Opini Pos Kupang
Seroja, Apalah Arti Sebuah Nama?
Kejadian luar biasa yang menimpa wilayah NTT dan sekitarnya pada saat umat Kristiani sedang menjalani pekan Paskah 2021
Sementara penamaan badai tropika Atlantik yang sudah `disiapkan' untuk 2018 diantaranya Alberto, Beryl, Chris, Debby, Ernesto, Florensia, Gordon, Helena, Issac, Joyce, Kirk, Leslie, Michael, Nadine, Oscar, Patty, Rafael, Sara, Tony, Valerie, dan William.
Sebelumnya Ivan R Tannehill dalam bukunya `Hurricane' menamai badai terinspirasi dari nama-nama santa perempuan cantik dalam agama Katholik yang kelahirannya berdekatan dengan tanggal kejadian, semisal nama Santa Ana yang dipilih untuk menamai badai pada 26 Juli 1825 di Puerto Rico.
Sistem demikian juga diadopsi Nation Hurricane Center untuk menamai badai di wilayah Atlantik kemudian disempurnakan pada 1979 yang tidak hanya menamai dengan nama perempuan tapi juga nama laki-laki dengan sistem alfabetik.
Alhasil setiap tahun telah disiapkan 21 jatah nama namun bila badai lebih dari 21 maka selanjutnya akan didasarkan pada aksara Yunani, dan WMO dipercayakan untuk mengkoordinasikan penamaan dimaksud.
Penamaan juga harus memenuhi visi awal pemberian nama yaitu; (1) memudahkan proses identifikasi siklon, (2) membantu masyarakat agar sadar atas perkembangan badai, (3) memudahkan media untuk focus pada siklon, (4) tidak membingungkan masyarakat, (5) mudah diingat, dan (6) mudah menjangkau masyarakat luas dengan cepat.
Nah, selanjutnya apakah kita memilih untuk sekedar mengenang penamaan monumental belaka ataukah melakukan perubahan dengan menjadinya momentum untuk berperilaku arif terhadap bumi dan alam semesta agar mampu meredam perubahan iklim global.
Pastinya, setiap nama memiliki arti tersendiri bagi publik maupun setiap pribadi kita sehingga eloknya dijadikan momentum perubahan mendasar atas paradigma kelingkungan manusia yang lebih ekoposentrism.
Jangan kemudian kita berpikir miris dengan mengakronimkan Seroja dengan kepanjangan Serangan Roh Jahat yang hanya akan membuat manusia terus terpuruk dalam perilaku negatif, menyalahkan takdir dan nasibnya.
Strategi Adaptasi dan Mitigasi
Langkah taktis pemerintah tatap bijak dan strategis untuk menginisiasi pemulihan dengan upaya relokasi pemukiman penduduk pascabencana sebagai upaya mitigatif bilamana kedepan ancaman bencana sejenisnya terjadi lagi.
Tentunya tidak hanya terfokus pada bencana alam sejenis badai, gempa dan tsunami belaka tapi juga selayaknya ancaman bencana sosial yang timbul akibat prasangka negatif dalam kehidupan bermasyarakat.
Struktur geologis dan karakteristik wilayah kepulauan dengan berbagai aspek penciri harus menjadi pertimbangan agar proses pemulihan yang menelan banyak biaya tidak hanya mengobati luka sesaat namun seterusnya menjadi sebuah bentuk kasih sayang Negara pada warga masyarakatnya agar kenangan bencana menjadi indah sesuai namanya.
Topografi daratan yang cenderung berbukit-bukit dan berlembah, struktur dan karakteristik tanah serta alur ancaman kebencanaan seperti banjir dan erosi juga harus diperhatikan dalam penataan ulang sebaran pemukiman masyarakat.
Hal penting lainnya yang harus dipedomani adalah aspek kearifan lokal yang tercermin dari budaya hidup masyarakat setempat.
Tentunya perihal relokasi akan mengalami pergeseran pola sosiologi dan kehidupan ekonomi masyarakat karena harus beradaptasi dengan kondisi lingkungan dan ekosistem yang telah mengalami proses suksesi secara serial maupun siklism.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/logo-pos-kupang.jpg)