Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Selasa 21 September 2021, Pesta St. Matius, Rasul: Inovasi
Pemimpin yang inovator mampu membaca situasi "real time" yang dihadapi dan melihat pada diri orang yang dibutuhkan untuk bersama dia menjawabi situasi
Renungan Harian Katolik Selasa 21 September 2021, Pesta St. Matius, Rasul: Inovasi (Matius 9:9-13)
Oleh: RD. Fransiskus Aliandu
POS-KUPANG.COM - Kata inovasi, kreatif belakangan semakin sering terdengar di radio, televisi, maupun percakapan sehari-hari. Hal tersebut wajar terjadi mengingat situasi saat ini menuntut siapa pun untuk mencari cara agar bisa "survive" dan berkembang maju.
Inovasi adalah pemasukan atau pengenalan hal-hal yang baru, atau pembaharuan; usaha yang dilakukan oleh seseorang dengan mendayagunakan pemikiran, kemampuan imajinasi, berbagai stimulan, dan individu yang mengelilinginya agar tercipta peluang dan tertemukan cara baru saat berhadapan situasi blok, mandek.
Seorang inovator memiliki kemampuan untuk melihat peluang dan melahirkan ide baru. Ia jeli memilih sumber daya yang akan digunakan dan juga mempunyai keberanian untuk mewujudkan segala ide barunya itu menjadi sesuatu yang bermanfaat baginya dan bagi banyak orang lain.
Pemimpin yang inovator mampu membaca situasi "real time" yang dihadapi dan melihat pada diri orang yang dibutuhkan untuk bersama dia menjawabi situasi dan tuntutan kebutuhannya.
Ia mengesampingkan stereotipe yang melekat pada diri orang, tapi ingin mengubah lalu mendayagunakan kelebihan orang untuk mewujudkan cita-citanya. Ia mengubah kelebihan pribadi dan keterampilan orang dalam hal buruk menjadi sebuah kekuatan dalam hal yang baik.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Selasa 21 September 2021, Pesta Santo Matius: Tulisan Kasih
Pandangan dan strategi, pola, cara kerja yang biasa dan yang diagungkan adalah yang diandalkan orang-orang yang dilihat baik. Mereka inilah yang sering digunakan dalam berbagai keperluan.
Namun inovator punya strategi yang lain. Ia tak hanya menggunakan orang-orang baik, melainkan juga orang biasa, sederhana, bahkan yang belum baik, tapi mau berubah dan bisa diubah serta berpotensi besar dalam karya bersamanya, bisa mewujudkan cita-citanya.
Dalam perspektif ini, kita memaknai pesan dari kisah Yesus memanggil Matius, seorang pemungut cukai.
Di mata publik Matius itu bukan seorang yang baik. Memang ia adalah pegawai pajak, sebuah profesi yang memberinya status sosial yang tinggi.
Tapi sudah jadi rahasia umum bahwa profesinya itu sarat korupsi dan manipulasi berbaur intimidasi, tekanan, dan premanisme. Maka sudah barang tentu stereotipe sebagai orang berdosa sudah dicap pada dirinya.
Tapi siapa sangka, Yesus justru memanggilnya. "Ikutlah Aku" (Mat 9:9).Tentu tak boleh dikesampingkan bahwa pemanggilan dirinya, terkait misi Yesus yang datang untuk memanggil orang berdosa. "Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa" (Mat 9:13).
Namun haruslah direnungkan mendalam bahwa pemanggilan itu pun setidaknya lantaran Yesus melihat sesuatu yang "baik dan indah" dalam dirinya.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Senin 20 September 2021: Terang Dunia
Di mata Yesus, ada potensialitas yang dimiliki oleh Matius untuk jadi baik. Bahwa ia bisa diubah dan berubah. Ia bisa diandalkan dengan kualitas keterampilan dan keahliannya untuk membuat pewartaan kabar gembira menjadi menarik dan berdaya guna.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/fransiskus-aliandu-rd.jpg)