Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Sabtu 10 Juli 2021: Tak Lebih dari Guru

Guru Sekolah Dasar selalu memberi nasihat, "Kalian harus melebihi kami". Pesan ini terus bergema dalam hati.

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
RD. Fransiskus Aliandu 

Renungan Harian Katolik Sabtu 10 Juli 2021: Tak Lebih dari Guru (Matius 10:24-33)

Oleh: RD. Fransiskus Aliandu

POS-KUPANG.COM - Guru Sekolah Dasar selalu memberi nasihat, "Kalian harus melebihi kami". Pesan ini terus bergema dalam hati. Ia memacu diri untuk rajin belajar agar sukses dalam hidup.

Kalaupun kelak menjadi seorang guru, kiranya kami harus bisa menjadi guru dengan tingkat pendidikan yang lebih baik, guru yang lebih terampil, kreatif, dan inovatif dalam mendidik dan mengajar peserta didik.

Saya kira banyak orang tua pun tak pernah berhenti memacu anak-anaknya untuk belajar agar meraih sukses. Pesan, "Kamu harus lebih dari bapa dan bapa", rupanya "termakan" dan memacu, sehingga tak sedikit anak relatif berhasil dan melebihi orang tuanya.

Tapi tak selamanya perkara "nanti", de facto ada pengakuan dari orang tua atau guru bahwa anaknya atau siswa lebih pintar dari mereka.

"Sebagai guru, pernahkah kamu merasa muridmu lebih pintar darimu. Di era digital ini, siswa sebenarnya memiliki kesempatan untuk belajar lebih banyak lagi. Mereka belum banyak tuntutan dalam hal administrasi dan lain-lain sehingga banyak sekali kesempatan mereka untuk mengolah dan mendapatkan informasi, jadi tidak menutup kemungkinan mereka lebih pintar."

Baca juga: Renungan Harian Katolik Sabtu 10 Juli 2021: Berani dan Setia

"Siswa yang lebih pintar mah banyak, apalagi di bidang studi matematika. Aduh, saya guru tapi saya lemah sekali dalam mata pelajaran satu ini bahkan saya bertanya-tanya kenapa saya bisa lulus dengan nilai ujian nasional saya yang tidak sampai diangka 5", ungkap terbuka seorang guru, sahabatku.

Namun rupanya Yesus mempunyai pendapat lain. Simak kata-kata-Nya kepada para murid-Nya, "Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya" (Mat 10:24-25a). Apa maksud Sang Guru?

Kita dididik dengan anggapan bahwa sebagai murid Yesus, kita dipanggil untuk mempolakan diri terhadap Yesus. Setiap kita harus membentuk hidup sebagaimana Yesus sendiri membentuk hidup-Nya. Pertanyaannya, seperti apakah pola Yesus itu?

Kita diajarkan bahwa Yesus datang untuk mendamaikan kita dengan Bapa dengan cara mewartakan cinta Bapa pada kita. Itulah misi Yesus.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Jumat 9 Juli 2021: Tantangan Perutusan

Meski kita diciptakan Allah dari cinta, tetapi ketika kita berdosa, kita secara aktif menolak cinta Allah dan memisahkan diri kita dari Allah. Yesus datang untuk memperbaiki relasi cinta itu. Yesus datang untuk menyadarkan kita bahwa cinta Bapa tak pernah berkurang.

Yesus mewartakan sukacita itu melalui sabda dan karya-Nya, hidup dan tindakan-Nya. Kita mungkin dapat memisahkan diri dari Bapa, tetapi Bapa tak pernah dapat meninggalkan kita.

Yesus memberikan diri secara sempurna untuk memaklumkan cinta itu. Ia berusaha sungguh-sungguh dan sehabis-habisnya agar kita dapat semakin mengenal dan memiliki cinta itu. Ia mempertaruhkan segalanya. Ia menerima konsekuensinya, apa pun derita yang harus ditanggung-Nya, meski mati di salib.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved