Banyak Kaum Muda Menerima dan Menyebar Konten Kebencian
Banyak Kaum Muda Menerima dan Menyebar Konten Kebencian. Bahkan, pemuda menjadi sasaran empuk paham-paham radikal melalui media.
“Kita ini orang yang eksotik, berlebihan pamer diri, maka gampang kena tipu daya, karena data pribadi sudah tersedia. Maka gampang terjadi muda diperdaya,” ungkapnya.
Karena itu, menurutnya, kedasaran literasi media juga sangat penting. Hal ini agar mudah merebut ruang public dan wacana public. Untuk itu, pihaknya mengajak mahasiswa agar menawarkan konten positif, semisal membuat film pendek inspirasi budaya, makanan tradisional, kegiatan kampus, dan lainnya. “(Tinggal) bagaimana konten positif dinarasikan dan dikomodifikasi menjadi nilai tambah terhadap kesenian, tradisi. Misalnya di Sumba ada pacuan kuda, karena orang terkagum melihat ritual yang terjadi,” bebernya.
Untuk mengaktualisasikan nilai Pancasila, menurutnya, hal itu harus dimulai dari keluarga, kebijakan public dan pendidikan. Undana menurutnya, harus menjadi pusat peradaban dan urat nadi Pancasila. “Pancasila lahir di Ende, maka Undana jadi pusat peradaban dan nadi Pancasila. Undana punya moralitas untuk menyebar nilai Pancasila,” tuturnya.
Dr. Petrus Ly dalam paparannya menegaskan, orang mudah menerima paham-paham radikal karena masih berperilaku primitif. Menurutnya, ciri orang berperilaku primitif adalah suka akrab dengan penghinaan, bully, tidak masuk akal dan cenderung radikal.
Meski sesoorang berpendidikan tinggi, namun masih berperilaku primitif, karena belum mengalami perubahan perilaku, baik cerdas secara sosial, spiritual, emosional dan sosial. Karena itu, sambung dia, dunia pendidikan, termasuk perguruan tinggi, sebagai wadah dimana mahasiswa meninggalkan perilaku primitif.
Dikatakan, mahasiswa sebagai kaum intelektual dan berpikir ilmiah, namun kerap masih mengutamakan intuisi.
“Lucu kalau mahasiswa yang adalah orang-orang beridealisme dan ilmiah menjadi pengguna di medsos yang menimbulkan kekacauan dan permusuhan,” ungkapnya.
Ly menyebut, di tangan generasi muda Pancasila dipertaruhkan. Karena itu, jika Indonesia gagal, maka generasi muda harus menyalahkan diri sendiri, bukan orang lain. Ia mamaparkan, aktualisasi nilai-nilai Pancasila di dunia kampus harus dimulai dari pimpinan perguruan tinggi, mulai dari rektor, wakil rektor, hingga kepada mahasiswa. Tugas pimpinan kampus dalam mengaktualisasikan nilai Pancasila menurutnya adalah dengan menolong mahsiswa dari berbagai kesulitan da tidak membuat aturan dan norma yang tidak bertiolak belakang dengan pancasila.
Sebab, mahasiswa bukan sebagai obyek semata dalam dunia kampus. Demikian juga pegawai, harus membangun budaya melayani dengan hati, adil, toleran, dan mengedepankan humanisme dalam pelayanan public.
Yunus P. S. Bunreni, S.H., M. Hum dalam paparannya menegaskan, Pancasila tidak seharusnya dipelajari, sebab Pancasila sudah menjadi jiwa segenap bangsa Indonesia. Ketika berbicara mengenai pemuda, maka tidak terlepas dari bingkai dan tatanan perundang-undangan yang berlaku.
Karena itu, ungkap Bureni, pemuda memiliki hak untuk mengembangkan diri, berbicara dan berinovasi karena pemuda adalah kelompok orang yang tak mau dibatasi.
Ia menyatakan pemuda memiliki tiga peran, yakni pertama, pemuda sebagai kekuatan moral yang menumbuhkan aspek etik dan moralitas dalam bertindak dalam setiap dimensi kehidupan. Pemuda perlu memperkuat iman dan takwa serta ketahanan mental spiritual dan meningkatkan kesadarn hukum.
Kedua, kontrol sosal, yakni memperkuat wawasan kebangsaan, membangkitkan kesadaran atas tanggung jawab hak dan kewajiban sebagai warga negara, serta membangkitkan sikap kitis terhadap lingkungan dan penegakan hukum.
“Ketika kita bicara medsos tadi, maka di mana peran kita sebagai orang muda, untuk awasi atau sebagai kotrol sosial,” ujarnya.
Ketiga, sebagai agen perubahan, pendidikan politik dan demokratisasi yang kemudian diaktualisasikan dalam lima sila tersebut.