Laut China Selatan
Hasilkan Rp 71.957 Triliun per Tahun, Terungkap Alasan Tiongkok Klaim Wilayah Laut China Selatan
Hasilkan Rp 71.957 Triliun per Tahun, Terungkap Alasan Tiongkok Klaim Wilayah Laut China Selatan
POS-KUPANG.COM - Tindakan klaim sepihak yang dilakukan China atas Laut China Selatan, memang dikecam banyak negara di dunia.
Pasalnya, wilayah itu masih menjadi sengketa banyak negara seperti Filipina, Vietnam, Malaysia hingga Brunei.
Dengan percaya dirinya, China langsung mengambil alih wilayah sengketa itu dengan klaim sembilan garis putus-putus miliknya.
Sejak wilayah itu dalam genggaman China ternyata banyak hal mengejutkan terjadi.
Menurut kantor berita India ANInews, yang tayang pada Rabu (10/3/21), mengutip laporan Observer Research Foundation (ORF), ekspansi Laut China Selatan menyebabkan kerusakan ekosistem di laut.
Hal ini akan berdampak pada ketahanan pangan di negara kawasan laut itu, terutama Asia Tenggara.
Laporan ORF yang dilaporkan oleh para ahli Pratnashree Basu dan Aadya Chaturvedi, menganalisis dampak aktivitas Laut China Selatan, terhadap lingkungan ekologis.
Baca juga: Keutamaan Malam Nisfu Syaban, Hikmah Puasa Syaban Jelang Ramadhan 2021 Penjelasan Ustadz Abdul Somad
Baca juga: Beberkan Proses Malam Pertama Bareng Kalina, Vicky Prasetyo Bikin Publik Syok: Keperkasaan, Apa?
Baca juga: Moto GP 2021 Bakalan Seru, Tim Repsol Honda Sampaikan Kabar Terbaru Marq Marquez, Siap Ikut Moto GP?
Menurut laporan itu, pertambahan China dan pembangunan pulau buatan, pengeboran, ekploitasi minyak dan gas serta penangkapan ikan berlebihan.
Telah mendorong ekosistem di wilayah tersebut dalam tingkat yang rentan, kerusakan serius, yang mengarah pada kerusakan terumbu karang dan kehidupan laut.
Ekosistem laut di Laut Cina Selatan mengalami tekanan karena dianggap sebagai salah satu jalur laut internasional tersibuk di dunia.
Laut China Selatan saat ini menghadapi penangkapan ikan berlebihan China, eksploitasi kerang, kegiatan pengerukan untuk membangun pulau buatan dan eksploitasi minyak dan gas dengan hydrofracking.
Selain itu, kenaikan suhu air laut dan permukaan laut akibat perubahan iklim semakin menyebabkan kerusakan jangka panjang di kawasan ini.
Bagi China, perikanan memainkan peran penting dalam memastikan keamanan pangan bagi populasinya yang terus bertambah.
Diperkirakan pada tahun 2030, permintaan dari kelas menengah yang tumbuh di China akan mencapai sekitar 38% dari konsumsi ikan global.
Penangkapan ikan yang tidak diatur, ilegal dan berlebihan, telah menyebabkan penurunan cepat dalam stok ikan di wilayah pesisir China.