Wagub NTT, Josep Nae Soi Minta IOM Segera Selesaikan Masalah Pengungsi Afghanistan di Kupang  

Wagub NTT, Josep Nae Soi Minta IOM Segera Selesaikan Masalah Pengungsi Afghanistan di Kupang  

POS-KUPANG.COM/RYAN NONG
Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Josef Adrianus Nae Soi 

“Sebagai seorang mama, saya senang karena melihat anak saya tumbuh disini, tapi saya tetap sedih karena melihat anak-anak tidak bisa bersekolah normal seperti anak-anak lain yang mendapatkan ijasah, memiliki NIS dan bisa melanjutkan sekolahnya ke janjang pendidikan berikutnya,” kata Kubra.

Karena, hasil ujian dan kenaikan kelas yang terjadi di Kupang ini, tidak bisa dimanfaatkan di Kota lain.

Ada seorang pengungsi yang pindah ke kota lain di Indonesia dan anaknya sudah usia 12 tahun dan mau melanjutkan sekolah, ternyata anaknya diminta mengulang lagi pendidikan dari awal.

“Dan informasi ini mereka (IOM) tidak kasih tahu kalau pendidikan anak-anak itu hanya formalitas saja,” kata Kubra.

Untuk masalah kesehatan, Kubra mencontohkan Husein yang diduga depresi dan kini tak mau bicara lagi dan tak mau bergaul dengan siapapun. Dan IOM tidak menanganinya dengan baik.

Husein hanya diberikan obat oleh security hotel setelah minum, Husein akan tidur dari malam sampai pagi dan pagi sampai malam. Dan konseling dengan psikolog dihentikan dengan alasan Husein tak mau bicara.

“Dia telihat bukan seperi orang hidup. Saya yakin, kalau orang tidak urus dia maka dia akan bunuh diri atau mati. Dalam satu bulan, berat badannya turun 20 kg tapi dari IOM belum pernah ketemu dia. Walaupun saya menangis, sampai psikolog di wa. Husein bukan suadara saya tapi saya kasihan melihat dia. Ada banyak masalah lagi,” kata Kubra.

Para refugee atau pengungsi asal Afghanistan dalam aksi damai di Kantor IOM Kupang, Provinsi NTT, Rabu (28/4/2021) pagi
Para refugee atau pengungsi asal Afghanistan dalam aksi damai di Kantor IOM Kupang, Provinsi NTT, Rabu (28/4/2021) pagi (POS-KUPANG.COM/NOVEMY LEO)

Kubra menambahkan, ketika meminta rujukan dari IOM, IOM baru memberikan rujukan ke pengungsi 2 sampai 3 bulan.

“Kita sudah sehat sendiri atau kita harus bayar sendiri baru ada rujukan. Tapi yang penting buat kita, kita tidak bisa percaya lagi. Semua sudah capek,” kata Kubra.

Kubra berterimasih kepada Wagub NTT yang mau meluangkan waktu untuk mendengar keluh kesah pengungsi. “Saya senang, anda mendengar kita,” kata Kubra.

Kubra mengatakan, untuk meminta surat rekomendasi dari negaranya, pasti tidak akan mereka dapatkan, karena pemerintah disana tidak peduli dengan pengungsi, apalagi mereka adalah kelmpok minoritas suku hazaea.

Terkait demo, Kubra mengatakan, mereka tidak ada pilihan sebab IOM sebagai lembaga yang seharusnya mengurusi pengungsi ternyata tidak mempedulikan mereka selama ini.

Kubra Hasani, Hasana Husaini, Zahra Rahimi, Laila Hadari, Moheddese, Yegane, Zahra Rahimi dan pengungsi Afghanistan di Kupang saat melakukan aksi damai hari keempat di kantor IOM di Kupang, Provinsi NTT, Senin (2/5/2021).
Kubra Hasani, Hasana Husaini, Zahra Rahimi, Laila Hadari, Moheddese, Yegane, Zahra Rahimi dan pengungsi Afghanistan di Kupang saat melakukan aksi damai hari keempat di kantor IOM di Kupang, Provinsi NTT, Senin (2/5/2021). (POS-KUPANG.COM/NOVEMY LEO)

“Kita tidak ada pilihan kita minoritas, suku hazara. Pemernitah kita tidak peduli kita. Banyak migran yang punya ada kasus medis bahkan ada yang sudah dapat surat untuk bisa pindah ke kota lain, namun sudah 1 sampai 2 tahun ini tidak juga diproses oleh IOM Kupang," kata Kubra.

Menurut Kubra, Husein dibawa ke rumah sakit setelah 1 tahun sakit dan setelah mereka berdemo 2 minggu di depan kantor IOM Kupang.

"Kita demo baru dia dapat rujukan ke rumah sakit. Apa kita harus begitu baru bisa dapat mereka (IOM) punya urusan buat orang sakit sepeeti itu. Harus semua anak, ibu hamil, bapak demo di depan kantor IOM baru kasih, harus 2 minggu demo buat orang sakit sampai dia meninggal baru kasih rujukan? Itu mereka punya respon terhadap kita?” kritis Kubra sambil menangis.

Kubra berterimaksih kepada Wagub NTT yang mau mencari solusi untuk pengungsi. “Selama ini kita tunggu 6 sampai 7 tahun, kalau 2 minggu itu tidak rasa,” kata Kubra.

Menurut Kubra, jika mengikuti aturan UNHCR dan IOM maka mestinya pengungsi menetap di community house, karena tak ada community house maka fasilitasnya tidak standar.

Kubra mengaku elama berada di Kupang, kehidupan pengungsi Afghanistan ditangani oleh IOM namun mereka tidak bisa bebas dan punya hak yang sama seperti orang pada umumnya karena status mereka sebagai pengungsi.

“Kita seperti burung dalam sangkar. Itu burung mau bebas tapi tidak bisa. Kalau ada di sangkar yang paling baik, banyak fasilitas, tapi tetap sangkar,” kata Kubra sambil menangis.

Hal senada disamapikan Reza Khademi tentang kehidupan mereka yang ada di Kupang saat ini adalah suku Hazara dan kehidupan suku Hazara di Afghanistan ini minoritas dan ada persoalan ras disana.

Azim Hasani (kiri) dan Reza Khademi (kanan), pengungsi asal Aghanistan menemui Wakil Gubenur NTT, Josep Nae Soi, SH di ruang kerjanya, Rabu (19/5/2021).
Azim Hasani (kiri) dan Reza Khademi (kanan), pengungsi asal Aghanistan menemui Wakil Gubenur NTT, Josep Nae Soi, SH di ruang kerjanya, Rabu (19/5/2021). (POS-KUPANG.COM/NOVEMY LEO)

Mereka dicari dan hendak dibunuh sehingga mereka memilih lari dari Afghanistan ke Iran atau ke luar. Reza Khademi mencontohkan, belum lama ini ratusan anak-anak suku Hazara yang usia 6 sampai 10 tahun tewas karena sekolahnya dibom.  

“Pagi masuk sekolah, siang sudah kubur semua. 200-an orang masih di rumah sakit dan bertambah terus. Bapak bisa cari suku Hazara di google, ada  banyak kuburan, 1 hari sudah penuh. DI Afghanistan tidak ada tempat aman untuk suku Hazara. Beta hanya mau cari tempat aman aman,” kata Reza Khademi yang memiliki 3 orang anak ini.

Reza Khademi mengatakan,  sejak usia 12 tahun dia lari dari Afghanistan ke Iran dan menikah disana.

“Mama bapa saya tidak ada. Setelah menikah di Iran, Issis dan Arab paksa migrant harus ikut berkelahi (perang). Saya tidak mau sehingga saya keluar dari Iran dan sampai kesini,” kata Reza Khademi.

Reza Khademi menjelaskan, dia memiliki tiga anak, anak pertama usia 14 tahun sejak covid tidak pernah bersekolah lagi. Namun beberapa waktu lalu IOM minta anaknya ikut ujian sekolah.

“Tidak sekolah tapi langsung ujian. Anak nomor dua usia 10 tahun juga begitu. Dan aank ketiga yang usia 4 tahun lahir disini. Sekolah hanya formalita saja, IOM dia mau putar-putar, dari sini ke sana, dari sana kesini,” kata Reza Khademi.

Azim Hasani mengungkapkan banyak orang yang mengalami depresi dan minum obat syaraf dan karena terlalu lama akhirnya mereka sampai tidak ingat nama keluarganya, istri, suami atau anak mereka.

“Kalau kita lihat mereka itu rasanya berat karena tidak bisa membantu. Kalau kasih tahu IOM, IOM mengatakan hal itu hanya main-main saja,” kata Azim Hasani. (poskupang.com, novemy leo)

Berikut sejumlah foto yang diabadikan wartawan poskupang.com, saat dialong pengungsi afghanistan, IOM dengan Wagub NTT, Rabu (19/5/2021) siang :

Suasana dialog Reza Khademi, Azim Hasani dan Kubra Hasani pengungsi asal Aghanistan bersama Wakil Gubenur NTT, Josep Nae Soi, SH di ruang kerjanya, Rabu (19/5/2021). Hadir juga IOM Kupang
Suasana dialog Reza Khademi, Azim Hasani dan Kubra Hasani pengungsi asal Aghanistan bersama Wakil Gubenur NTT, Josep Nae Soi, SH di ruang kerjanya, Rabu (19/5/2021). Hadir juga IOM Kupang (POS-KUPANG.COM/NOVEMY LEO)
Wakil Gubernur NTT, Josep Nae Soi, SH, berdialog dengan Kubra Hasani, Reza Khademi dan Azim Hasani, pengungsi Afghansintan di Kupang serta Kepala IOM NTT, Asni di ruang kerjanya, Senin 19 Mei 2021 siang.
Wakil Gubernur NTT, Josep Nae Soi, SH, berdialog dengan Kubra Hasani, Reza Khademi dan Azim Hasani, pengungsi Afghansintan di Kupang serta Kepala IOM NTT, Asni di ruang kerjanya, Senin 19 Mei 2021 siang. (POS KUPANG/NOVEMY LEO)
RABU 19 Mei 2021, tiga orang pengungsi asal Aghanistan yang ada di Kota Kupang yakni Kubra Hasani, Reza Khademi dan Azim Hasani (kiri) menemui Wakil Gubenur NTT, Josep Nae Soi, SH di ruang kerjanya. Hadir juga Kepala IOM Kupang, Asni (kanan)
RABU 19 Mei 2021, tiga orang pengungsi asal Aghanistan yang ada di Kota Kupang yakni Kubra Hasani, Reza Khademi dan Azim Hasani (kiri) menemui Wakil Gubenur NTT, Josep Nae Soi, SH di ruang kerjanya. Hadir juga Kepala IOM Kupang, Asni (kanan) (POS-KUPANG.COM/NOVEMY LEO)

   

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved