Breaking News:

Kerentanan Pendidikan Anak Usia Dini Dimasa Pendemi Covid-19 Dalam Persperktif Nussbaum

Kerentanan Pendidikan Anak Usia Dini Dimasa Pendemi Covid-19 Dalam Persperktif Nussbaum

Kerentanan Pendidikan Anak Usia Dini Dimasa Pendemi Covid-19 Dalam Persperktif Nussbaum
istimewa
Jefry Liebertus,  Director of Apple Tree Pre – School Kupang

Kerentanan Pendidikan Anak Usia Dini Dimasa Pendemi Covid-19 Dalam Persperktif Nussbaum

Masa keemasan anak atau yang sering kita dengar dengan istilah Golden Age merupakan periode pertumbuhan dan perkembangan mulai 1000 hari pertama hingga sang anak berusia dua tahun. Pada masa ini terjadi pertumbuhan unsur motorik kasar dan halus, kognitif, kemampuan berbicara dan interaksi sosial dalam diri si anak, oleh sebab itu pada periode penting ini para orang tua dihimbau agar menaruh perhatian besar agar anak mereka dapat bertumbuh dengan sehat dan terhindar dari berbagai macam gangguan fisik yang bisa saja menyerang buah hati mereka.

Perhatian yang luar biasa dari keluarga atas pertumbuhan anak harus terus dilanjutkan ke jenjang berikutnya guna menyempurnakan perkembangan kehidupan anak dan mempersiapkan anak tersebut untuk terjun dan bercampur dengan lingkungan sosialnya. Pendidikan anak usia dini merupakan sebuah institusi pendidikan yang paling dasar dalam proses pembentukan pondasi anak secara formal, dalam artian bahwa si anak akan mendapatkan pelajaran didalam ruangan kelas bersama teman – temannya yang dipandu oleh seorang pengajar. Dengan mengikutsertakan anak kedalam proses pendidikan usia dini diharapkan bahwa si anak akan mendapatkan rangsangan eksternal guna pertumbuhan kognitif dan psikomotorik yang sesuai dengan apa yang dibutuhkannya.

Pendidikan anak usia dini menjadi begitu penting bagi pembangunan bangsa Indonesia bahkan pemerintah melalui UU Nomor 20 Tahun 2003 telah menegaskan bahwa PAUD baik formal maupun non-formal merupakan pendidikan sebelum sekolah dasar. Dari sini kita bisa melihat bahwa pemerintah pun menyadari dengan penuh bahwa anak – anak bangsa perlu untuk mendapatkan bimbingan dan pembinaan intelektual mulai dari usia yang dini sehingga bisa dihasilkan manusia Indonesia yang unggul dan sesuai dengan harapan serta cita – cita bangsa. *)

Pada awal tahun 2020 sebuah pandemi baru menyerang kehidupan manusia didunia ini dan tidak terkecuali negara kita, secara cepat dan tak terbentung virus baru dengan nama COVID-19 ini menggerogoti hampir semua aspek kehidupan kita. Dunia pendidikanpun tidak luput dari serangan wabah ini, dengan seketika semua sekolah – sekolah seantero negeri harus menutup pintu sekolah dan menggantikan proses pembelajaran tatap muka dengan metode pembelajaran baru yakni Belajar Dari Rumah (BDR) dengan menggunakan dan memanfaatkan segala media yang telah tersedia baik daring maupun luring. Penyampaian materi pembelajaran dilakukan dengan berbagai cara, bagi sekolah dan murid yang memiliki akses internet maka proses pembelajaran dilaksanakan berbasis aplikasi belajar digital, namun bagi mereka yang tidak memiliki sumber daya tersebut maka sekolah mengirimkan materi secara manual.

Cara pembelajaran seperti ini bagi pendidikan anak usia dini tentu saja tidak langsung dapat diterapkan secara sempurna berbagai kendala harus dihadapi baik oleh pihak sekolah maupun peserta didiknya, anak – anak yang seharusnya mendapatkan sentuhan langsung dari para pengajar tidak bisa lagi mengalaminya, dengan usia mereka yang masih sangat muda tentu saja akan menurunkan keinginan ataupun minat mereka untuk terlibat secara aktif pada proses pembelajaran seperti ini, namun mereka tetap harus mendapatkan pendidikannya walaupun keadaan yang serba sulit dalam pelaksanaannya.

Dalam menyikapi situasi ini Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan pada tanggal 4 Agustus 2020 telah mengambil langkah dengan mengeluarkan kebijakan kurikulum darurat pandemi dengan merampingan kurikulum K-13 dimana ketuntasan kompetensi dasar (KD) pada setiap mata pelajaran disederhanakan dan disesuaikan dengan keadaan masing – masing sekolah dengan tujuan memfokuskan pembelajaran pada hal yang esensial saja dan lebih mendalam. Namun bagaimana dengan pendidikan anak usia dini apakah hal ini bisa berjalan sesuai tujuan PAUD? tentu saja sudah bisa dipastikan bahwa meskipun dengan langkah tersebut, peserta didik dijenjang ini, tetap akan mengalami kesulitan dalam melakukan proses pembelajaran mengingat mereka merupakan manusia yang rapuh dan membutuhkan intervensi dan bantuan dari orang dewasa.

Kondisi diatas membuat kita berpikir bagaimana sikap yang harus kita ambil dalam menghadapi keadaan yang serba tidak menentu ini, apakah kita harus melawan situasi ini dengan berbagai cara atau memilih untuk berserah pada keadaan dengan pemikiran bahwa anak – anak itu masih kecil jadi tidak perlu terlalu merisaukan masalah pendidikanya sebab pendidikan sekolah dasar adalah awal pendidikan formal anak.

Manusia sebagai mahkluk ciptaanNya tentu saja tidak luput dari kekurangan, sebagai orang dewasa kita kerap kali terjebak dalam situasi – situasi yang tidak bisa kita kendalikan atau meskipun telah dikalkulasikan namun ternyata hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan dan kita harus berserah pada nasib. Pandemi COVID-19 adalah contoh dari situasi yang tidak menguntungkan bagi dunia pendidikan khususnya pada pendidikan anak usia dini, wabah ini telah mengambil paksa kebebasan anak untuk mendapatkan pelajaran yang ideal bagi usianya dan kesempatan untuk berinteraksi dengan teman – teman sekolahnya yang merupakan sebuah kegembiraan dan kebahagian bagi mereka.

Anak - anak usia dini merupakan manusia – manusia yang sedang bertumbuh secara fisik dan mental sehingga belum memiliki kematangan emosi dalam menghadapi lingkungan sekitarnya, mereka melakukan apa saja yang mereka rasakan dan inginkan secara spontan tanpa harus memikirkan sekelilingnya.

Halaman
12
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved