Breaking News:

Opini Pos Kupang

Menjaga Peradaban Webiku-Wehali

Zaman sudah berubah dan situs-situs budaya yang sakral sudah tidak banyak diketahui generasi muda

Menjaga Peradaban Webiku-Wehali
Dok POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang

Oleh : Emanuel Bria Peminat Sejarah dan Budaya

POS-KUPANG.COM - Zaman sudah berubah dan situs-situs budaya yang sakral sudah tidak banyak diketahui generasi muda. Kita memang tidak hidup dalam sebuah kultur tulisan, sehingga sejarah dan kebudayaan bisa digali di manuskrip-manuskrip kuno, di perpustakaan-perpustakaan dunia.

Kalaupun ada, sejauh yang bisa ditemukan adalah sejarah kolonial Eropa di Pulau Timor pasca keruntuhan Webiku-Wehali tahun 1642 oleh Portugis bersama kroni-kroninya.

Segelintir orang memang lebih suka pamer barang-barang peninggalan Portugis untuk melegitimasi sejarahnya. Tentu tidak masalah, bukankah itu juga bagian dari sejarah kita. Tapi cilaka dua belas kalau identitas kultural dan sejarah kita hanya didefinisikan oleh sebuah barang antik warisan kolonial.

Dukung Pemprov Sewa Lab PCR Swasta

Leluhur kita memang hanya mewariskan rumah-rumah adat, situs-situs budaya tempat membuat ritual adat serta pertalian antara suku dan rumah adat yang terhimpun dalam berbagai Tafatik (tempat tinggal pemangku adat sebuah "Kena'ian") dengan tugas dan tanggungjawab yang berbeda.

Betul, kita tidak akan menemukan manuskrip-manuskrip kuno tentang Webiku-Wehali tapi kita memiliki rumah-rumah adat, kampung-kampung adat dan situs-situs ritual adat yang saya sebut sebagai perpustakaan hidup karena di situ kita bisa menemukan kekayaan budaya dan tradisi yang masih tersimpan rapi dalam berbagai praktik ritual adat.

Gerak laju perubahan jaman memang tidak bisa mundur. Waktu berubah dan kita berubah di dalamnya. Tapi perubahan semacam apa yang hendak dicapai tanpa tercerabut dari akar tradisi dan kebudayaan?

Deretan Keindahan Pariwisata NTT: Tak Hanya Andalkan Komodo

Di masa lalu para pemangku adat kerajaan memiliki peranan yang sangat sentral dalam berbagai pranata sosial kemasyarakatan dari urusan ritual spiritual adat yang sakral hingga pemerintahan.

Zaman sekarang, persoalan pemerintahan sudah diambil-alih oleh negara dengan strukturnya sampai tingkat desa. Lalu peranan apa lagi yang masih tersisa dari para pejabat adat? Tentu yang tidak tergantikan adalah menjadi "guardians of civilization" (penjaga-penjaga peradaban).

Segelintir orang menilai bahwa menjalankan tugas dan tanggungjawab untuk menjaga alam, lingkungan dan kebudayaan merupakan sesuatu yang kuno dan primitif. Akan tetapi mereka lupa bahwa bencana-bencana alam terbesar sepanjang masa terjadi karena manusia merasa lebih superior dari alam lingkungan.

Halaman
123
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved