Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Senin 12 Juli 2021: Pedang
Di antara semua senjata yang pernah terlibat dalam kisah-kisah heroik dalam catatan sejarah, barangkali pedang yang paling sering digunakan.
Saya berusaha memahami pesan Yesus ini lewat pengalaman konkret. Terkadang saya tidak senang dengan seseorang karena setiap kali ketemu selalu saja beri nasihat: pakaian harus rapi, rambut nggak boleh gondrong, nggak boleh ngebut, dan sebagainya.
Makanya tiap kali ketemu orang itu, rasa tidak suka, tidak senang langsung saja muncul di hati. Kehadiran orang itu seakan jadi "beban" rasa di hati.
Dulu saat masih sekolah, ada guru yang keras menjurus kejam. Mata pelajaran aljabar terasa jadi sangat sulit untuk dimengerti.
Maka tiap kali jam pelajaran itu tiba, rasa penolakan langsung bersemi. Kehadiran sang guru dirasa jadi momok tersendiri sepanjang pelajaran dan waktu seakan berjalan begitu lambat.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Sabtu 10 Juli 2021: Tak Lebih dari Guru
Sehubungan dengan itu, saya pikir bahwa saya harus menata pikiran dan rasa saya. Saya harus berpikir bahwa nasihat itu baik dan pelajaran aljabar itu penting. Sepanjang saya bisa menerimanya dengan hati, maka semuanya akan baik dan bermanfaat.
Kembali lagi ke perihal pedang. Di beberapa kebudayaan, jika dibandingkan senjata lainnya, pedang biasanya memiliki prestise lebih atau paling tinggi. Di dunia kemiliteran, pedang kebanyakan dipakai dalam upacara yang menambah kegagahan dan kebesaran.
Dengan begitu saya bisa paham dengan pesan Yesus, "Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang". Kalau saya menolak Dia, maka di mataku kehadiran-Nya bukan sebagai pembawa damai, sebagai "pedang" yang membuat diriku kian gagah sebagai murid Tuhan, melainkan beban, pedang mengiris hati.*