OJK Perkirakan Perekonomian Indonesia Membaik

Otoritas Jasa Keuangan ( OJK) memandang, Perekonomian sejumlah negara yang masih terkontraksi sepanjang tahun 2020

Penulis: F Mariana Nuka | Editor: Kanis Jehola
KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERA
Suasana konferensi pers Indonesia Investment Forum 2018 sebagai rangkaian acara Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018 di Bali, Selasa (9/10/2018). Turut hadir (dari kiri ke kanan) Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, Gubernur BI Perry Warjiyo, Menteri BUMN Rini Soemarno, Dirut Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo, dan Dirut Mandiri Sekuritas Silvano Rumantir. 

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Otoritas Jasa Keuangan ( OJK) memandang, Perekonomian sejumlah negara yang masih terkontraksi sepanjang tahun 2020 masih berimbas pada Perekonomian Indonesia.

Namun demikian, outlook ke depan diperkirakan membaik seiring penurunan laju infeksi harian secara global dan vaksinasi global yang semakin luas.

Dalam Rapat Dewan Komisioner (RDK) Otoritas Jasa Keuangan, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menjelaskan bahwa hal itu sejalan dengan kebijakan fiskal dan moneter akomodatif yang terus dijalankan berbagai negara untuk mendukung pemulihan ekonomi. IMF memperkirakan perekonomian global tahun 2021 akan pulih lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.

Warga Perbatasan Dapat Bingkisan dari Satgas Yonif RK 744

Dalam rilis yang diterima POS-KUPANG.COM dijelaskan, perkembangan positif tersebut mendorong pasar keuangan global termasuk Indonesia menguat di bulan Februari 2021. Sampai dengan 19 Februari 2020, IHSG menguat sebesar 6,3 persen mtd. Namun demikian, aksi risk on investor menyebabkan pasar SBN sedikit tertekan dengan rerata yield SBN naik sebesar 9,4 bps mtd.

Investor nonresiden mencatatkan net buy di pasar saham sebesar Rp2,49 triliun dan di pasar SBN sebesar Rp6,5 triliun mtd (ytd pasar saham: net buy Rp13,43 triliun; ytd pasar SBN: net buy Rp19,9 triliun).

Bupati dan Wakil Bupati Ngada Terpilih Gelar Ritual Adat Tii Ka Ebu Nusi

Dari sektor perbankan, Dana Pihak Ketiga (DPK) di bulan Januari 2021 tumbuh double digit sebesar 10,57 persen yoy. Sementara itu, walau kredit perbankan terkontraksi -1,92 persen yoy namun tren pertumbuhannya mengindikasikan perbaikan dari bulan sebelumnya, terutama didorong oleh bank BUMN dan BPD yang tumbuh masing-masing 1,45% dan 5,68% yoy.

Di industri keuangan non-bank, piutang Perusahaan Pembiayaan terkontraksi sebesar -18,6 perse yoy, terutama disebabkan oleh sektor rumah tangga seiring dengan masih rendahnya demand. Sementara itu, premi asuransi yang dihimpun industri asuransi tercatat naik tinggi sebesar Rp30,4 triliun (Asuransi Jiwa: Rp19,1 triliun; Asuransi Umum dan Reasuransi: Rp11,3 triliun) dan fintech P2P Lending November 2020 mencatatkan outstanding pembiayaan sebesar Rp15,34 triliun atau tumbuh sebesar 13,5 persen yoy.

Hingga 23 Februari 2021, jumlah penawaran umum yang dilakukan emiten di pasar modal mencapai 16, dengan total nilai penghimpunan dana mencapai Rp11,01 triliun. Dari jumlah penawaran umum tersebut, empat diantaranya dilakukan oleh emiten baru. Dalam pipeline saat ini terdapat 67 emiten yang akan melakukan penawaran umum dengan total indikasi penawaran sebesar Rp22,55 triliun. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Intan Nuka)

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved