Breaking News:

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik, Selasa 8 Juni 2021: BERPUSAR KELUAR

Bagaimana dengan kita, murid Tuhan zaman ini: kala dunia lingkungan kita kian meredup dan cenderung menjadi basi, tetapkah kita sebagai garam dunia

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
RD. Fransiskus Aliandu 

Renungan Harian Katolik, Selasa 8 Juni 2021: BERPUSAR KELUAR (Matius 5:13-16)

Oleh: RD. Fransiskus Aliandu

POS-KUPANG.COM - Setelah menyampaikan ciri-ciri watak, tabiat yang hakiki dari murid-Nya yang sejati lewat kedelapan Ucapan Bahagia, Yesus menunjukkan peranan apa yang harus diperankan oleh murid-Nya melalui metafora garam dan terang dalam dunia. "Kamu adalah garam dunia; kamu adalah terang dunia".

Ini tentu mengherankan! Apakah Yesus memang tidak melihat kenyataan yang ada dalam dunia ini? Dunia ini keras dan tidak kenal ampun. Orang jujur dan lurus hidupnya, yang memperjuangkan kebenaran dan keadilan cukup sering tercampak dan tersingkir. Tak jarang nasib nahas dan tragis justru dialami oleh mereka yang memainkan peran sebagai orang jujur. Bukankah orang-orang seperti itu terlalu lemah dan tak berdaya berhadapan dengan pusaran angin badai kejahatan? Apalagi mereka hanyalah minoritas kecil dalam dunia ini.

Tentu Yesus sangat tahu dengan kenyataan dunia ini. Dia sendiri pun mengalami kebencian dan penolakan yang luar biasa. Tapi Yesus tak sependapat dengan skeptisisme itu. Ia justru mempunyai prinsip dan kekeuh dengan itu. Tak tergoyahkan. Bahwa dunia akan menganiaya, Dia tak memungkirinya. Meski demikian, seperti yang Dia lakoni, adalah panggilan murid-Nya juga untuk memainkan peran menggarami dan menerangi dunia yang memusuhi, menganiaya dan menyingkirkannya. Apa pun risikonya. Berapa pun taruhannya.

Kedua metafora, yakni garam dan terang diambil dari kehidupan konkret sehari-hari untuk melukiskan peran murid-Nya yang sejati. Garam dan terang adalah dua komoditi rumah tangga yang tidak bisa tidak harus ada.

Garam dipakai sebagai bumbu maupun sebagai pengawet makanan. Dapatkah makanan tawar dimakan tanpa garam? Walaupun telah ada lemari es dan teknologi pendinginan telah maju pesat, sampai sekarang tetap saja diperlukan garam untuk mengawetkan daging dan ikan. Garam tetap dibutuhkan untuk mengolah ikan menjadi ikan asin. Daging se'i Kupang yang tersohor itu pun tetap perlu ditambahkan garam.

Siang hari, cahaya atau terang matahari punya peran sentral. Saat  matahari tenggelam di peraduannya dan datang malam, rumah mana yang tak butuh terang? Kala listrik padam, pelita, lilin-lilin kecil, lampu darurat diburu agar bisa memberikan terang.

Kebenaran asasi yang terdapat dalam kedua metafora ini ialah bahwa harus ada pembedaan antara dunia dan pribadi murid Tuhan. Di satu pihak ada "dunia", di lain pihak ada "murid sebagai garam". Di satu pihak ada "dunia" di lain pihak ada "murid sebagai terang". Memang murid ada dalam dunia, terkait dengan dunia. Tapi antara keduanya ada pembedaan hakiki.

Dunia agaknya merupakan tempat yang gelap. Hanya sedikit atau sama sekali tidak mengeluarkan sinar-cerah, sehingga membutuhkan suatu sumber terang dari luar dirinya (eksternal) untuk menerangi. Dunia pun selalu menunjukkan kecenderungan merosot. Dunia bukan semakin hambar rasanya, melainkan semakin basi, kian busuk seperti sayur, daging, ikan yang belum ditaburi garam. Dunia agaknya tak berdaya menghentikan proses pembusukan. Maka garam yang datangnya dari luar, dapat melakukan peran penting itu.

Dengan demikian menjadi jelas peran murid-murid Tuhan. Para murid disebut Yesus, "Kamu adalah garam dunia", "Kamu adalah terang dunia". Bukannya diserukan agar mereka "menjadi" garam dan terang. Yang dimaksud ialah mereka itu memang adalah garam dan terang; dan mereka harus tetap sebagai garam dan terang. Mereka tak boleh menjadi hambar dan redup. Mereka mesti berpusar keluar membuat dunia ini makin awet dan enak didiami. Cara hidup mereka tak boleh tersembunyi. Mereka semestinya menerangi, bersinar, sehingga perbuatan baik mereka dilihat oleh orang-orang lain.

Bagaimana dengan kita, murid Tuhan zaman ini: kala dunia lingkungan kita kian meredup dan cenderung menjadi basi, tetapkah kita sebagai garam dunia dan terang apa pun tantangannya? Saatnya hidup kita harus berpusar keluar, sehingga orang-orang "memuliakan Bapamu yang di surga" ? (Mat 5:16).*

Simak juga video renungan harian katolik berikut:

Akses artikel-artikel renungan harian katolik lainnya DI SINI

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved