Banjir Terjang Dua RT di Desa Oebelo Kupang

Hujan deras yang melanda wilayah Kota Kupang dan Kabupaten Kupang, Sabtu (20/2/2021) menyebabkan terjadi luapan banjir

Editor: Kanis Jehola
Dok. Camat Kupang Tengah.
Camat Kupang Tengah, Ridolf Tlaan saat memantau lokasi banjir di Desa Oebelo, Sabtu (20/2/2021). 

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Hujan deras yang melanda wilayah Kota Kupang dan Kabupaten Kupang, Sabtu (20/2/2021) menyebabkan terjadi luapan banjir di Desa Oebelo dan Desa Tanah Merah, Kecamatan Kupang Tengah.

Banjir setinggi betis orang dewasa ini melanda dua RT yakni RT 16 dan RT 20 tetapi juga menghanyutkan beberapa rumah warga. Banjir tersebut terjadi akibat luapan air dari jembatan Oetobo yang tersumbat yang diperparah lagi dengan tidak adanya drainase.

Disaksikan Pos Kupang, terdapat banyak kotoran seperti kayu dan material kali seperti pasir dan batu-batuan menahan laju aliran air di jembatan Oetobo. Akibatnya, air yang meluap tersebut masuk ker rumah-rumah warga. Bahkan mengalir di badan jalan negara Kupang-Atambua. Kondisi ini menyebabkan laju kendaraan yang melintasi melaju pelan karena derasnya air tersebut.

Satgas Pamtas Yonif RK 744/SYB Peroleh 15 Senpi dan 94 Munisi

Warga yang rumahnya kemasukan air terlihat membereskan barang-barang yang terendam sudah banjir dan menyelamatkan barang lainnya.

Ketua RW 03, Dusun 02, Desa Tanah Merah, Yermias Mesak mengatakan, akibat banjir meluap hingga menggenangi rumah-rumah warga.

Kabar Gembira, Dua Pasien Covid-19 di Nagekeo Dinyatakan Sembuh

"Warga yang berada di dekat kali perlahan mengambil lahan sebagian kali dengan cara membuat pagar, sehingga luas kali yang awalnya besar, perlahan mengecil dan mengakibatkan air atau banjir tidak dapat berjalan baik, makanya meluap," jelasnya

Lanjutnya, akibat dari perkecilnya area sungai atau kali ini, maka material yang dibawah banjir tidak dapat diteruskan, makanya menumpuk di ujung jembatan dan memgakibatkan air meluap.

Ia menyampaikan, kedalaman kali ini dahulunya mencapai 6 meter dan luasnya juga hampir mencapai 6 meter. Tapi karena air atau banjir yang tidak berjalan baik mengikuti saluran, mengakibatkan material yang dibawa air menumpuk, jadinya kali menjadi dangkal.

Ia mengatakan, pemerintah sudah melakukan antisipasi dengan cara mengeruk kali ini, namun tidak menyelesaikan persoalan luapan air tersebut.

Solusi terbaik adalah pemerintah harus melebarkan jalur kali tersebut. Sebab, arus air yang berada di jembatan tersebut berasal dari tiga kali besar.

Nolvi warga lainnya mengaku akibat hujan lebat tersebut mengakibatkan banjir yang besar dan menggenangi rumahnya. Agar air mengalir lancar maka dirinya bersama beberapa warga menjebol tembok pembatas, agar banjir dapat terbagi arah jalanya.

"Kami sempat memukul tembok penahan untuk membantu jalannya air, kalau tidak, rumah kami akan hanyut," kata dia.

Pnj Kades Oebelo, Daniel Henuk saat dikonfirmasi mengatakan, persolan banjir yang terjadi di dua desa ini sudah cukup lama disebabkan drainase tidak ada dan daerah aliran air semakin sempit.

Dikatakan, kali tersebut pernah dikeruk tahun 2017-2018, tapi kesulitannya di bawah jembatan tidak ada saluran pembungan air sehingga air akan meluap di musim penghujan.

Untuk mecegah agar tidak terjadinya persoalan banjir ini, kata Daniel, pemerintah akan lakukan komunikasi dengan warga pemilik lahan, supaya dapat melepaskan lahan itu, sehingga saluran air bisa diperlebar.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved