Pentingnya Disiplin Diri di Tengah Pandemi Covid-19
Pandemi Covid-19 yang mewabah di seluruh dunia hingga telah mengubah perilaku manusia, termasuk kegiatan belajar mengajar. Kuncinya disiplin diri.
Pentingnya Disiplin Diri di Tengah Pandemi Covid-19
Oleh: Sr Marieta Ose Melburan, SSpS
Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang
POS-KUPANG.COM - Pandemi Covid-19 telah memorakporandakan segala tatanan kehidupan manusia. Keteraturan yang kokoh buyar seketika. Pada titik ini manusia tak berdaya di hadapan mahkluk renik ini. Kehebatan dan kecanggihan teknologi yang dimiliki manusia bertekuk lutut di hadapannya. Implikasinya, pelbagai dimensi kehidupan manusia teramputasi oleh aksi senyap dari virus ini.
Dinamika kehidupan manusia pun berubah. Manusia beradaptasi dengan aksi senyap dari mahkluk renik ini. Adaptasi ini dilakukan sebagai upaya preventif dalam rangka memutus mata rantai penyebaran dari Covid-19. Manusia pun mulai menjalani sebuah kenormalan baru. Melalui kenormalan ini, manusia mencoba hidup berdampingan dengan Covid-19.
Dalam bidang pendidikan kenormalan baru itu termanifestasi dalam proses pembelajaran yang dilakukan secara online/daring. Dengan pelbagai peranti media pembelajaran online siswa dan para guru/dosen melakukan kegiatan belajar-mengajar tanpa harus melakukan tatap muka sebagaimana yang dilakukan pra-pandemi.
Dinamika pembelajaran ini tentu menjadi tantangan baru dalam dunia pendidikan secara khusus bagi para siswa. Pada titik ini para siswa diperhadapakan dengan pilihan hal apa yang menjadi prioritas dalam kehidupannya, apakah menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya untuk belajar mandiri atau berselancar di media sosial (WhatsApp, facebook, line, instagram).
Oleh karena itu, kebijaksanaan dalam menggunakan waktu sangatlah dibutuhkan. Dalam kerangka inilah kedisiplinan dan manajemen waktu dalam diri siswa sangatlah dibutuhkan.
“Self Awareness” Jiwa
Kedisiplinan dalam diri siswa hanya akan berkecambah lalu bertumbuh serta berkembang hanya akan terjadi apabila ada self-awareness (kesadaran diri) dalam diri setiap pribadi. Self-awareness menjadi motor penggerak bagi setiap pribadi untuk membangun komitmen dalam diri untuk menciptakan iklim kedisiplinan diri. Tanpa self-awareness, maka benih kedisiplinan tidak akan berkecambah.
Seorang siswa haruslah memiliki kesadaran akan jati dirinya. Dalam kerangka ini, seorang siswa harus sungguh mengetahui dan memahami who am I?
Pada titik ini, ada dua dimensi yang mutlak diperlukan yakni dimensi epistemik (mengetahui) dan dimensi kordialitas (memahami) (bdk. F. Budi Hardiman: 2015, 9). Ketika seorang siswa hanya mengetahui jadi dirinya tanpa ada dimensi pemahaman, maka akan terjadi kepincangan. Oleh karena itu, self-awareness haruslah senantiasa berdiri di atas dua dasar yakni dasar epistemik dan kordialitas.
Di tengah sistem pembelajaran daring (dalam jaringan), bara self-awareness senantiasa dijaga sehingga kedisiplinan diri tidaklah padam. Apalagi gelombang tantangan pembelajaran daring sangatlah kuat. Absennya kesadaran diri maka konsekuensi logisnya adalah kedisiplinan diri pun akan hilang. Dengan demikian, siswa akan muda tergoda dengan pelbagai tawaran yang menggiurkan dari media sosial.
Siswa akan menghabiskan waktunya hanya dengan berselancar di media sosial, misalnya chating-an di facebook, instagram, WhatsApp dan lain-lain. Waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar akhirnya disia-siakan. Dengan demikian prestasi belajar pun mengalami degradasi.
Formasi
Kedisiplinan diri bukanlah sesuatu yang diterima secara gratis. Kedisiplinan diri juga bukanlah fakta taken for granted. Kedisiplinan diri sesungguhnya adalah sebuah habitus yang melewati proses yang panjang.