Opini Pos Kupang

Formalisme Agama dan Kemunafikan Sosial

Ketika frase agama tidak dicantumkan dalam Peta Jalan Pendidikan Nasional (2020-2035), banyak Pemuka agama bereaksi keras

Editor: Kanis Jehola
DOK POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang 

Model pemahaman demikian menumbuhkan puritanisme yang menggaungkan penyeragaman dan pemutlakan. Walau sering berbenturan dengan pluralitas sebagai kenyataan sosial, puritanisme justru semakin beringas dan radikal.

Tidak bisa disembunyikan, misi terselubung dalam gerakan seperti ini. Ada upaya protektif untuk menutup rapat kebusukan individu melalui komunitas dungu bersumbuh pendek.

Kita tahu bahwa di tengah puritanisme agama yang dikobarkan dengan berapi-api, terungkap berbagai pelecehan seksual, poligami serampangan yang melecehkan dan merendahkan martabat perempuan.

Mereka dengan licik memanfaatkan kebodohan kelompok yang mengagumi ketokohannya hanya dari aspek visual dan narasi verbal ayat-ayat suci. Agama dijadikan topeng. Kesalehan dipamerkan secara dramatik-simbolik melalui kata-kata kosong dalam kotbah dengan referensi kitab suci.

Formalisme agama berujung pada pemahaman yang bersifat partikularitas-eksklusivitas. Dalam Pengantar buku The Great Transformation karya Karen Armstrong,(2007) Prof. M Amin Abdullah memberi catatan bahwa agama yang pemahamannya tergantung pada legitimasi kitab suci, yang dipahami secara tekstual, tanpa disadari dapat mengantar seseorang atau sekelompok orang pada sosok kesalehan yang keras, militan dan radikal.

Sosok keberagamaan model ini dengan mudah menanamkan rasa benci, marah, dendam, konflik, dan egotisme.

Untuk itulah, agama mestinya dipahami sebagai organisme yang hidup searah dinamika perkembangan manusia. Dalam tulisannya berjudul Menyegarkan kembali Pemahaman Islam (Kompas, 18 September 2012) Ulil Abshar Abdalla menegaskan bahwa agama bukanlah organisme yang mati.

Untuk itu agama harus terus-menerus ditafsirkan secara non-literal, substansial, kontekstual, dan sesuai dengan denyut nadi peradaban manusia yang sedang dan terus berubah. Apa pun penafsiran yang kita bubuhkan atas agama itu, patokan utama yang harus menjadi batu uji adalah maslahat manusia itu sendiri.

Pada titik ini, perlunya pencantuman frase agama dalam Peta Jalan Pendidikan Nasional (2020-2035) menjadi sangat berarti. Dalam kerangka Peta Jalan ini, pendidikan agama didesain untuk menjadi elemen yang turut membangun manusia Indonesia menjadi manusia berakhlak mulia, bermoral, dan mencintai kehidupan.

Universalitas-Inklusive

Nilai-nilai pendidikan agama yang semestinya dikedepankan adalah universalitas-inklusive. Melalui cara pandang demikian, agama menekankan compassionate ethic yang mengedepankan rasa simpati, empati, rasa hormat, senasib, sepenanggungan, murah hati, loyalitas, dan mampu bekerja sama antarsesama.

Karena pendidikan yang baik, bermartabat, dan manusiawi itu tumbuh dalam lingkungan masyarakat beradab, maka setiap penghujatan, penghinaan, penistaan yang dilakukan oleh para pemuka atau masyarakat biasa harus disikapi sama oleh masyarakat yang dinilai atau menilai diri sendiri sebagai masyarakat beradab.

Begitu juga pada aksi-aksi terorisme yang menggunakan topeng agama, radikalisme yang dilakukan atas nama agama, harus diperangi secara bersama. Kita tidak bisa menyucikan agama hanya dengan mengatakan bahwa agama manapun tidak menganjurkan kejahatan dan pembunuhan.

Karena sikap brutal, penyerangan dan pembunuhan hanyalah buah dari tafsir serta agitasi yang dilakukan oleh orang-orang yang ditokohkan.

Membumikan agama sebagai nilai kehidupan yang universal, tidak hanya menunggu guru agama di sekolah. Lingkungan kehidupan harus menjadi contoh tentang toleransi, sikap saling menghormati, sehingga nilai-nilai agama itu tumbuh dan mengakar sebagai praktik hidup.

Lingkungan sosial yang penuh dengan kemunafikan, tidak akan pernah menghasilkan kepribadian yang utuh baik dalam dalam diri siswa yang sedang mencari jati diri maupun masyarakat umum.(*)

Kumpulan Opini Pos Kupang

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved