Opini Pos Kupang
Membaca Fenomena Covid-19 di Kota Kupang
Kata epidemiologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu epi atau upon yang berarti pada atau tentang
Oleh : Dr. Ermi Ndoen, Epidemiolog
POS-KUPANG.COM - Kata epidemiologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu epi atau upon yang berarti pada atau tentang. Demos atau people berarti penduduk dan logia yang berarti ilmu.
David E Lilienfeld dalam bukunya the Foundations of Epidemiology (Oxford, 2015) memaparkan epidemiologi sebagai studi tentang kejadian dan distribusi peristiwa, keadaan, dan proses yang berhubungan dengan kesehatan dalam populasi tertentu, termasuk di dalamnya untuk mengetahui faktor penentu yang mempengaruhi proses tersebut, dan menerapkan pengetahuan ini untuk mengendalikan masalah kesehatan yang relevan.
Secara umum, pendekatan atau studi epidemiologi ini bertujuan menjelaskan "etiologi" atau penyebab dari suata penyakit atau masalah kesehatan masyarakat; mencari tahu faktor-faktor yang memengaruhi kondisi tersebut dan mencari solusi atau langkah pengendalian terhadap masalah yang dihadapi.
Istilah atau kata epidemiologi yang awalnya lebih berkembang di kalangan praktisi klinis atau kesehatan masyarakat; dengan adanya Pandemi Covid-19 atau C19, menjadi istilah umum yang banyak dipakai atau dikenal di semua kalangan.
Saat ini istilah-istilah yang dulunya bersifat "teknis" menjadi sangat akrab di telinga masyarakat kita. Salah satu contoh bagaimana evolusi istilah-istilah teknis kesehatan ini menjadi bahasa awam sehari-hari adalah istilah pendemi.
Istilah ini dipakai untuk mengambarkan suata penyakit/masalah kesehatan yang penyebarannya sangat luas melewati batas negara dan benua serta kelompok populasi masyarakat yang besar. Sekarang dikenal baik oleh semua kalangan.
• Incinerator Pemprov NTT di Manulai Kupang Mulai Beroperasi Hari Ini
Bukan hanya itu, beberapa program kesehatan yang dulunya susah, saat ini mendapat momentum yang baik dan dilaksanakan. Cuci tangan pakai sabun, adalah salah satu contoh program kesehatan yang tiba-tiba gampang dilaksanakan.
Hari cuci tangan pakai sabun (CTPS) sedunia, yang awalnya dicetuskan pada tanggal 15 Oktober 2008 oleh Global Handwashing Partnership karena susah mengajak orang cuci tangan; sekarang menjadi fenomena "normal baru".
Demikian juga penggunaan masker yang biasanya hanya dilakukan para petugas kesehatan di ruang bedah, ruang perawatan atau ruang isolasi lainnya, sekarang harus menjadi kebiasaan baru kita yang dilakukan oleh semua orang.
Budaya bergerombol dan mengelompok, terutama saat antrean, kini harus kita tinggalkan. Ruang-ruang tanpa jarak sosial harus kita batasi, memberi jarak privasi dalam arti sebenarnya bukan hanya konteks personal. Jaga jarak dan hindari kerumunan harus menjadi kebiasaan baru. Semua berubah dan kita harus beradaptasi terhadap perubahan ini.
Dalam konteks epidemilogi; memahami suatu fenomena penyakit atau masalah kesehatan masyarakat, juga tidak terlepas dari memahami kecendrungan faktor-faktor tertentu terhadap masalah yang terjadi.
Di masa pandemi C19 ini, di NTT khususnya di Kota Kupang, fakta, data, informasi dan berbagai kecenderungan yang ada sudah tersedia dan bisa dipakai untuk dasar mencari cara mengendalikan eskalasi jumlah orang terinfeksi C19 yang makin di luar kendali.
Banyak ahli dan contoh dari berbagia tempat dan negara sudah terang benderang menyarankan beberapa langkah untuk mengendalian Pandemi C19, khususnya Gerakan 3 M (masker, mencuci tangan, menjaga jarak) dan 3T (tracing, testing, treatment). Khusus di NTT, upaya 3M digemakan terus hingga sekarang, masih menjadi pekerjaan rumah bersama untuk masalah disiplin, terutama di awal-awal pandemi, dimana contoh dan gerak tubuh tidak seirama dan kata dan perbuatan.
Kapasitas testing, yang menjadi kunci mendeteksi virus di NTT, tidak ada perubahan. Upaya tracing tidak disupport dengan sumber daya yang cukup.
Apalagi masalah "treatment" atau pengobatan; hanya 13 persen masyarakat Kota Kupang yang bisa ditampung di fasilitas kesehatan khusus C19; sekitar 1440 (87 persen) dari total 1660 positif aktif C19 masih menanti dukungan perawatan dari rumah masing-masing.
Ini beban yang sangat tinggi buat petugas Puskesmas untuk bisa menjangkau semua yang butuh pertolongan sewaktu. Patut kita ingat bahwa pantau orang sakit tidak mengikuti jam kantor.
Mereka bisa sewaktu-waktu mengalami penurunan kondisi yang butuh tindakan segera petugas kesehatan, yang jumlahnya sangat terbatas ini.
Ilmu epidemilogi juga bisa memberikan gambaran besarnya beban yang suatu penyakit atau masalah kesehatan. Ketika eskalasi kasus meningkat, otomatis beban terhadap system pelayanan kesehatan langsung meningkat. Jumlah ruangan yang harus ditambah, harus sebanding dengan jumlah tenaga yang tersedia.
Demikian juga dengan jumlah peralatan, obat-obatan dan logistic pendukung. Contoh kasus di Kota Kupang, peningkatan kasus, berimbas pada kekurangan ruangan perawatan dan juga petugas baik jumlah terbatas atau karena ada yang terinfeksi. Juga berimbas pada kebutuhan fasilitas pendukung seperti ruangan isolasi, ventilator dan yang sekarang lagi ramai -adalah ketersediaan oksigen untuk rumah sakit maupun untuk Masyarakat yang sedang melaksanakan karantina mandiri.
Keterbatasan fasilitas kesehatan juga berimbas pada masyarakat lain yang butuh pertolongan kesehatan non C19. Beberapa saat lalu ada korban kecelakaan yang meninggal di kendaraan yang mengantarnya karena ruangan IGD di beberapa rumah sakit tidak bisa menerimanya karena sedang merawat pasien C19.
Mungkin ini saatnya menyediakan fasilias IGD khusus untuk C19 sehingga, pasien umum tetap terlayani. Syukur-syukur kalau ada kebijakan "rumah sakit" khusus C19 dan non C19 bisa tersedia, sehingga orang tidak ragu-ragu mencari pertolongan pada saat dibutuhkan.
Beban sosial masyarakat akibat pandemic C19 ini tidak harus dilihat dari fenomena epidemiologi saja. Data memang menunjukan bahwa angka C19 positif banyak di kalangan muda; sementara yang meninggal di kalangan usia tua dan dengan beberapa penyakit bawaan.
Ini artinya faktor mobilitas orang muda berakibat pada meningkatnya kasus. Kondisi ini juga memaparkan bahwa banyak infeksi terjadi di lingkungan keluarga.
Saat ini, banyak masyarakat kita adalah pengguna aktif sosial media. Platform sosial media applikasi seperti facebook (FB), whatsapp, Instagram, twitter dan lain-lain menjadi teman sehari-hari.
Postingan-postingan di berbagai platform sosial media kita juga bisa dijadikan "indikator kasar", bagaimana bahayanya ancaman virus C19 ini. Saat ini, tiada hari tanpa postingan "dukacita" di halamana FB.
Dari satu group alumni yang saya ikuti, postingan dukacita ini bahkan bisa mencapai tiga -empat orang per hari. Sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Ini adalah indikasi bahwa bahwa fatality rate pandemic ini tinggi, walau secara scientific dan epidemilogi harus ada analisa lanjutan, tapi fenomena ini harus ditangkap sebagai alarm keseriusan bahaya virus C19 ini.
Alarm lain yang kita tangkap -tanpa perlu ilmu epidemiologi -adalah makin seringnya raungan sirene mobil jenazah mengantarkan orang-orang yang pergi mendahului kita dengan cara "kenormalan baru".
Kepergian mereka yang begitu mendadak; dengan prosesi "perpisahan" secara "protokol". Jumlah ini tidak semuanya terdata, karena ada yang meninggal di rumah, sebelum sempat di rawat atau di data.
Kita mungkin hanya bisa tahu berapa jumlah mereka, ketika kita menatap dan menghitung jumlah liang-liang kubur baru di kompleks keabadian "DAMAI" di Fakutua.
Dalam masa pandemic ini, sebenarnya semua ilmu bisa dipakai untuk menganalisa. Semua pendekatan bisa dipakai untuk mencari solusi. Tapi hasil akhir hanya bisa dilihat dari seberapa cepat dan keputusan apa bisa kita buat dari semua informasi dan fenomena yang ada. Semoga kita tidak tetap terlambat. Semoga pandemi ini cepat berakhir. (*)