Minggu, 17 Mei 2026

Opini Pos Kupang

Teologi Sosial John Prior Senandung 75 Tahun

Sebelum mengetahui sekilas tentang John, artikel ini saya tulis dalam rangka hari ulang tahun John Prior yang ke-75 pada 14 Oktober 2021

Tayang:
Editor: Kanis Jehola
Dok Pos-Kupang.Com
Logo Pos Kupang 

Oleh: Kris Ibu (Tinggal di Wisma Fransiskus Ledalero, Maumere)

POS-KUPANG.COM-Sebelum mengetahui sekilas tentang John, artikel ini saya tulis dalam rangka hari ulang tahun John Prior yang ke-75 pada 14 Oktober 2021.

Riwayat hidup dan karya John Prior disarikan dari buku "Merambah ke Segala Arah" (Maumere: Penerbit Ledalero, 2020) editortnya Hsu Monica dan buku "Menerobos Batas-Merobohkan Prasangka", Jilid I dan II (Maumere: Penerbit Ledalero, 2011) editornya Paul Budi Kleden dan Robert Mirsel.

John Mansford Prior lahir dari pasangan Vincent Thomas Prior dan Kathleen Mary Mansford di Ipswich, Inggris, pada 14 Oktober 1946.

Anak laki-laki kelima dalam keluarga ini menempuh studi Filsafat dan Sosiologi di Donamon Castle, Irlandia (1965-1968), Teologi dan Antropologi Sosial di Missionary Institute London, Inggris (1968-1972), meraih gelar Graduate Diploma in Religius Education dari Universitas Cambridge, Inggris (1973), lalu PhD dalam Teologi Interkultural dari Universitas Birmingham, Inggris (1987).

Pemakalah dalam lebih dari 165 Simposium, Konferensi dan Lokakarya ini pernah menjabat sebagai Pontifical Council for Colture-PCC (Penasihat Dewan Kepausan untuk Kebudayaan) selama 15 tahun (1993-2008).

Adapun PCC ini didirikan oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1982. Beliau juga mendampingi Musyawarah Umum (Kapitel) beberapa Tarekat Biarawan/wati di kawasan Asia, dan ret-ret bagi Imam, Religius, dan Awam.

Selain menjadi Anggota Dewan Penyunting Asians Horizons (Bangalore, India) sejak 2014 hingga kini dan Anggota Dewan Penyunting Asians Chsristians Studies (Chennai, India) sejak 2016 hingga kini, Pastor dan Biarawan Societas Verbi Divini-Serikat Sabda Allah (SVD) ini juga menjadi Dosen di ST Atma Reksa, Ende (1990-1997), Dosen tamu di Yarra Theological Union Melbourne, Australia (1990-2009), Dosen tamu di STKIP St. Paulus Ruteng (1993), Dosen tamu di STFT Fajar Timur, Abepura (1996), Tamu Akademik di Melbourne Univercity, Australia (1997-2009), Dosen tamu di Catholic Theological Union, Chicago (1998), Asosiat Peneli Monash University, Australia (2007-2009), Peneliti Kehormatan Melbourne University of Divinity, Australia (2011-kini), Dosen tamu Program Pascasarjana Universitas Kristen Maluku (2014), Staf Pengajar dalam Forum Teologi Asia, Manila (2015), dan Staf Pengajar dalam Kursus Pembaruan di EAPI, Manilsa (2020).

Hingga tahun 2020, John adalah penulis tujuh buku, 145 artikel dalam jurnal (44 artikel diterbitkan dalam dua hingga enam bahasa), 79 bab dalam buku bunga rampai (ditambah 28 bab yang pernah terbit sebagai artikel dalam jurnal -total 104 bab dalam bunga rampai), peyunting 47 buku (38 dalam bahasa Indonesia, delapan dalam bahasa Inggris, dan dua dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Masing-masing dari enam buku tersebut terbit dalam dua atau lebih jilid).

Sejak tahun 1987 hingga kini, John Prior adalah Dosen di STFK Ledalero dan tinggal di Pusat Penelitian Candraditya, Maumere.

Teologi Sosial John Prior

John adalah seorang teolog sosial Katolik. Refleksi iman yang ia hasilkan selalu dituangkan dalam bentuk keterlibatan kepada mereka yang rentan yang lemah. Hal itu ia buktikan lewat pendampingan bagi kaum ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) di Maumere dan syering Kitab Suci yang rutin dengan para tahanan di Rutan Maumere.

Dalam salah satu kesempatan lokakarya bertema "Mendengar untuk Menjernihkan Keputusan" pada Jumat (26/2/21) di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, John memberikan sebuah horizon baru bagaimana daya dalam diri setiap orang mesti diimplementasikan dalam bentuk mendengar dengan seksama keluh kesah sesama yang menderita.

Dimensi reflektif-kontemplatif seseorang sejatinya merupakan sebauh upaya terus-menerus untuk mencari kehendak Allah dalam cita-cita misioner. Dalam perkataan lain, refleksi mesti membuahkan aksi, dan sebaliknya. John melukis dengan sangat indah bahwasanya seorang beriman kristiani sepatutnya mengendus-endus jejak Allah dalam kehidupan masyarakat.

Setiap orang beriman hendaknya menjadi "pemikir, serentak pencetus kiblat baru dalam karya kerasulan-misioner."

Ia tidak melihat gelar akademik sebagai sebuah status yang patut dibanggakan. Justru, gelar akademik tersebut mesti diabdikan bagi masyarakat.

Tidak hanya sampai di situ. Dalam kuliah Teologi Sosial, John mengajak para mahasiswanya untuk terlibat dalam kehidupan konkrit masyarakat.

