Breaking News:

Salam Pos Kupang

Polri Sudah Banyak Berubah

BANYAK kendaraan bermotor baik roda dua dan roda empat kini menumpuk di semua Polres di ibukota kabupaten/kota di NTT

Editor: Kanis Jehola

POS-KUPANG.COM - BANYAK kendaraan bermotor baik roda dua dan roda empat kini menumpuk di semua Polres di ibukota kabupaten/kota di Nusa Tenggara Timur ( NTT). Kondisinya juga memrihatinkan. Sebagian sudah karatan atau sudah rusak. Berdasarkan kabar dari media ini (Pos Kupang, 7/6), kendaraan itu merupakan barang bukti tilang maupun perbuatan kejahatan.

Jika kondisi di lapangan menyebutkan bahwa kendaraan-kendaraan itu sudah karat-karatan dan seolah menjadi bahan rongsokan, maka kita boleh pastikan bahwa kendaraan titipan di Satlantas Polres itu sudah lama "menginap" karena sedang dalam proses hukum.

Mayoritas kendaraan itu karena tak punya surat-surat dan belum membayar pajak kendaraan lima sampai sepuluh tahun. Selain itu sedang dalam proses hukum karena kasus-kasus kejahatan.

Baca juga: Guru Ribka Nitti Adukan Dinas PKO Flores Timur ke Inspektorat Daerah, Ini Alasannya

Baca juga: Kalah Tipis 2-1, Pelatih Persik Kediri Beri Alasan Kekalahan dari Mutiara Hitam Persipura Jayapura

Bagi kendaraan yang sedang dalam proses hukum mungkin saja menunggu sampai kasus itu memiliki kekuatan hukum yang tetap. Jika prosesnya cepat maka akan cepat diketahui siapa sesungguhnya pemilik kendaraan itu.

Jika kendaraan itu ditahan karena surat-surat tak lengkap dan belum membayar pajak, penanganannya masih longgar. Sebab pihak kepolisian membolehkan pemiliknya "pinjam pakai" asalkan tak ada upaya untuk melarikan diri atau menghilangkan barang bukti dan sejumlah syarat lainnya.

Pemilik juga harus siap membawa kendaraan itu ke kepolisian jika sesekali dibutuhkan untuk kepentingan penyidikan. Sampai di sini menjadi sungguh jelas.

Baca juga: Renungan Harian Katolik, Selasa 8 Juni 2021: BERPUSAR KELUAR

Baca juga: Penalti 3 Detik hingga Insiden Baju Balap Terbuka, Pebalap Fabio Quartararo Gagal Naik Podium

Kelonggaran yang sudah diberikan ini ternyata tak dimanfaatkan oleh pemilik kendaraan. Mengapa? Masyarakat mungkin berpikir terlampau rumit jika berhadapan dengan pihak kepolisian. Atau karena ketidaktahuan saja. Perlu sosialisasi agar masyarakat atau pemilik kendaraan itu dapat mengetahuinya.

Mungkin saja dalam pikiran masyarakat kita masih terkesan lembaga kepolisian masih seperti yang dulu. Pendekatannya masih represif. Padahal perubahan paradigma dan terminologi tentang pelayanan sudah jauh berubah. Polisi kini menjadi sahabat masyarakat. Polisi tak "sekejam" yang dulu.

Sebaliknya, Polri kini hidup berdampingan dan terus membangun persahabatan dengan masyarakat. Polisi itu mengayomi, melayani dan melindungi masyarakat. Itu sudah menjadi hukum yang tak boleh ditawar-tawar lagi.

Karena itu kepada masyarakat kita berharap tak perlu membangun skeptisme kepada Polri kita. Sebaliknya, membangun komunikasi sebagai bentuk dukungan kepadanya.

Sebab polisi menjadi instrumen keamanan bagi masyarakat sipil. Kekuatan kepolisian ada pada masyarakat dalam memberi informasi, memberi petunjuk dan berbagai informasi lainnya.

Kita tetap membutuhkan Polri. Polri juga tetap membutuhkan masyarakat. Jadi, keduanya saling membutuhkan dan saling melengkapi. Ketika terjadi gangguan Kamtibmas, Polri menjadi tulang punggung utama dalam penanganan.

Karena itu sekali lagi datanglah ke Polres atau ke Polsek untuk berdiskusi. Tak perlu takut. Tak perlu membangun jurang psikologis buruk tentang lembaga ini. Polri sekarang seakan menjadi sipil karena ia hidup di tengah-tengah masyarakat sipil.

Kepada Polri kita juga berharap sering melakukan sosialisasi atas lembaga ini. Juga berbagai kebijakan yang telah dilakukan dalam konteks "hidup berdampingan" dengan masyarakat. *

Kumpulan Salam Pos Kupang

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved