Berita Sumba Timur
Kekeringan Mengancam, Pemerintah Kabupaten Sumba Timur Distribusi Air Bersih Bagi Warga
Kabupaten Sumba Timur menjadi satu dari 10 wilayah di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang berstatus awas terhadap ancaman bencana kekeringan berdasark
Laporan Wartawan POS-KUPANG.COM, Ryan Nong
POS-KUPANG.COM | KUPANG -- Kabupaten Sumba Timur menjadi satu dari 10 wilayah di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang berstatus awas terhadap ancaman bencana kekeringan berdasarkan rilis dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
Karena itu pemerintah daerah melakukan langkah antisipasi dengan mendistribusikan air bersih bagi warga di wilayah potensial terdampak.
Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumba Timur Hery Ratucore menyebut saat ini wilayah pantai utara Kabupaten Sumba Timur menjadi salah satu yang termasuk rawan kekeringan. Namun demikian, pihaknya masih melakukan pendataan secara komprehensif terkait wilayah yang mengalami kekeringan di Kabupaten Sumba Timur.
Pihak pemerintah daerah melalui BPBD, kata Hery, telah melakukan intervensi ke beberapa daerah yang mengalami kekeringan.
Baca juga: Danrem 161 Wirasakti Tinjau Pelaksanaan TMMD ke-112 di Rambangaru Kabupaten Sumba Timur
Hingga kini pihak BPBD telah rutin mendistribusikan air bersih ke Desa Palindi Tanabara Tanatuku, Desa Persiapan Hawurut, Desa Pambotanjara, Desa Persiapan Padadalu Makamenggit, serta Desa Praihabuli Praikarang. Selain itu, distribusi air bersih juga mulai dilakukan ke Kelurahan Prailiu, Kelurahan Kambaniru, Kelurahan Mauhau dan Kelurahan Mauliru.
"Masyarakat kita harapkan agar tetap waspada terhadap dampak kekringan seperti kebakaran hutan dan lahan. Selain itu, sedapat mungkin masyarakat agar lakukan penghematan penggunaan air bersih," ujar Ratucore saat dihubungi POS-KUPANG.COM, Rabu 22 September 2021.
Ancaman kekeringan juga menyebabkan beberapa areal persawahan tidak dapat ditanami. Hal tersebut diperparah perbaikan kerusakan Bendungan Kambaniru yang belum rampung pasca badai Seroja, April 2021 lalu.
Yunus Hanji Anduwacu, 51 tahun, petani di wilayah persawahan Kambaniru mengaku tidak dapat mengerjakan sawah pada musim ini. Warga Kelurahan Malumbi, Kecamatan Kambera itu menyebut dirinya biasanya mengerjakan sawah untuk tiga musim tanam setiap tahunnya.
"Tahun ini saya tidak bisa kerja sawah karena kondisi seperti ini. Sawah kering," ujar Yunus.
Saat ini, kata dia, keluarganya mengusahakan lahan di belakang rumah untuk menanam sayur dengan bantuan sumur siram. Selain berharap perputaran roda ekonomi dari usaha sayur, istrinya, Lusiana Kondalunga, 47 tahun juga menenun untuk menambah pendapatan keluarga.
Pantauan POS-KUPANG.COM pada Rabu, areal sawah di wilayah Kelurahan Kambera tampak kering. Dam serta selokan juga tidak dialiri air. (hh)