Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Selasa 13 Juli 2021: Dosa Nirtindakan
Hari ini kita baca Yesus mengecam tiga kota: Khorazim, Betsaida dan Kapernaum. Khorazim adalah kota yang letaknya di sebelah utara
Barclay menduga bahwa tentu saja banyak hal yang paling hebat terjadi di dua kota ini, namun tidak ada catatan yang terperinci yang dapat kita baca dalam kitab-kitab Injil, berdasarkan letak lokasi yang dekat dengan Kapernaum.
Yesus tentu saja melakukan banyak pekerjaan yang menakjubkan, namun kembali lagi pada keterbatasan awal: tidak ada catatan tentang karya Yesus serta berbagai mukjizat dan tanda heran yang dibuat-Nya di tempat-tempat ini.
Injil Matius yang kita baca dan renungkan hari ini membuktikan betapa sangat terbatas informasi yang kita ketahui tentang Yesus yang sesungguhnya tidak tercatat atau luput dari lalu lintas ingatan penulis Injil.
Meski demikian, kita patut bersyukur bahwa dari informasi yang “sedikit” ini kita memiliki kekayaan pilihan yang dapat memberi banyak informasi kebijaksanaan untuk memerkaya refleksi hidup dan karya-karya kita di tengah dunia ini.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Minggu 11 Juli 2021: Belajar dari Amos
Sepintas, ketika kita membaca Injil hari ini, kita bisa langsung menduga bahwa Yesus sedang marah besar kepada penduduk Khorazim, Betsaida dan Kapernaum.
Namun ketika kita membaca dengan refleksi mendalam, ada aspek “penekanan” yang lebih kaya dan inspiratif. Ada sebuah makna, nilai yang jauh lebih subtil di balik kecaman “sepintas” itu.
Kita bisa mengatakan ada sebuah “kemarahan yang suci” karena Yesus tidak sekadar meluapkan emosinya, tapi lebih menghamparkan rasa belas kasih yang lebih bermakna pertobatan sebagai titian menuju keselamatan.
Menurut terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), Yesus menggunakan kata “celakalah” yang berasal dari kata Yunani untuk mengungkapkan rasa kasihan penuh kesedihan dan juga kemarahan.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Sabtu 10 Juli 2021: Hidup yang Menginspirasi
Kata “celakalah” ini bukanlah tekanan seseorang yang sedang penuh emosi karena merasa bahwa harga dirinya tersinggung atau kemarahan yang sangat besar karena kehinaan pribadi yang ia peroleh dari orang lain.
Kata “celakalah” merupakan penekanan kesedihan hati dari seseorang yang menawarkan kepada manusia hal yang paling berharga dalam dunia, namun hal baik yang ditawarkan itu tidak dilihat apalagi dirasakan sebagai sesuatu yang berharga bagi diri dan hidupnya.
Kecaman Yesus terhadap dosa penduduk tiga kota itu merupakan sebuah kemarahan suci yang tidak bersumber dan berakar dari keangkuhan religiositas diri, melainkan bukti konkret dari sebuah hati yang tak rela melihat umat-Nya harus menanggung derita kekal pada hari akhirat. Sebuah kemarahan yang berpespektif keselamatan di “dunia seberang” setelah kenikmatan fana ini berakhir.
Yesus melukiskan dosa Khorazim, Betsaida dan Kapernaum sebagai dosa yang lebih buruk daripada dosa Tirus dan Sidon dan dosa Sodom dan Gomora.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Sabtu 10 Juli 2021: Tak Lebih dari Guru
Lukisan Yesus ini merupakan kecaman yang sangat serius karena Tirus dan Sidon telah dikecam dalam Perjanjian Lama sebagai kota-kota yang penduduknya melakukan kejahatan besar.
Sementara Sodom dan Gomora adalah nama-nama yang banyak kali diidentikkan sebagai ketidakadilan.
Di kota-kota ini Yesus telah melakukan banyak mukjizat dan menyampaikan Kabar Gembira. Penduduk tiga kota ini yang paling banyak mendapatkan perhatian dari Yesus dalam karya pewartaan-Nya.