Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Jumat 16 Juli 2021: Ibadat Sejati

Kehadiran Yesus selalu menjadi magnet bagi banyak orang. Orang mengalami kehadiran Allah yang mengasihi manusia.

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
Pater Steph Tupeng Witin SVD 

Renungan Harian Katolik Jumat 16 Juli 2021: Ibadat Sejati (Mat 12:1-8)

POS-KUPANG.COM - Kehadiran Yesus selalu menjadi magnet bagi banyak orang. Orang mengalami kehadiran Allah yang mengasihi manusia dan membarui cara pandang atas segala soal di tengah bangsa Yahudi.

Hari ini, Yesus menciptakan kontroversi baru dalam medan perseteruan dengan orang-orang Farisi. Saat melewati sebuah ladang gandum yang siap panen, murid-murid-Nya lapar dan memetik gandum untuk dimakan.

Orang Farisi yang tentu saja sedang melewati ladang gandum yang sama, memprotes tindakan para murid itu sebagai pelanggaran kesakralan hari Sabat. Orang-orang Farisi menuding para murid melanggar peraturan tentang hari Sabat.

Menurut penafsiran para rabi, memetik gandum artinya menuai, sehingga dianggap bekerja (Kel. 20:10).

Baca juga: Renungan Harian Katolik Kamis 15 Juli 2021: Beban Hidup

Masuk akal, ketika orang-orang Farisi menemukan alasan yang sangat “lemah” untuk dipatahkan oleh Yesus.

Orang-orang Farisi sangat menguasai kitab suci (Taurat). Yesus mengingatkan sekaligus menyegarkan ingatan mereka terkait Daud dan roti sajian (1Sam 21:1-6).

Hukum Ilahi membatasi roti sajian hanya untuk imam-imam (Im 24:9), tetapi kebutuhan manusia yang sangat mendesak membatalkan peraturan ini. Kemanusiaan harus menjadi dasar pelaksanaan dan penghayatan hukum.

Tentu sangat tidak manusiawi ketika orang yang sedang lapar terancam mati hanya karena dia tidak boleh makan roti yang ada di depan matanya meskipun ia tahu roti itu kudus.

Kekudusan yang sejati justru ketika kemanusiaan melampaui formalisme dan fanatisme buta yang bisa berdampak buruk bagi keutuhan hidup manusia.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Rabu 14 Juli 2021: Terang di Balik Kelabu

Tuhan menciptakan semua hari sama sucinya. Bahkan Perjanjian Lama pun memberikan semacam ilustrasi gamblang bahwa hukum tentang perhentian pada hari Sabat tidak bersifat mutlak karena para imam oleh hukum yang sama justru dituntut untuk bekerja pada hari Sabat (Bil. 28:9-10).

Para imam tidak disalahkan bila bekerja pada hari Sabat demi terselenggaranya ibadah di Bait Allah.

Betapa lebih lagi para murid tidak dapat disalahkan jika memakai hari Sabat untuk bekerja bagi Kristus, yang adalah Bait Allah dan Tuhan atas hari sabat tersebut.

Yesus hendak menunjukkan kesalahpahaman orang-orang Farisi terkait sabda Tuhan, “Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran” (Hos 6:6).

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved