Filipina Ancam Minta Bantuan Amerika Hadapi China di Laut China Selatan , Gegera Milisi China
Gelombang besar kapal-kapal nelayang yang diduga bagian dari milisi yang dkerahkan Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) telah membuat pemerintah Fili
POS KUPANG.COM -- Gelombang besar kapal-kapal nelayang yang diduga bagian dari milisi yang dkerahkan Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) telah membuat pemerintah Filipina geram
Namun, tetangga Indonesia itu tak berdaya menghadapi China bila harus harus berusuan dengan militer China
Sehingga Filipina mengancam akan memintah bantuan Amerika bila kapal-kapal China itu tak beranjak dari perairan Filipina
Departemen Pertahanan Filipina mengatakan pada Kamis (8/4/2021), pihaknya dapat meminta bantuan Amerika Serikat, karena memiliki perjanjian pertahanan bersama, untuk melindungi kepentingannya di Laut China Selatan
Hal ini diungkapkan seiring adanya ancaman terselubung di tengah meningkatnya permusuhan dengan China atas karang yang diperebutkan di kawasan tersebut.
Melansir AP, Pemerintah Filipina telah menuntut agar ratusan kapal China yang diduga dioperasikan oleh milisi untuk segera meninggalkan Whitsun Reef , yang diklaim Manila , di wilayah perairan Spratly yang paling diperebutkan.
Sedangkan China bersikeras bahwa mereka memiliki wilayah terumbu karang tersebut dan kapal-kapal China berlindung dari laut yang ganas.
Baca juga: Amerika Keluarkan Senjata Canggih dari Gudang,Ingatkan China yang Agresig Tekan Taiwan & Filipina
Baca juga: Perang Besar Bisa Dimulai, Kapal Perang China dan AS Adu Kuat di Laut China Selatan, RI Berdampak
Baca juga: Filipina Geram, Ratusan Kapal China Kepung Laut China Selatan, Ternyata Kapal Nelayan, Benarkah?
Militer Filipina telah mengerahkan penjaga pantai dan patroli angkatan laut di dekat daerah tersebut, menerbangkan pesawat pengintai dan merilis gambar kapal-kapal China, banyak dari mereka tersusun berdampingan saat ditambatkan di terumbu, yang disebut Manila sebagai Julian Felipe.
Kebuntuan atas sengketa tersebut telah memicu perdebatan panas antara Menteri Pertahanan Delfin Lorenzana dan Kedutaan Besar China di Manila.
"Ketika situasi di Laut Filipina Barat berkembang, kami tetap membuka semua opsi kami dalam mengelola situasi, termasuk memanfaatkan kemitraan kami dengan negara lain seperti Amerika Serikat," kata juru bicara Departemen Pertahanan Nasional Arsenio Andolong dalam sebuah pernyataan, menggunakan Nama Filipina untuk Laut China Selatan.
Dia menambahkan, "Kami akan terus melakukan pembicaraan dengan AS tentang masalah pertahanan bersama. Kedua belah pihak berkomitmen untuk menjalankan kewajiban mereka berdasarkan Perjanjian Pertahanan Bersama sehingga tidak ada yang berdiri sendiri dalam masalah yang melibatkan hak pertahanan diri inheren kedua negara ini.”
Amerika Serikat mengatakan akan mendukung Filipina di tengah perselisihan dan menuduh China menggunakan milisi maritim untuk mengintimidasi, memprovokasi, dan mengancam negara lain.
Mengutip AP, Andolong menyambut baik pernyataan juru bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price, yang menegaskan kembali bahwa serangan bersenjata terhadap pasukan militer Filipina, kapal umum atau pesawat di Pasifik, termasuk di Laut China Selatan, akan mendorong kewajiban AS di bawah perjanjian sekutu tahun 1951.
Perjanjian itu menyatakan bahwa kedua negara akan saling mendukung jika diserang oleh negara lain di wilayah tersebut.
Namun, meminta perjanjian itu bisa menjadi langkah yang rumit dan dapat dihentikan oleh lawan dari kedua sisi, termasuk oleh anggota parlemen AS.