Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Senin 12 Juli 2021: Pedang

Di antara semua senjata yang pernah terlibat dalam kisah-kisah heroik dalam catatan sejarah, barangkali pedang yang paling sering digunakan.

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
RD. Fransiskus Aliandu 

Renungan Harian Katolik Senin 12 Juli 2021: Pedang (Matius 10:34-11:1)

Oleh: RD. Fransiskus Aliandu

POS-KUPANG.COM - Pedang adalah sejenis senjata tajam yang memiliki bilah panjang. Ia dapat memiliki dua sisi tajam atau hanya satu sisi tajam saja.

Dalam berbagai riwayat sejarah disebutkan berbagai senjata yang menjadi andalan para tokoh dan pahlawan untuk bertempur. 

Di antara semua senjata yang pernah terlibat dalam kisah-kisah heroik dalam catatan sejarah, barangkali pedang yang paling sering digunakan.

Baik Napoleon, Julius Caesar, maupun para pahlawan dalam sejarah Indonesia menggunakan belati dengan pilah panjang dan tajam ini untuk menghadapi musuh-musuh mereka.

"Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi, Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang" (Mat 10:34). Itu kata Yesus kepada para murid-Nya.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Minggu 11 Juli 2021: Belajar dari Amos

Lho... apa-apaan nih ! Koq Yesus bilang Dia datang membawa pedang dan bukan pembawa damai sih?

Kalau begitu kenapa saat Dia dilahirkan dulu para malaikat justru berdendang ria di Bethlehem, "Kemuliaan bagi Allah ... dan damai sejahtera di bumi di antara di antara manusia ..." (Luk 2:14).

Kalau begitu Yesus berbohong dong sewaktu menampakkan diri kepada para murid-Nya sesudah kebangkitan, Dia justru menyapa mereka, "Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu" (Yoh 14:27).

Untuk apa Dia berkotbah di bukit sambil berkata, "Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah?" (Mat 5:9).

Baca juga: Renungan Harian Katolik Minggu 11 Juli 2021: Kekuatan Kepedulian dan Kebersamaan

Kata "damai" itu salah satu kata utama dalam Perjanjian Lama. Dalam kata "damai" tercakup keseluruhan kesejahteraan, keberhasilan, kebahagiaan. Dan itu meliputi pelbagai bidang.

Jadi kata "damai" berarti kepenuhan kebahagiaan dalam segala aspeknya. Damai dalam pengertian ini akan ditegakkan Allah pada akhir zaman. Damai inilah yang diwartakan Yesus dan dilanjutkan oleh para murid-Nya.

Namun tidak semua orang "layak" menerima damai itu. Sebab ada banyak yang tampil seperti "serigala". Ada sekian banyak orang yang menolak. Mereka (akan) menyalibkan Yesus. Mereka menganiaya dan membunuh orang-orang utusan Yesus.

Dus...Yesus bukan pembawa damai bagi mereka yang tidak menghendakinya. Yesus justru membawa pedang bagi mereka.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Sabtu 10 Juli 2021: Tak Lebih dari Guru

Saya berusaha memahami pesan Yesus ini lewat pengalaman konkret. Terkadang saya tidak senang dengan seseorang karena setiap kali ketemu selalu saja beri nasihat: pakaian harus rapi, rambut nggak boleh gondrong, nggak boleh ngebut, dan sebagainya.

Makanya tiap kali ketemu orang itu, rasa tidak suka, tidak senang langsung saja muncul di hati. Kehadiran orang itu seakan jadi "beban" rasa di hati.

Dulu saat masih sekolah, ada guru yang keras menjurus kejam. Mata pelajaran aljabar terasa jadi sangat sulit untuk dimengerti.

Maka tiap kali jam pelajaran itu tiba, rasa penolakan langsung bersemi. Kehadiran sang guru dirasa jadi momok tersendiri sepanjang pelajaran dan waktu seakan berjalan begitu lambat.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Sabtu 10 Juli 2021: Tak Lebih dari Guru

Sehubungan dengan itu, saya pikir bahwa saya harus menata pikiran dan rasa saya. Saya harus berpikir bahwa nasihat itu baik dan pelajaran aljabar itu penting. Sepanjang saya bisa menerimanya dengan hati, maka semuanya akan baik dan bermanfaat.

Kembali lagi ke perihal pedang. Di beberapa kebudayaan, jika dibandingkan senjata lainnya, pedang biasanya memiliki prestise lebih atau paling tinggi. Di dunia kemiliteran, pedang kebanyakan dipakai dalam upacara yang menambah kegagahan dan kebesaran.

Dengan begitu saya bisa paham dengan pesan Yesus, "Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang". Kalau saya menolak Dia, maka di mataku kehadiran-Nya bukan sebagai pembawa damai, sebagai "pedang" yang membuat diriku kian gagah sebagai murid Tuhan, melainkan beban, pedang mengiris hati.*

Renungan harian lainnya

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved