Opini
Opini: Penerbangan Kefa-Kupang, Akal Sehat Ekonomi dan Syarat Keberlanjutan
Dalam teori ekonomi transportasi, keberlanjutan rute udara ditentukan oleh permintaan efektif, bukan sekadar kebutuhan mobilitas.
Oleh: Augusty Tae Ferdinand
Anak TTU yang bekerja di Timor Leste
POS-KUPANG.COM - Wacana pembukaan kembali penerbangan Kefa–Kupang kerap hadir dengan nada optimistis. Pesawat dipandang sebagai simbol kemajuan, pemutus isolasi, sekaligus pemantik pertumbuhan ekonomi.
Dalam imajinasi publik, kehadiran bandara dan penerbangan seolah otomatis menghadirkan investasi, wisatawan, dan kesejahteraan.
Namun, ekonomi pembangunan mengajarkan satu hal penting: infrastruktur tidak pernah berdiri sendiri; ia hanya bermakna jika ditopang oleh struktur ekonomi yang memadai.
Pertanyaan mendasar yang perlu dijawab bukanlah apakah pesawat bisa mendarat di Kefa, melainkan apakah terdapat basis ekonomi yang mampu menopang penerbangan secara berkelanjutan.
Keberlanjutan di sini bukan soal satu atau dua penerbangan simbolik, tetapi soal apakah rute tersebut dapat hidup tanpa terus-menerus menjadi beban fiskal dan ilusi kebijakan.
Baca juga: Opini: Kekuatan Tanah yang Hilang
Dalam teori ekonomi transportasi, keberlanjutan rute udara ditentukan oleh permintaan efektif, bukan sekadar kebutuhan mobilitas.
Permintaan efektif mensyaratkan tiga hal: kebutuhan bepergian, kemampuan membayar, dan frekuensi perjalanan yang cukup. Di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), kebutuhan memang ada, tetapi dua syarat lainnya masih sangat lemah.
Mayoritas penduduk hidup dari pertanian subsisten dan sektor informal dengan pendapatan rendah dan fluktuatif.
Mobilitas yang terjadi bersifat episodik—urusan keluarga, administrasi, atau kesehatan—bukan mobilitas ekonomi bernilai tinggi yang menciptakan arus perjalanan reguler.
Dari sisi biaya, persoalan menjadi semakin jelas. Dengan keterbatasan landasan pacu, penerbangan Kefa–Kupang hanya dapat dilayani pesawat kecil berkapasitas rendah.
Dalam ekonomi penerbangan, pesawat kecil justru memiliki biaya per kursi yang tinggi. Akibatnya, harga tiket tidak pernah benar-benar murah.
Di sinilah muncul paradoks wilayah miskin: tiket yang realistis secara biaya terlalu mahal bagi masyarakat, sementara tiket yang terjangkau secara sosial tidak realistis secara bisnis. Ini bukan masalah manajemen maskapai, melainkan masalah struktur ekonomi wilayah.
Bagi maskapai, rute ini tidak memiliki penopang utama seperti penumpang bisnis, industri, atau wisata massal.
Tanpa pasar yang stabil, tingkat keterisian penumpang sulit dipertahankan, dan risiko operasional menjadi sangat tinggi.
Dalam istilah ekonomi, rute Kefa–Kupang secara komersial adalah structurally loss-making route. Maskapai yang rasional tidak akan masuk tanpa subsidi yang jelas dan berkelanjutan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ilustrasi-pesawat-komersil.jpg)