Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Kamis 30 September 2021: Bertahan di Tengah Serigala
Hari ini Yesus mengutus 70 murid mewartakan misi-Nya ke seluruh dunia. Basis perutusan itu adalah “Tuaian memang banyak tapi pekerja sedikit”
Renungan Harian Katolik Kamis 30 September 2021: Bertahan di Tengah Serigala (Luk 10: 1-12)
Oleh: Pater Steph Tupeng Witin SVD
POS-KUPANG.COM - “Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala” (Luk 10: 3).
Hari ini Yesus mengutus 70 murid mewartakan misi-Nya ke seluruh dunia. Basis perutusan itu adalah “Tuaian memang banyak tapi pekerja sedikit” (Luk 10:2).
Yesus memulai perutusan itu dengan kata perintah, “Pergilah.”
Makna yang terkandung dalam kata perintah itu adalah berjalan melakukan pekerjaan misi dibawah otoritas Allah (to lead away under someone’s authority).
Tugas perutusan itu berasal dari Allah. Tapi konsekuensi dan risiko perutusan sangat besar.
Para murid itu pasti menghadapi banyak tantangan yang membahayakan keselamatan hidup. Korban terakhir adalah diri dan hidup.
Maka setelah kata perintah “pergilah”, Yesus melanjutkan dengan kalimat “sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala” (Luk 10:3).
Baca juga: Renungan Harian Katolik Rabu 29 September 2021: Partisipasi
Domba adalah binatang yang lemah dan tidak memiliki kekuatan.
Sementara serigala adalah binatang buas yang sangat ganas. Namun, ketika berada dalam lindungan gembala, kawanan domba tersebut akan aman, meskipun dikepung gerombolan serigala ganas.
Saat perutusan itu, Yesus telah mengingatkan para murid bahwa Dialah yang mengutus. Yesus adalah Gembala mereka.
Setiap bahaya, tantangan dan kesulitan akan mereka lalui dengan aman dalam “pelukan” Sang Gembala.
Syaratnya hanya satu: domba tidak boleh membelot keluar dari kawanan gembalaan.
Domba harus tetap setia berjalan dalam tuntunan Sang Gembala.
Yesus menggambarkan murid-murid-Nya seperti domba-domba yang lemah, sementara kekuasaan dunia digambarkan seperti serigala ganas yang siap memangsa.
Maka, para murid mesti selalu sadar bahwa kekuatan perutusan di tengah dunia bukan diri mereka tapi Kristus.
Hari ini, Yesus mengingatkan kita bahwa mengikuti Dia, apalagi melayani Dia berarti menjadi seperti “domba di tengah serigala.”
Sabda ini tentu menggentarkan kemanusiaan kita. Satu-satunya kekuatan kita adalah iman akan Kristus.
Tantangan dan bahaya dunia adalah realitas yang mesti kita hadapi dengan harapan pada kekuatan Kristus.
Mengandalkan kekuatan kemanusiaan kita identik dengan memasukkan diri bulat-bulat ke dalam liang mulut serigala buas.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Selasa 28 September 2021: Tetap Mengasihi
Tubuh kita akan dicabik-cabik tanpa kehormatan.
Sejarah hidup kita akan lenyap tanpa bekas. Nama kita mungkin masih membekas dalam ingatan orang tapi akhir hidup kita yang tragis dalam liang mulut serigala hanya akan menghadirkan trauma ketakutan dan teror kekerasan.
Selama perutusan itu para murid tidak boleh membawa apa-apa dalam perjalanan. Dulu, mungkin saja orang harus berjalan kaki menempuh perjalanan sangat jauh dan melelahkan sehingga tidak membawa banyak barang.
Zaman ini tentu beda sehingga tuntutan pun mesti dinamis dan realistis.
Tapi tuntutan Yesus ini menekankan lahirnya keberanian, hati yang sabar, pikiran yang kreatif dan selalu mengandalkan Allah dalam kondisi apa pun.
Tuhan tidak pernah membiarkan kita berjalan sendirian tertatih memikul beban.
Tuhan hadir melalui segenap pancaindera dan akal budi kita yang mesti setia dituntun oleh nurani yang tulus yang membuat kita tetap setia bertahan dalam represi kesulitan.
Ilmuwan Charles Darwin dan Herbert Spencer pernah mengemukakan sebuah teori dan ungkapan yang sangat popular yaitu “survival of the fittest” artinya yang bertahan hidup adalah mereka yang paling bisa beradaptasi.
Maka Yesus di tempat lain pernah mengingatkan kita agar menjadi “cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.”
Bagaimana hal itu akan mungkin? Ular itu binatang cerdik: Tahu bahaya, waspada, tidak teledor, tahu apa yang mesti diperbuat ketika ada ancaman.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Senin 27 September 2021: Beda Pola Pikir
Walaupun ular itu terkenal “ganas”, namun dia sebenarnya selalu menghindar dengan bersembunyi di balik batu dan tumbuh-tumbuhan ketika ada bahaya yang mengancam.
Kewaspadaan, kehati-hatian, kesiapsiagaan dan kecerdasan seperti inilah yang perlu kita hidupi. “Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka” (Ams 27:12).
Merpati itu “tulus”: (innocent: tidak berdosa, tulus; harmless: tidak berbahaya). Merpati itu tidak membahayakan kita, tidak menyerang, dan tidak provokatif.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Senin 27 September 2021: The Best & Award
Ketulusan, kejernihan hati dan pikiran, kecerdasan emosional dan spiritual, dan kemurnian motivasi seperti inilah yang perlu kita miliki untuk mendukung kecerdikan atau kecerdasan dalam menyikapi dan menghadapi situasi dunia kita yang penuh dengan tantangan dan ancaman keselamatan jiwa.
Mari kita belajar dari Anak Bajang, tokoh dalam Novel Anak Bajang Menggiring Angin karya Romo Sindhunata yang menjadi simbol ketidaksempurnaan yang selalu berjuang menghayati nilai-nilai menuju kesempurnaan yang tidak akan pernah diraihnya. Kita manusia adalah ciptaan Tuhan yang “sempurna.”
Semoga kita tidak menyia-nyiakan “kesempurnaan” kita untuk menghadirkan sukacita dan bahagia bagi semua orang dengan mengalahkan tantangan zaman karena percaya pada Tuhan, tidak mudah menyerah dan tetap berpikiran jernih.*
Teks Lengkap Bacaan Renungan Katolik 30 September 2021:
Bacaan I : Nehemia 8:1-4a.5-6.7b-12
Ezra membuka Kitab dan memuji Tuhan. Maka seluruh umat menjawab, "Amin! Amin
Sesudah kembali dari pembuangan, orang-orang Israel telah menetap kembali di kota-kota mereka.
Lalu pada bulan ketujuh berkumpullah seluruh rakyat di lapangan di muka Gerbang Air di Yerusalem.
Mereka meminta kepada Ezra, ahli kitab, supaya membawa Kitab Taurat Musa, yakni kitab hukum yang diberikan Tuhan kepada Israel.
Dan pada hari pertama bulan ketujuh itu Imam Ezra membawa Kitab Taurat itu ke depan jemaat, pria, wanita dan semua yang dapat mendengar dan mengerti.
Ia membacakan beberapa bagian dari kitab itu di halaman di depan Gerbang Air dari pagi sampai tengah hari di depan pria, wanita dan semua orang yang dapat mengerti.
Dengan penuh perhatian seluruh umat mendengarkan pembacaan Kitab Taurat itu.
Adapun Ezra, ahli kitab, berdiri di atas mimbar kayu yang dibuat khusus untuk peristiwa itu.
Ia membuka kitab itu di depan mata seluruh umat, karena ia berdiri lebih tinggi dari semua orang.
Pada waktu ia membuka kitab semua orang bangkit berdiri.
Lalu Ezra memuji Tuhan, Allah yang mahaagung, dan semua orang menjawab, “Amin! Amin,” sambil mengangkat tangan.
Kemudian mereka berlutut, dan sujud menyembah Tuhan dengan muka sampai ke tanah.
Para Lewi menjelaskan hukum itu kepada jemaat, sementara rakyat berdiri di tempatnya.
Bagian-bagian Kitab Taurat Allah dibacakan dengan jelas, dengan diberi keterangan-keterangan, sehingga pembacaan dimengerti.
Lalu Nehemia, kepala daerah, dan Imam Ezra, ahli kitab, serta orang-orang Lewi yang mengajar jemaat, berkata kepada seluruh hadirin, “Hari ini adalah kudus bagi Tuhan Allahmu. Kalian jangan berdukacita dan menangis!”
Karena semua orang itu menangis, ketika mendengar kalimat-kalimat Taurat.
Lalu berkatalah Nehemia kepada mereka, “Pergilah, makanlah sedap-sedapan dan minumlah minuman manis; dan berikanlah sebagian kepada mereka yang tidak sedia apa-apa! Sebab hari ini kudus bagi Tuhan kita. Janganlah bersusah hati, tetapi bersukacitalah karena Tuhan, sebab sukacita karena Tuhanlah perlndunganmu.”
Juga orang-orang Lewi menyuruh semua orang itu diam dengan kata-kata, “Tenanglah! Hari ini hari kudus. Jangan bersusah hati!”
Maka pergilah semua orang untuk makan dan minum, untuk membagi-bagi makanan dan berpesta ria, karena mereka mengerti segala sabda yang diberitahukan kepada mereka.
Demikianlah Sabda Tuhan
Syukur kepada Allah
Mazmur Tanggapan: 19:8-11
Refr.: Sabda-Mu ya Tuhan, adalah roh dan kehidupan
- Taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan Tuhan itu teguh memberikan hikmat kepada orang bersahaja.
- Titah Tuhan itu tepat, menyukakan hati; perintah Tuhan itu murni, membuat mata ceria.
- Takut akan Tuhan itu suci, tetap untuk selama-lamanya; hukum-hukum Tuhan itu benar, adil selalu.
- Lebih indah daripada emas, bahkan daripada emas tua; dan lebih manis daripada madu, bahkan daripada madu tetesan dari sarang lebah.
Bacaan Injil : Lukas 10:1-12
Semoga damaimu menyertai dia
Pada waktu itu Tuhan menunjuk tujuh puluh dua murid. Ia mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya.
Berkatalah Ia kepada mereka, “Tuaian banyak, tetapi pekerjanya sedikit!
Sebab itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, agar ia mengirimkan pekerja-pekerja ke tuaian itu.
Pergilah! Camkanlah, Aku mengutus kalian seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu, ‘Damai sejahtera bagi rumah ini’.
Dan jika di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal padanya.
Tetapi jika tidak, maka salammu kembali kepadamu.
Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya.
Janganlah berpindah-pindah rumah. Jika kalian masuk ke dalam sebuah kota dan diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ.
Dan katakanlah kepada mereka, ‘Kerajaan Allah sudah dekat padamu’.
Tetapi jika kalian masuk ke dalam sebuah kota dan tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu dan serukanlah, ‘Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di depanmu.
Tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat’. Aku berkata kepadamu, pada hari itu Sodom akan lebih ringan tanggungannya daripada kota itu
Demikianlah Injil Tuhan
Terpujilah Kristus
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pater-steph-tupeng-witin-svd.jpg)