Opini Pos Kupang

Arah dan Orientasi Pendidikan Vokasi

Kesenjangan antara dunia pendidikan dengan dunia usaha dan industri ( DUDI) semakin sulit terjembatani

Editor: Kanis Jehola
DOK POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang 

Yang ingin disampaikan dalam konteks ini adalah, dalam kondisi seperti apapun kreativitas siswa tetap tumbuh. Anak-anak muda kita adalah sumber daya potensial. Mereka memiliki motivasi tinggi, daya cipta dan kemauan keras berkompetisi. Yang ditunggu adalah terciptanya lingkungan internal dan eksternal yang terus memekarkan motivasi, kreativitas, daya cipta dan daya saing itu.

Kita membutuhkan ekologi pendidikan. Ada ruang yang luas bagi eksplorasi teknologi, pengembangan kreativitas secara optimal, inovasi dan daya saing. Dengan demikian, taut-suai tidak harus berorientasi tunggal dengan DUDI.

Kiblat DUDI yang ada dalam orbit digitalisasi global dapat menjadi pilihan tetapi tidak menjadi orientasi tunggal. Taut-suai dapat pula dengan pemerintah melalui perencanaan yang integratif. Taut-suai juga dilakukan dengan masyarakat dalam konteks pelayanan publik melalui aktivitas produktif.

Dunia pendidikan menjadi luas karena basis pelayanannya. Ruang belajar di sekolah justru menjadi wadah belajar bagi masyarakat yang memungkinkan interaksi bagi tumbuhnya minat berwiraswasta.

Ada banyak hal irasional yang berkembang dalam pengelolaan pendidikan vokasi. SMK Pertanian dengan spesifikasi peternakan berpraktek di kandang ayam peternak kampung. Mereka dibimbing peternak yang hanya memiliki pengetahuan resep yang terbatas.

Siswa SMK otomotif berpratek di bengkel motor masyarakat. Praktek seperti ini sangat paradoks. Mereka yang memiliki teori keilmuan, seharusnya memiliki fasilitas praktikum yang menjadi media belajar.

Media membuka ruang bagi masyarakat untuk belajar sekaligus sebagai basis transfer teknologi. Ekologi pendidikan kejuruan dalam konteks ini adalah menjadikan sekolah vokasi sebagai bagian integral dari perencanaan pembangunan sekaligus mengambil peran secara proporsiaonal.

Ketika pemerintah menggenjot kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan irigasi misalnya, maka ruang terbuka di depan adalah teknologi terapan yang seharusnya disediakan.

Kita membutuhkan tenaga penyuluh pertanian, penyuluh peternakan, tenaga kesehatan hewan, pengeolahan hasil panen, pemanfaatan limbah pertanian, industri pakan ternak dan banyak lagi.

Perencanaan pendidikan secara integratif seperti ini tidak kita temukan. Program tanam jagung panen sapi, tidak terdengar keterlibatan elemen masyarakat di dalamnya dan sentuhan teknologi terapan apa yang sebaiknya diintegrasikan dalam pragram.

Sama juga dengan program provinsi NTT sebagai provinsi sapi, provinsi jagung, yang menggema sebagai wacana tanpa action dan mengundang partisipasi masyarakat secara konkret.

Pengembangan sekolah vokasi berdasarkan potensi sumber daya alam adalah pendekatan pendidikan dengan ekologi pendidikan yang memberi tantangan riil untuk dijawab dalam perencanaan integratif dan muatan kurikulum pendidikan. Pendekatan ini mengisyaratkan keterlibatkan para pemangku kepentingan dalam perencanaan.

Yang paling penting adalah melakukan perencanaan secara interkoneksi sehingga terbangun konektivitas yang kuat antardaerah, keberagaman dan keunggulan spesifik tetap terpelihara.

Keluar dari Kovensi

Jika output pendidikan vokasi total diarahkan sebagai tenaga keja yang memiliki standar kompetensi memadai, maka diperlukan reformasi yang radikal. Kurikulum secara terpusat menetapkan standar kompetensi, jumah tenaga ahli minimal, instruktur ahli, bobot antara teori dan praktek, serta waktu yang dibutuhkan untuk dapat menyelenggarakan sebuah bidang keahlian.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved