Breaking News:

Kepala Lab Biokesmas NTT: Rapid Antigen Miliki Sensitivitas Rendah, Fima Inabuy: Hasil PCR Akurat

Laboratorium PCR di NTT sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitas pemeriksaan sampel spesimen Covid-19 dengan metode polyme

Penulis: F Mariana Nuka
Editor: Ferry Ndoen
Kepala Lab Biokesmas NTT: Rapid Antigen Miliki Sensitivitas Rendah, Fima Inabuy: Hasil PCR Akurat
Dr. Fima Untuk POS-KUPANG.COM
Ketua FAN, Dr. Fima Inabuy, Sabtu, 15/08/2020.

Rapid Antigen Miliki Sensitivitas Rendah, Fima Inabuy: Hasil PCR Akurat

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Intan Nuka

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Laboratorium PCR di NTT sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitas pemeriksaan sampel spesimen Covid-19 dengan metode polymerase chain reaction (PCR). Pasalnya, PCR memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi sehingga hasilnya bisa akurat. 

Kepala Laboratorium Biomolekuler Kesehatan Masyarakat NTT (Lab Biokesmas),Fima Inabuy, mengatakan laboratorium Biokesmas menggunakan platform PCR karena hasil yang diberikan paling akurat dan merupakan standard tertinggi dalam deteksi virus. Sedangkan antigen memiliki faktor sensitivitas yang rendah. 

Ketika dimintai tanggapan terkait adanya hasil rapid antigen yang berbeda dari tiga klinik di Maumere, Fima mengatakan bahwa kemungkinan ada perbedaan akurasi kit antigen yang dipakai. Antigen memiliki akurasi yang berbeda-beda tergantung merek yang digunakan. 

"Bagaimana pun antigen punya kelemahan di situ. Maka kami mendorong berbagai pihak lakukan pemeriksaan PCR; sensitivitas sangat tinggi," katanya ketika dihubungi POS-KUPANG.COM, Kamis (3/6) sore. 

Permasalahan antigen, kata Fima, terletak pada sensitivitas yang rendah. Butuh jumlah titer virus yang tinggi di dalam saluran pernapasan seseorang, barulah dapat terdeteksi positif. Orang yang terdeteksi antigen biasanya sudah terinfeksi virus dalam jangka waktu 3-9 hari. Ketika pemeriksaan dilakukan pemeriksaan satu hari setelah terinfeksi, atau setelah 10 hari setelah terinfeksi, maka kemungkinan tidak akan terdeteksi dengan tes antigen.

"Kalau orang itu bergejala, sensitivitas antigen sekitar 80 persen. Artinya, dari 10 orang yang diagnosis pakai antigen, 8 diantaranya betul, tapi 2 kemungkinan salah diagnosis," jelasnya. Jika orang tersebut tidak bergejala, maka sensitivitas antigen malah lebih rendah, mencapai 40 persen saja. 

Baca juga: Ingin Pariwisata Manggarai Timur Mendunia, Disparbud Promosikan Melalui Familiarization Trip

"Untuk yang masalah di Maumere itu saran saya harus tes PCR di hari yang sama; untuk membandingkan," katanya. 

Faktor pembacaan antigen yang kurang akurat, ujar Fima, karena masyarakat melakukan pemeriksaan ketika virus baru masuk atau hampir sembuh. Dua kondisi ini menunjukkan titer virus dalam tubuh rendah sehingga tidak akan terbaca oleh antigen, tapi terbaca oleh PCR. 

Hasil rapid antigen yang berbeda dari tiga klinik di Maumere tersebut dinilai Fima menjadi bukti bagi pemerintah bahwa ada kekurangan dari pemakaian rapid antigen. 

"Pemerintah harus mengadakan laboratorium PCR. Kalau mau penanganan Covid-19 dengan maksimal dan diagnosis akurat, maka mau tidak mau harus investasi untuk beli alat PCR. Antigen hanya pendamping untuk lakukan skrining cepat bagi pelaku perjalanan atau lainnya," tandasnya. (cr1)

Ketua tim Lab Biokesmas Provinsi NTT, Dr. Fima Inabuy
Ketua tim Lab Biokesmas Provinsi NTT, Dr. Fima Inabuy (POS-KUPANG.COM//Irfan Hoi)
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved