Rabu 23 Februari 2022.
Lanjut Laurensius, Yang kedua masih dalam level kebijakan, menurutnya masih belum maksimalnya implementasi soal ruang terbuka hijau, kebijakan soal ruang terbuka hijau ini tidak cukup kuat implementasinya dalam mencegah masalah banjir.
Yang ketiga menurutnya, persoalan pada level birokrasi saya menyebutnya banjir ini sebagai penanda bahwa sinkronisasi dan koordinasi antar birokrasi itu tidak berjalan dengan baik.
Baca juga: Menkominfo : Stasiun Bumi di Kupang Bisa Tangkap Sinyal Satelit Satria Untuk Bali-Nusra
"Misalnya tidak sisinkron nya tentang perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, pembangunan drainase dan sampah semua itu tidak berjalan dengan baik, kalau kita punya sinkronisasi yang baik dan sifatnya antisipatif maka saya kira banjir bisa dikendalikan secara baik, " Jelas Laurensius
Ini cenderung menandakan bahwa aspek-aspek tadi bekerja secara fragmentatif dan ter sinkronisasi secara baik.
Dan yang terakhir ada pada masyarakat itu sendiri, kita harus akui dengan meningkatnya kawasan pemukiman secara khusus di Kota Kupang yang berkembang pesat, itu kemudian secara masif mengurangi wilayah resapan air.
Disisi lain masalah sampah kita juga harus akui juga membuang sampah tidak pada tempatnya, sampah menumpuk dimana-mana tanpa ada tata pengelolaan sampah yang baik, itu juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya banjir.
Baca juga: Viktor Doddy Sasi Cmf Bicara Soal Pengunduran Diri Uskup
Bagi saya masalah banjir di Kota Kupang harus berkaca pada 3 klaster persoalan itu.
Sementara itu Akademisi dari Universitas Muhammadiyah Kupang, Dr Ahmad Atang, MSi mengatakan dalam beberapa hari ini memang intensitas hujan cukup tinggi dengan durasi waktu yang relatif panjang melanda Kota Kupang
Kondisi ini menimbulkan banjir hampir merata melanda Kota Kupang. Ruas jalan di Kota telah dipenuhi oleh luapan banjir yang menyebabkan para pengguna jalan mengalami kesulitan melewatinya.
"Fenomena ini di satu sisi harus dimaknai sebagai kejadian alamiah, namun pada sisi yang lain dapat dikatakan sebagai bagian dari ketidaksiapan kita dalam mengantisipasi situasi terburuk akibat musim barat atau musim penghujan, " Ungkap Ahmad.
Baca juga: Marciana Jone Tanda Tangan Kerjasama Kontrak dengan 15 Organisasi Bantuan Hukum
Dikatakan, persoalan banjir lebih disebabkan oleh kebijakan infrastruktur jalan, dan drainase yang belum tuntas dikerjakan oleh pemerintah Kota Kupang.
"Di beberapa tempat sedang dikerjakan jalan dan drainase lebih parah terkena dampak banjir, bahkan daerah yang rasa sudah aman justru mengalami nasib yang sama. Ini menunjukkan bahwa pola pembangunan infrastruktur perlu dievaluasi agar ke depan banjir di Kota Kupang dapat ditekan atau diminimalisir. Kebijakan pembangunan sebagai jawaban untuk mengatasi banjir jangan sampai menciptakan banjir dikarenakan salah desain, " Jelas Ahmad.
Selain itu, menurut Ahmad, kali yang merupakan jalannya banjir yang melewati pemukiman penduduk belum ditata secara baik sehingga sedikit saja hujan banjir akan meluap ke pemukiman.
Pemerintah perlu menata kembali kali dalam kota yang juga menjadi penyebab meluapnya banjir. Hal ini penting karena jalur pembuangan air dari drainase justru ke kali, sementara kondisi kali tidak mampu menampung sehingga bisa meluap ke jalan dan pemukinan.
Sumber banjir selain yang disebutkan di atas juga perilaku hidup sehat masyarakat yang belum membudaya.
Cara membuang sampah disembarang tempat justru menimbulkan masalah yang merugikan. Oleh karena itu, pemerintah perlu memaksimalkan peran RT/RW untuk mengelola sampah rumah tangga secara baik (*)