Breaking News:

Opini Pos Kupang

Apa Musuh Terbesar Sang Abdi Negara?

Pandemi Covid-19 belum juga menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Banyak nyawa telah melayang akibat ketidaktaatan dan ketidakpatuhan manusia

Editor: Kanis Jehola
Dok Pos-Kupang.Com
Logo Pos Kupang 

Oleh : Verry Guru, Kasubag Kepegawaian dan Umum BPPD Provinsi NTT

POS-KUPANG.COM - Pandemi Covid-19 belum juga menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Banyak nyawa telah melayang akibat ketidaktaatan dan ketidakpatuhan umat manusia terhadap protokol kesehatan yakni memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak dengan orang sakit atau yang sedang terpapar virus corona.

Bahkan seiring berjalannya waktu dan semakin canggihnya kemajuan; konon virus ini telah mengalami mutasi dan muncul varian baru.

Meski telah divaksin namun tetap harus waspada dan taat protokol kesehatan. Tanpa disadari sebenarnya Covid-19 telah mengubah seluruh tatanan peri kehidupan umat manusia di muka bumi ini.

Termasuk mengubah atmosfir dan tata kelola serta spirit kerja Aparatur Sipil Negara ( ASN) termasuk para pejabat di daerah ini. Ada ASN yang bekerja (dari) di kantor ada pula yang bekerja dari rumah atau work from home.

Baca juga: Lantik Dua Penjabat Kades di Matim, Wabup Jaghur : Tekan Pandemi Covid-19  dan Sukseskan Pilkades

Semua ini dimaksudkan agar ASN dan para pejabat tersebut tetap semangat dalam bekerja. Bekerja melayani masyarakat atau publik yang merupakan 'roh" nya sebagai sang abdi negara.

Jika seorang ASN berprinsip bahwa pekerjaannya sebagai aparatur semata-mata hanya untuk mencari penghasilan atau gaji maka makna sebagai sang ASN telah kehilangan 'roh" nya sebagai seorang abdi negara. Sebab bekerja untuk melayani merupakan 'roh" nya seorang abdi negara.

Lalu bagaimana fakta yang ada di tengah masyarakat ? Realitas sosial yang terjadi dalam kehidupan pelayanan keseharian kita menunjukkan bahwa musuh terbesar yang menggerogoti ketulusan hati dan moral pekerja modern termasuk sang ASN dan para pejabat adalah individualisme dan egoisme.

Karakteristik ini menjadi fakta sosial yang turut mewarnai aktivitas manusia, kapan dan dimana saja, karena tuntutan kebutuhan yang sangat kompleks dan bervariasi. Hal ini terjadi ketika manusia berada dalam situasi kebingungan untuk menentukan pilihan yang tepat, efektif dan efisien.

Baca juga: Branch Manager LP3I Kupang Ajak Generasi Muda Bangkit Ditengah Pandemi Covid-19

Dalam setiap kondisi ambigu (tak menentu), manusia rentan terhadap godaan sehingga ketika diperhadapkan dengan tawaran-tawaran kenikmatan yang menggiurkan, sangat mungkin manusia terbuai, terutama ketika sedang lengah dalam prinsip pilihan, maka sejak saat itu pula, manusia terpancing untuk mengutamakan kepentingan pribadi dalam proses pengarus-utamaan spiritualitas kerjanya.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved