Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Rabu 22 September 2021: Relasi
Saya tak mungkin tidak berelasi, kalau saya mau hidup dan berkembang. Justru dalam berelasi dengan orang lain, saya menjadi manusia.
Di lain waktu saya memilih-milih dalam berelasi, berteman. Saya lebih suka berhubungan dengan konco-konco saya. Saya hanya mau bekerja sama dengan orang-orang yang seide atau yang gampang disuruh dan diperintahkan.
Maka, saya ingin merenungkan sungguh kata-kata pesan Yesus sendiri, “Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan. Jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju“ (Luk 9:3).
Artinya, saya harus mengosongkan diri saya. Saya tak boleh pikirkan hal yang lain, tak cemaskan apa pun, alias tanpa beban. Uang pun jangan dibawa, karena saya diutus kepada manusia dan berelasi dengan manusia.
Saya khan diutus untuk "memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang" (Luk 9:2). Saya adalah utusan Tuhan, sehingga Ia pasti melindungi dan mencukupkan hidup saya.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Senin 20 September 2021: Terang Dunia
Tak lupa saya perhatikan dengan saksama catatan Lukas ini , “Lalu pergilah mereka dan mereka mengelilingi segala desa“ (Luk 9:6).
Ungkapan ini sungguh menarik. Saya ingin mencontohi pada murid. Tidak mempertanyakan kemiskinan sarana. Tidak juga ketidakpandaian diri. Tidak juga cara bagaimana berelasi atau berkarya.
Yang penting saya harus bergegas pergi; pergi mendekati manusia dan mengurusinya agar orang dapat merasakan bahwa Tuhan berelasi dengannya; mengasihi dan berkarya baginya.
Saya berdoa, kiranya kuasa yang Tuhan berikan, bukan hanya untuk mengusir roh-roh jahat, tapi juga memampukan diri saya untuk mengatasi kelemahan diri saya sendiri. *
Teks Lengkap Bacaan Renungan Katolik 22 September 2021:
Bacaan I : Ezra 9:5-9
Dalam masa perbudakan, kami tidak engkau tinggalkan, ya Tuhan
Ketika mendengar berita tentang dosa umat Israel, aku, Ezra, mengoyakkan pakaian dan jubahku, dan duduk tertegun.
Pada waktu kurban petang bangkitlah aku dan berhenti menyiksa diri.
Lalu aku berlutut dengan pakaian dan jubahku yang koyak-koyak; sambil menadahkan tanganku kepada Tuhan, Allahku, aku berkata, "Ya Allahku, aku malu dan mendapat cela, sehingga tidak berani menengadahkan mukaku kepada-Mu.
Dosa kami telah menumpuk mengatasi kepala kami dan kesalahan kami telah membubung ke langit.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/fransiskus-aliandu-rd.jpg)