Teologi Sosial dalam pandangan John, mesti mengantar mahasiswa untuk mengesampingkan keegoisan diri, serentak membangun relasi sosial yang adil antarmanusia. Mengenai hal ini, Alexander Dancar dalam artikelnya berjudul "Teologi Sosial dan Provokasi Melawan Penjinakan", menulis:

"Kuliah Teologi Sosial tidak diperlakukannya hanya sebagai media sosialisasi ajaran sosial Gereja (Katolik). Ia justru `memprovokasi' para mahasiswa untuk menggunakan ajaran sosial Gereja sebagai spirit untuk terlibat dalam kehidupan konkret manusia (para mahasiswa dibagi dalam kelompok berdasarkan `opsi keterlibatan' sesuai kategori kehidupan yang dijalani umat di sekitar STFK Ledalero dan kota Maumere); terlibat dalam mengkritisi (mendiskusikan) konsep-konsep teologis yang pernah tampil dalam sejarah Kristianisme, terutama gagasan-gagasan yang memuat penjinakan bagi umat Kristen khususnya dan umat manusia pada umumnya" (Menerobos Batas-Merobohkan Prasangka: Penerbit Ledalero, 2020, jilid II: hlm. 321).
Ini tentu menarik. John mencoba menarik simpul antara teori dan praksis.

Teologi sebagai sebuah refleksi iman mesti diimplementasikan dalam kehidupan. Teologi tidak ditangguhkan menjadi sebuah dogma yang abstrak, melainkan dihidupi dan diresapkan dalam konteks dan situasi masyarakat. Teologi yang sejatinya sepatutnya mendorong setiap orang untuk membuka ruang dialog yang membebaskan manusia.

Teologi Sosial John ini, seperti ditandaskan Alexander Dancar, memiliki dua makna sekaligus. Pertama, kognitif-deliberatif. Itu artinya, teologi sosial mesti membebaskan manusia dari keterbelengguan hidupnya.

Untuk mencapai itu, setiap orang tidak hanya tinggal dalam menara gading teologis, tetapi juga terlibat dalam situasi masyarakat dengan seluruh kemampuan diri dengan cara melihat, mendengar dan merasakannya.

Dengan lain perkataan, "meditasi dan kontemplasi teologis harus dibangun dibangun di atas pengalaman keterlibatan itu sendiri." Kedua, profetis-provokatif. Teologi sosial yang dianut John memberikan sebuah optio fundamentalis kepada mereka yang rentan dan menderita.

Ia selalu berada pada posisi orang kecil dan lemah untuk membantu mereka mengkritisi segala kebijakan pastoral yang acapkali menjinakkan bahkan membelenggu umat.

Tidak sampai di situ, John menggunakan analisis sosial untuk melihat sebuah persoalan yang terjadi, membuka tabir persoalan itu secara efektif agar semua orang dalam lingkup tertentu mengenal dan menyadari persoalan tersebut, menyuarakannya secara profetis dan bertindak provokatif, seperti memanggil massa untuk terlibat dalam praksis pembebasan manusia melalui aksi demonstrasi.

Harapan paling penting dari suara profetis ini adalah pihak yang bertanggung jawab merasa terdesak untuk mempertanggungjawabkan persoalan yang terjadi dalam masyarakat (Alexander Dancar, ibid., hlm. 322-323).

Di sini dapat dilihat bahwa John menyadari pentingnya option for the poor. Pilihan ini menjadikannya sebagai pribadi yang bebas dari kecenderungan untuk dijinakkan oleh teologi itu sendiri. Singkatnya, John menolak tunduk pada dogma teologis yang kaku, serentak menjadi subjek teologi yang bebas.

Hal ini dapat kita temui dalam artikel yang ditulis oleh Mgr. Edwaldus Martinus Sedu berjudul "Sejarah, Jejak Langkah dan Jembatan Kemanusiaan: Teladan `Tolak Tunduk' Pastor John Mansford Prior, SVD". Edwaldus menulis dengan sangat indah, sebagai berikut: "John adalah seorang misionaris dan ilmuwan yang berani dan mengagumkan, yang tidak saja hebat secara teoretis, yang tidak sekedar terpaku pada status gelar akademik yang mentereng dengan segala karyanya, melainkan lebih dari itu, menjadikan kontemplasi `tolak tunduk' untuk terus mencari makna kebenaran yang sesungguhnya dalam pengalaman hidup setiap hari" (Merambah Ke Segala Arah, op.cit., hlm. 6).

Pesan bagi Kita

Teologi Sosial yang dianut dan dikembangkan oleh John Prior ini hendaknya menggugat, merangsang hati nurani kita untuk terlibat dengan orang yang miskin dan menderita. Pilihan untuk terlibat ini merupakan panggilan kemendesakan akan pentingnya kemanusiaan.

Apalagi saat ini kita masih berada dalam pusaran pandemi Covid-19. Setiap orang diharapkan untuk menempatkan opsi bagi mereka yang menderita karena terdampak pandemi. Mereka yang menderita selalu menanti uluran kemanusiaan dari setiap kita.

John Prior mengajak kita semua untuk melihat secara jernih dan kritis setiap persoalan yang terjadi dalam masyarakat setiap hari, serentak mengambil sikap untuk menolong mereka yang rentan dieksploitasi karena pelbagai kebijakan yang diciptakan acapkali membelenggu mereka.

Selamat memasuki usia yang ke-75 untuk John Prior. Panjang umur perjuangan kemanusiaan. *

Baca Opini Pos Kupang Lainnya

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved