Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Rabu 14 Juli 2021: Terang di Balik Kelabu

Saat ditahbiskan atau dilantik dan mau berkarya, kita dipenuhi dengan idealisme dan program-program besar.

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
RD. Fransiskus Aliandu 

Renungan Harian Katolik Rabu 14 Juli 2021: Terang di Balik Kelabu (Matius 11:25-27)

Oleh: RD. Fransiskus Aliandu

POS-KUPANG.COM - Saat ditahbiskan atau dilantik dan mau berkarya, kita dipenuhi dengan idealisme dan program-program besar.

Hati seakan terbakar, penuh gairah-semangat saat membaca tulisan St. Paulus, "Malahan segala sesuatu kuanggap rugi karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu, dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus dan berada dalam Dia, bukan dengan kebenaranku sendiri" (Flp 3:8-9).

Kita berangan-angan jika saja memperoleh penugasan yang memungkinkan bakat dan kemampuan kita berkembang sehingga dapat mewartakan kabar sukacita dengan sebaik-baiknya.

Semua tampak begitu indah dan baik-baik saja. Bekerja tanpa kenal lelah dan tanpa batas. Kita bahagia dan selalu berusaha menampakkan sukacita atas tugas pelayanan yang kita lakukan.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Selasa 13 Juli 2021: Dosa Nirtindakan

Sampai suatu ketika kita dihadapkan atau "ditempatkan" dalam sebuah ujian. Katakanlah, kita mendapat tugas baru atau diutus untuk tugas perutusan baru yang tidak searah dan sejalan dengan apa yang diinginkan di hati.

Terlebih lagi, kita mengalami bahwa tak semua bisa berjalan sesuai rencana. Ada penolakan dan resistensi dalam karya. Terjadi ketidaksepahaman dan tak bisa bersama-sama. Bukan keberhasilan yang diraih, tapi justru kegagalan.

Orang bijak menyebut situasi itu sebagai "berada dalam posisi yang menuntut lebih dari sisi kelemahan dari pada kekuatan kita".

Keadaan menguji kita. Kalau kepercayaan kita berkurang, kita menjadi tidak aman, kecewa dan mudah putus asa.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Selasa 13 Juli 2021: Dosa Nirtindakan

Sebaliknya, keadaan itu seharusnya bisa memberikan pencerahan karena membawa kita sampai pada inti kemuridan. Ia memberi penegasan bahwa konsekuensi kemuridan selalu ada di luar kendali, dan kita tidak dapat memilih apa yang kita suka atau apa yang akan kita terima.

Pertanyaan reflektifnya, bagaimana sikap kita ketika menghadapi situasi yang tidak seideal yang dibayangkan atau diinginkan?

Penginjil Matius mencatat bahwa Yesus pun dihadapkan pada situasi yang sulit. Ia mengecam keras tiga kota yang tak mau bertobat padahal di tempat-tempat itu Ia telah melakukan banyak perbuatan ajaib.

Tapi Yesus tak tenggelam dan terpuruk dalam lumpur keadaan itu. Ia justru mengucapkan syukur. "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu" (Mat 11:25-26).

Baca juga: Renungan Harian Katolik Selasa 13 Juli 2021: Logika Euro Cup

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved