Prosesi Kudu Kuru Umbu Landu Wulang Paringgi, Keluarga : Berpuisilah dari Ruang Sunyimu

Keluarga Almarhum Umbu Landu Wulang Paringgi menyelenggarakan prosesi Kuru Kudu di Taman Makam Mumbul

Penulis: Michaella Uzurasi | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/MICHAELLA UZURASI
Tangkapan layar Umbu Rihi Meha Anggun Praing ketika membawa sambutan 

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Keluarga Almarhum Umbu Landu Wulang Paringgi menyelenggarakan prosesi Kuru Kudu di Taman Makam Mumbul, Nusa Dua, Bali pada Senin (12/04/2021).

Mewakili keluarga dalam sambutan, Umbu Rihi Meha Anggun Praing mengungkapkan rasa terimakasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam peristiwa duka tersebut.

Menantu Alm. Umbu Landu Paringgi ini menyampaikan pesan kepada alm. yang telah berpulang.

"Ingin kami sampaikan kepada mertua kami ayah kami pak Umbu Landu Wulang Paringgi, berpuisilah dari ruang sunyimu, karena aksara itu adalah aksara yang hidup yang bisa mempengaruhi dunia ini," ungkapnya.

Baca juga: Satgas Yonarmed 6/3 Kostrad Percepat Pemulihan Kondisi Instalasi Perpipaan Pasca Bencana

Baca juga: IKASTARA Peduli, Beri Bantuan kepada Korban Bencana Banjir di TTU

Dalam kesempatan tersebut dia mengungkapkan, alm. masuk rumah sakit pada tanggal 3 April dan menghembuskan nafas terakhir pada tanggal 6 April 2021 tepat pukul 13.55.

"Kalau hari ini kita berada di Mumbul ini merupakan satu tempat peristirahtaan sementara.
Istilah dalam bahasa Sumba itu Kurukudu," jelas Umbu Rihi.

Kurukudu, lanjut dia, berarti jiwa alm Umbu Landu Paringgi masih berada di sekitar kita.

"Jadi (Alm) belum mengendarai kuda putih. Dia belum mengendarai kuda merah untuk sampai ke nirwana atau sampai ke swarga loka," katanya.

Baca juga: Sengketa Tanah di Balauring, Eliazer menang atas Sofian Efendi di Pengadilan Negeri Lembata

Baca juga: Airlangga: Momentum Ramadan Penempaan Pemulihan dari Covid-19

Pada kain Sumba yang digunakan, Umbu Rihi menjelaskan, motif - motif yang terlihat seperti kulit ular merupakan lambang dari swarga loka.

" Itu namanya Patola Ratu, dan di dunia hanya ada dua, satu di Sumba satu di India. Patola Ratu ini kalau dibahasakan dalam bahasa Sumba artinya nanti semua manusia akan pergi pada keabadian di surga yang tidak ada lagi kematian," ujarnya.

"Kalau kita melihat juga di dalam merahnya itu ada Wuya Rara Wulang itu merupakan lambang aristokrasi. Lambang keberanian dan penyu merupakan lambang keteduhan. Jadi seorang pemimpin itu tidak boleh hanya marah tok tetapi dia juga harus punya teduh. Ada ayam Ina Rendi Ama Manu, artinya seorang pemimpin itu menjadi orang yang jantan tetapi dia juga harus menjadi pelindung. Tetapi dari kesemuanya itu, dia harus mengingat bahwa kau akan pergi ke kaheli manda mbata uma manda wuwu," tambahnya menjelaskan.

Menurut dia, itulah nilai yang diperankan oleh Umbu Landu Wulang Paringgi secara sempurna sampai pada kematiannya.

"Saya ketika balik S2 saya singgah di Lembah Pujian dia katakan kepada saya, Umbu Rihi, S2 itu banyak tetapi S2 itu tergantung bacaannya. Kemudian dia katakan, kau harus selalu ada didalam ruang sunyi sepi dalam keheningan. Saya tidak mengerti karena Saya bukan orang sastrawan apa artinya mertua saya mengatakan seperti itu," ceritanya.

"Tetapi untuk mencari itu saya coba membaca buku, saya menemukannya di buku Mother Teresa, disitu ada kalimat Mother Teresa, tidak ada manusia yang bisa menemui Tuhan ketika dalam suasana hiruk pikuk. Ini yang saya ingat kembali itu ternyata dia telah memberikan nilai pada saya," tambahnya.

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
BERITATERKAIT
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved