Breaking News:

Berita Kota Kupang

Soroti Kasus Kriminalitas, Permai Kupang Adakan Webinar Bahas Kasus Kriminal di Manggarai

Soroti Kasus Kriminalitas, Permai Kupang Adakan Webinar Bahas Kasus Kriminal di Manggarai

Editor: Gordy Donofan
POS-KUPANG.COM/GORDY DONOFAN
Suasana Saat Webinar yang digelar oleh Permai Kupang. Mereka menyoroti Kasus Kriminalitas, Jumat 23 Juli 2021. 

Di dalamnya termasuk keinginan untuk makanan, seks, dan kelangsungan hidup yang dikelola oleh Id. Freud percaya bahwa jika ini tidak bisa diperoleh secara legal atau sesuai dengan aturan sosial, maka orang secara naluriah akan mencoba untuk melakukannya secara ilegal.

Sebenarnya pemahaman moral tentang benar dan salah yang telah ditanamkan sejak masa kanak harusnya bisa bekerja sebagai superego yang mengimbangi dan mengontrol Id.

Namun jika pemahaman moral kurang dan superego tidak berkembang dengan sempurna, akibatnya anak dapat tumbuh menjadi menjadi individu yang kurang mampu mengontrol dorongan Id, serta mau melakukan apa saja untuk meraih apa yang dibutuhkannya.

Menurut pandangan ini, kejahatan bukanlah hasil dari kepribadian kriminal, tapi dari kelemahan ego. Ego yang tidak mampu menjembatani kebutuhan superego dan id akan lemah dan membuat manusia rentan melakukan penyimpangan.

“Adat dan budaya Manggarai itu, kita juga menyumbang misalkan, kalau kita tidak punya uang sehingga ada upaya untuk mencuri. Melakukan tindakan secara illegal. Peran orangtua dirumah, guru, tokoh agama, tokoh masyarakat, LSM bisa menekan tindakan criminal,’’jelasnya.

Baca juga: Sambut Hari Bhayangkara Ke-75, Polres Manggarai Gelar Baksos Donor Darah, Begini Suasanannya

“Untuk menekan tindakan kriminalitas butuh kerja sama semua pihak,’’tutup dia.

Sementara itu pengamat sosial, Lasarus Jehamat, menjelaskan masyarakat Manggarai (raya), baik sebagai entitas fisik-geografis, administrasi pemerintahan, ataupun sebagai sebuah entitas sosial kemanggaraian, tidak bisa lagi hidup dalam kungkungan ego dan berdiam diri dalam kenyamanan situasi sosial dan budaya.

Jehamat menerangkan saat ini, Manggarai sudah masuk ke komunitas dunia, entah berbasis administratif, politik, ekonomi, fisik, sosial dan dunia maya.

Ada sejumlah penggalan kasus  yang direkam dari beberapa media massa seperti kasus korupsi, pencurian, bunuh diri, pembunuhan, rudapaska, tindakan asusila, hoax.

Dosen Sosiologi FISIP Undana Kupang ini menyebutkan berdasarkan, hasil riset dari Dosen Unika St.Paulus Ruteng terkait Perilaku Berpacaran Mahasiswa di Ruteng tahun 2020 menyebutkan perilaku berpacaran remaja (mahasiswa) di Kota Ruteng diuraikan berdasarkan aktivitas kissing, necking, petting, dan intercourse.

Ia menyebutkan sejumlah 36.8% pernah meraba tubuh pasangan hingga sebatas pinggang dan sebanyak 18.4% sampai pada alat genetalia.

Baca juga: Unit Jatanras Polres Manggarai Juga Ciduk FSJ, Pencuri Barang Milik Korban Anselmus Deo

Tindakan berpacaran  mahasiswa yang sudah sampai pada tingkatan paling intim, yakni  berhubungan badan (intercourse) adalah 15.7% mahasiswa semester 2 pernah melakukan hubungan badan, 19.6% mahasiswa semester 4 pernah melakukan hubungan badan, dan 23.5% mahasiswa semester 6 pernah melakukan hubungan badan.

Dari total  yang pernah melakukan hubungan badan, 21.56% di antaranya pernah melakukan intercourse lebih dari sekali dan 13.72% berhubungan badan dengan lebih dari satu orang berbeda.

“Korupsi juga mulai level desa itu juga bagian dari tindakan kriminalitas. Saya mengambil sebuah riset yang dilakukan oleh Unika St.Paulus Ruteng pa Edu dan teman-teman tahun 2020  itu. Ruteng merupakan Kota kecil, tapi memang tingkat kriminalitasnya itu. Kasus kriminalitas itu dilakukan atas dasar keinginan dan kemauan,’’jelasnya.

Ia menjelaskan beberapa prespektif menujukan bahwa tindakan kejahatan atau criminal itu ada beberapa factor yaitu The Political Economy of Destructive Power (Mehrdad Vahabi, 2004)-Relasi ekonomi politik.

Studi ekonomi politik: membantu kita berpikir tentang globalisasi, kebebasan, inflasi, dan subjektivitas (New Dialectics and Political Economy, Robert Albritton, 2013).

Baca juga: Provost Polda NTT Gelar Gaktiblin Bagi Anggota Dalam Berkendaraan, Ini Tujuannya

Crowdsourced Panopticon: Conformity and control on social media (Weissman, 2021) dan Pain Generation: Social Media, Feminist Activism, and the Neoliberal Selfie (Saraswati, 2021).

 Ia juga menjelaskan kasus-kasus yang telah disebutkan diatas bisa cegah jika tatanan adat dan budaya masih kuat. Ada budaya lonto leok, budaya yang sejak turun temurun yang hingga saat ini mulai pudar.

Ini fakta ketika negara dan modal masuk, pelan-pelan adat dan budaya mulai digeser.

Selain itu, penggunaan Media Sosial yang tidak bijak. Ini menjadi soal besar. Yang menjadi control untuk diri sendiri itu adalah diri kita masing-masing.

Ia juga menyebutkan masyarakat Manggarai tidak lagi hidup di ruang sempit baik secara sosial, ekonomi, politik, dan keamanan.

“Kepintaran otak saja tidak cukup. butuh kecerdasan sosial, agama, dan budaya,’’ujarnya.

Baca juga: BREAKING NEWS : Unit Jantanras Polres Manggarai Ciduk Pencuri Peralatan Tukang di Langke Rembong 

Ia menyarankan agar kita semua mendorong literasi hukum, politik, sosial, dan budaya termasuk media social.

Mendorong pengembangan nilai di berbagai level terutama pendidikan awal (PAUD dan TK).

Memberi contoh ke elite politik untuk tidak main-main dengan rakyat dan kerakyatan dan konsistensi penerapan hukum dan aturan.

Plt. Ketua Permai Kupang, Patris Flores, menyampaikan terima kasih kepada semua yang telah menyukseskan kegiatan webinar tentang meneropong kriminalitas di Manggarai.

Patris menyatakan walaupun kita tengah pandemic covid-19 tetap saling memberikan dukungan.

“Kami punya kecintaan dan kepedulian tentang daerah asal kami tercinta yaitu Manggarai. Kami terus memantau meskipun kami ditanah rantau. Kita juga harus bijak untuk tidak menyebarkan berita yang sensitif terkait kriminalitas,’’ujarnya.(GG).

Berita Terkait Lainnya

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved