Breaking News:

Opini Pos Kupang

Covid-19 dan Makna Fatertelli Tutti

Fratertelli tutti-Kita semua bersaudara. Wabah Covid-19 sedang melanda dunia. Datang dan hadir dalam diam

Editor: Kanis Jehola
Dok Pos-Kupang.Com
Logo Pos Kupang 

Oleh: Yohanes Mau, Warga Belu Utara NTT, Penulis buku Ibu, Aku Rindu Kini tinggal di Zimbabwe-Afrika

POS-KUPANG.COM - Fratertelli tutti-Kita semua bersaudara. Wabah Covid-19 sedang melanda dunia. Datang dan hadir dalam diam. Datang dalam waktu yang tak menentu. Hadirnya membuka mata manusia untuk melihat dengan kaca mata baru. Kaca mata yang bisa membantu mata untuk melihat yang tak terlihat selama ini.

Juga membuka hati manusia untuk merasa dengan hati yang penuh belaskasih. Hati yang mengalirkan cinta tanpa hitung dan harap pulang. Hati yang mengalirkan cinta agape hingga relung-relung terdalam.

Dunia kini resah dan gelisah. Manusia sedang berada di tengah derasnya terpaan badai ombak yang tak menentu. Badai itu bernama pandemi Covid-19. Kita sedang bergulat di atas perahu menuju pelabuhan.

Namun sayangnya badai menerpa kapal hidup di tengah lautan lepas. Kita bosan dan lelah menghadapinya. Entahlah sampai kapan perahu hidup kita bisa bersandar di pelabuhan merdeka. Pelabuhan merdeka adalah dambaan hati semua manusia yang kini sudah jenuh dengan pandemi Covid-19.

Baca juga: Kasus Positif COVID-19 di Kabupaten Belu - NTT Terus Bertambah, Ini Datanya

 

Pelabuhan merdeka adalah rindu yang mengalir dalam sunyi hidup dunia menuju bebas yang membebaskan. Manusia ingin bebas dan kembali kepada kesadaran semula.

Manusia ingin menjalankan realitas hidup sebagaimana ada sebelumnya. Manusia ingin bebas dan tak mau dibatasi oleh ruang dan waktu. Bebas artinya berlayar menembusi sekat-sekat kepalsuan yang memenjarahkan. Berlayar menggapai yang tak terjangkau oleh sentuhan kasih sepanjang musim pandemi selama ini.

Ternyata Covid-19 ini lebih deras gaungnya karena bisa menembusi sekat-sekat tembok rumah ibadat. Bahkan hati pemimpin agama-agama, dan pemimpin negara-negara pun takluk tak berkutik. Ilmuwan tenar sejagat pun tak ada gemanya.

Virus corona memang jenis wabah terganas di abad ini yang telah menggoreskan sejarah dan kenangan tak terlupakan hingga abadi. Tiada lagi hangat cinta yang membias antara para sahabat.

Baca juga: Pemda Mabar Siap Vaksin Covid-19 Bagi Anak-anak Usia 12-17 Tahun

Tiada lagi suka-ria dan pesta pora merayakan bahagia secara bersama di publik. Covid-19 telah memblokir semuanya tanpa kompromi. Tiada lagi saat indah untuk berkumpul secara bersama di pelataran Tuhan untuk mengemis cintaNya.

Halaman
123
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved