Breaking News:

Sebastian Mamoh, Petani Milenial Malaka Hasilkan Puluhan Juta Rupiah dari Budidaya Cabai Merah

meningkatkan nafsu makan, mencegah kanker, mengatasi struk, memperlambat penuaan dini, hingga menjaga kesehatan jantung

Editor: Rosalina Woso
POS KUPANG.COM/ISTIMEWA
Cabai Merah yang dihasilkan petani Sebastian Mamoh 

Jika menggunakan pupuk kompos diberi 500 -700 gram pertanaman. Perbandingan ini juga berlaku untuk pupuk urea atau NPK.

Penyiangan dilakukan untuk menghilangkan pertumbuhan gulma. Gulma akan mengganggu pertumbuhan tanaman dan mencuri unsur hara untuk cabe merah besar. Jadi gulma harus dilakukan secara rutin.

Hasil panen cabainya mencapai 18,75 ton dengan omzet sebesar 50 juta rupiah.

Baca juga: Pemda Malaka Mulai Realisasikan Bantuan Dana Buat Mahasiswa Melalui Program KMC

“Pada saat memanen usahakan buah cabe tidak terlalu tua. Sekitar 80-90%. Proses pemananen yang bagus adalah pada pagi hari setelah embun kering. Hal ini dilakukan supaya cabe merah besar tetap dalam keadaan besar. Pada saat memetik, petiklah dengan tangkainya untuk menjaga kesegarannya lebih lama. Buah cabe yang bagus adalah yang bentuknya ramping dan isinya padat”, tutup Bastian.

Sesuai arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) bahwa petani milenial merupakan tumpuan harapan pertanian Indonesia di masa mendatang.

"Petani milenial saat ini banyak meraup hasil dan keuntungan yang melimpah dari hasil bertani. Kuncinya adalah mereka mengunakan akses market internasional dan komunitas pertanian untuk memasarkan hasil pertanian di dalam negeri dan luar negeri," papar Mentan SYL.

Sementara terpisah, Dedi Nursyamsi juga menambahkan bahwa selain memanfaatkan peluang, petani milenial lah yang mampu mendongkrak produktivitas dan menjaga kualitas dan menjamin kontinuitas produknya lewat inovasi teknologi.

Baca juga: Penyebaran Covid-19 Menggila, Bupati Malaka Mendadak Gelar Rapat Terbatas

“Anak muda milenial sekarang harus pintar-pintar membaca peluang apalagi dengan prospek menguntungkan dan mengembangkan daerahnya seperti ini. Kalau bukan kita siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi”, tutup Dedi.(*)

Berita Malaka terkini

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved