Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Selasa 26 Oktober 2021: Kerajaan Allah
Kerajaan Allah begitu sentral bagi Yesus, sehingga Karl Rahner bisa menyimpulkan, "Yesus mewartakan Kerajaan Allah, bukan diri-Nya sendiri".
Renungan Harian Katolik Selasa 26 Oktober 2021: Kerajaan Allah (Lukas 13:18-21)
Oleh: RD. Fransiskus Aliandu
POS-KUPANG.COM - Tema utama pewartaan Yesus di bumi adalah "Kerajaan Allah".
Injil sinoptik meringkaskan pengajaran dan pewartaan Yesus dengan kata-kata: "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!" (Mrk 1:14-15; Mat 4:17; Luk 4:43).
Kerajaan Allah begitu sentral bagi Yesus, sehingga Karl Rahner bisa menyimpulkan, "Yesus mewartakan Kerajaan Allah, bukan diri-Nya sendiri".
Namun Kerajaan Allah adalah sesuatu yang sangat asing bagi manusia. Amat sulit untuk digambarkan dengan kata-kata.
Menariknya, Yesus banyak kali menggunakan ilustrasi sederhana, biasa, dan nyata dalam hidup.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Sabtu 23 Oktober 2021: Kebijaksanaan Pohon Ara
Walau terkesan ada keanehan. Tapi justru di situlah letak pesan penting yang mau mengungkap kerahasiaan Kerajaan Allah.
"Kerajaan Allah itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya. Biji itu tumbuh dan menjadi pohon, dan burung-burung di udara bersarang di ranting-rantingnya."
Benih ditaburkan di tanah oleh penabur. Selesai ditaburkan sang penabur seakan tak lagi menyibukkan diri kayak petani cabai, tomat, atau sawit. Ia entah ke mana.
Tapi benih itu tumbuh lho. Dengan sendirinya. Proses pertumbuhannya pun nampak. Ia menjadi pohon yang besar. Karena dikatakan bahwa burung-burung di udara berdatangan, bersarang pada cabang-cabangnya.
Nampak aksentuasi diletakkan Yesus pada benih itu "tumbuh dengan sendirinya".
Ini jelas mengungkapkan bahwa Kerajaan Allah itu memang benih unggul. Ia tetap akan tumbuh kalau sudah ditaburkan. Lho siapa dulu penaburnya?
Namanya saja sudah ketahuan. Bukan imperium Romawi. Bukan kerajaan Inggris. Bukan kerajaan minyak atau properti. Tapi "Kerajaan Allah". Pastilah benih itu dari Allah dan Sang Penabur tak lain tak bukan, yakni Yesus sendiri.
Sebagai benih unggul, Kerajaan Allah bukan hanya perkara "tumbuh dengan sendirinya", melainkan juga "tumbuh dan menjadi besar".
Baca juga: Renungan Harian Katolik Senin 25 Oktober 2021: Berper-hati-an
Itu artinya, proses pertumbuhannya pasti. Bisa tahap demi tahap. Bisa saja cepat. Walau diganggu, dihambat, dihimpit sana sini, ia tetap akan menjadi besar. Tak mungkin "hama" atau apa pun yang bisa menghentikan tumbuhnya.
Benih itu bakal menjadi pohon yang besar dengan cabang-cabang yang kokoh. Semua burung berdatangan dan sangat senang dan nyaman bertengger padanya.
Burung pipit, tekukur, elang, kasuari, pelikan, penguin, albatros, rajawali ... ya tak terkecuali.
Itulah Kerajaan Allah. Ia akan menjadi kediaman semua orang yang datang mencari naungan dan kedamaian.
Tak ada lagi perselisihan, konflik, dan permusuhan. Tak lagi dikenal mangsa memangsa. Ibarat "Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama. Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk" (bdk. Yes 11:6-9).
Bermenung tentang ilustrasi yang diberikan Yesus, kita setidaknya bisa katakan bahwa benih Kerajaan Allah yang ditaburkan itu sebenarnya perihal nilai-nilai baik.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Kamis 21 Oktober 2021: Risiko
Nilai-nilai itulah yang ditaburkan di bumi ini. Di "kebun atau ladang" yang menjadi milik Tuhan.
Kita sebaiknya memaknai keluarga, rumah tangga, sekolah, rumah sakit, kring atau lingkungan, perkumpulan, partai, perusahaan, atau apa pun tempat kita berpijak, berada dan hidup sebagai kebunnya Tuhan.
Max Scheler katakan bahwa manusia tidak menciptakan nilai-nilai, melainkan menemukan nilai. Dan, manusia wajib melakukan sesuatu demi untuk mencapai sesuatu yang baik.
Yang baik itu adalah nilai. Manusia, katanya, dapat saja buta terhadap beberapa nilai, seperti mata di tempat gelap memerlukan waktu untuk melihat apa yang ada di sekelilingnya.
Demikianlah, mata hati manusia harus membiasakan diri untuk melihat nilai. Begitu ia menyadari sebuah nilai, kebernilaiannya tampak dengan sendirinya.
Kita sebisanya melihat dan menemukan nilai-nilai baik yang Tuhan taburkan di "kebun" di mana kita berada. Nilai-nilai itu takkan pernah dan takkan bisa mati.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Selasa 26 Oktober 2021: Langkah Kecil dengan Cinta Besar
Persoalan lebih pada diri kita. Apakah kita mampu "melihatnya" tumbuh dan menjadi besar dalam "kebun" di mana kita hidup, sehingga pada saatnya nanti kita bersama yang lain bisa hidup nyaman, tenang dan damai di dalamnya.*
Teks Lengkap Bacaan Renungan Katolik 26 Oktober 2021:
Bacaan 1: Roma 8:18-25
Seluruh makhluk dengan rindu menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan
Saudara-saudara, aku yakin penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.
Sebab dengan amat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan.
Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan karena kehendaknya sendiri, melainkan oleh kehendak Dia yang telah menaklukkannya.
Tetapi penaklukan ini dalam pengharapan, sebab makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan, dan masuk ke dalam kemerdekaan mulia anak-anak Allah.
Kita tahu, sampai sekarang ini seluruh makhluk mengeluh dan merasa sakit bersalin; dan bukan hanya makhluk-makhluk itu saja!
Kita yang telah menerima Roh Kudus sebagai kurnia sulung dari Allah, kita pun mengeluh dalam hati sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.
Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan lagi pengharapan.
Sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang sudah dilihatnya?
Tetapi kalau kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, maka kita akan menantikannya dengan tekun.
Demikianlah Sabda Tuhan
Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan: 126:1-6
Refr.: Aku wartakan karya agung-Mu, Tuhan, karya agung-Mu karya keselamatan
1. Ketika Tuhan memulihkan keadaan Sion, kita seperti orang-orang yang bermimpi. Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tawa-ria, dan lidah kita dengan sorak-sorai.
2. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa, "Tuhan telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!" Tuhan telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita.
3. Pulihkanlah keadaan kami, ya Tuhan, seperti memulihkan batang air kering di Tanah Negeb! Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.
4. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.
Bait Pengantar Injil: Matius 11:25
Terpujilah Engkau, Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab misteri Kerajaan Kaunyatakan kepada orang kecil.
Bacaan Injil: Lukas 13:18-21
Biji itu tumbuh dan menjadi pohon
Ketika mengajar di salah satu rumah ibadat, Yesus bersabda, “Kerajaan Allah itu seumpama apa? Dengan apakah Aku akan mengumpamakannya?
Kerajaan Allah itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya.
Biji itu tumbuh dan menjadi pohon, dan burung-burung di udara bersarang di ranting-rantingnya.”
Dan Yesus berkata lagi, “Dengan apakah Aku akan mengumpamakan Kerajaan Allah?
Kerajaan Allah itu seumpama ragi, yang diambil seorang wanita dan diaduk-aduk ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai seluruhnya beragi.”
Demikianlah Injil Tuhan
Terpujilah Kristus
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/fransiskus-aliandu-rd.jpg)