Banyak Kaum Muda Menerima dan Menyebar Konten Kebencian
Banyak Kaum Muda Menerima dan Menyebar Konten Kebencian. Bahkan, pemuda menjadi sasaran empuk paham-paham radikal melalui media.
Ia mengatakan, Pancasila sebagai ideologi sejatinya tidak perlu dipelajarai karena Pancasila adalah jiwa dari setiap anak bangsa. “Kita punya yang namanya Pancasila sebagai ideologi, tidak perlu saya pelajari karena dia adalah jiwa saya, setiap hembusan nafas yang saya keluarkan itu adalah Pancasila,” ujarnya.
Dengan adanya ideologi Pancasila kemudian dituangkan dalam peran pemuda dalam melalui kekuatan moral, kontrol sosial dan agen perubahan agar pemuda bisa mengaktualisasikan Pancasila melalui media cetak-elektronik.
“Berapa banyak di antara kita satu hari diposting di facebook terkait semangat Pancasila, atau tulisan, bicara mengenai nilai Pancasila. Ini pertanyaan refleksi. Kita bicara aktualisasikan nilai Pancasila jangan bertanya ke orang lain, tapi diri kita masing-masing,” ujarnya.
“Contoh pagi-pagi, terima kasih Tuhan, itu sudah aktualisasikan, Pancasila ada di dalam jiwa kita,” sebutnya menambahkan.
Herman Josi Mukalu melalui zoom meting pada kesempatan itu memotivasi mahasiswa agar membuat konten-konten kreatif yang menumbuhkan semangat Pancasila. Menurutnya, saat ini masih banyak generasi muda yang masih mencari jati diri, sehingga mudah disusupi pikiran-pikiran intoleran bahkan radikal.
Dikatakan, keluarga sebagai tempat untuk menumbuhkan nilai-nilai Pancasila. Tetapi, situasi dan lingkungan juga ikut memengaruhi dan memberi kontribusi terhadap nilai-nilai tersebut.
Salah satu hal yang menjadi penting untuk menumbuhkan nilai Pancasila adalah dengan gotong-royong. Sebab, menurutnya sejak dahulu para pendiri bangsa ini bahu'membahu menyusun Pancasila bahkan jauh sebelumnya tahun 1928, Budi Utomo.
Ia mengajak, agar para generasi milenial bisa menabur kasih dalam setiap aspek kehidupan agar tidak mudah saling menuduh, menghakimi.
Deputi Bidang Pengendalian BPIP, Dr. Rima Agistina S.H., S.E., M.M ketika membuka webminar tersebut menyatakan, generasi milenial saat ini sangat melek terhadap perkembangan teknologi. Namun demikian, perlu diingatkan agar bisa menjaga nilai-nilai Pancasila.
Rima menyebut, di ruang fisik ada norma dan tata cara sebagai konsensus dalam berbangsa. Demikian juga di ruang digital, seseorang berada dalam kebebebasan tanpa batas, tidak ada norma-norma yang harus dipatuhi sebagai konsensus berbangsa dan bernegara.
Karena itu, ia berharap melalui webminar tersebut para mahasiswa yang adalah generasi milenial dapat merawat nilai luhur Pancasila. Dikatakan, " Ssaat ini kita sedang berada pada perkembangan dunia yang dinamis, ditandai dengan banyak informasi yang menyerbu handphone hingga ke ruang pribadi."
Karena itu, dibutuhkan kesiapan dan kewaspadaan untuk memertahankan hal-hal yang bersifat pribadi agar tidak menjadi milik public. Hal tersebut dapat dilakukan ketika para generasi milenial mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila.
Sementara Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Dr. Siprianus Suban Garak, M. Sc, dalam sambutannya menegaskan, dengan adanya webminar tersebut diharapkan dapat menumbuhkan semangat para mahasiswa agar mampu menghadapi tantangan zaman, terutama pandemi Covid-19.
Ia menyebut, webminar tersebut sangat penting agar generasi milenial dan z mampu membedakan ideologi Pancasila dan ideologi dari negara lainnya.
“Jangan sampai kita tidak bisa bedakan ideologi Indonesia dan luar negeri. Jadi butuh wawasan kebangsaan yang kuat agar kita tidak terjerumus dalam radikalisme,” ungkapnya.