Breaking News:

Opini

Buku dan Gerakan Literasi

Goenawan Mohamad dikenal publik luas sebagai pendiri Majalah Tempo, jurnalis, esais, penyair, penulis buku dan belakangan, pelukis.

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
Steph Tupeng Witin 

Kesadaran akan daya energi inspirasi buku inilah yang mendorong lahirnya gerakan literasi di seantero jagat ini. Buku menjadi titian bagi para pegiat literasi untuk lebih dekat dengan pembaca buku dan pencinta gerakan literasi. Setiap orang digerakkan dan dimotivasi untuk mendekati buku, merobek sampulnya, membuka lembaran, membaca isinya, mencerna dan menyimpannya dalam bank kesadaran.

Ide yang tersimpan menjadi milik pribadi pembaca dan dalam interaksi dengan realitas akan menemukan ruang pengujiannya. Ide bisa identik dengan realitas, bisa bertentangan dan bisa menjadi jalan untuk lebih akrab bahkan menyatu dengan realitas dalam sebuah gagasan solutif.

Jejaring Literasi

Pegiat literasi membangun jejaring dengan semua elemen yang berkehendak baik untuk berbagi kekayaan buku agar bisa dijangkau oleh warga di pulau-pulau terpencil yang hanya membaca alam yang kering dan gersang lalu sedikit hijau di musim hujan seperti saat ini.

Pegiat literasi mendedikasikan hidupnya bagi orang banyak dengan mengandalkan relasi jejaring sosial yang semakin terbatas di era pandemi ini. Dedikasi ini terkadang dipandang “sebelah mata” oleh mereka yang berada di tubir kesadaran akan pentingnya buku bagi proses pencerdasan generasi.

Pegiat literasi berjuang melawan tantangan terbesar dalam dunia literasi yaitu kemalasan berpikir dan kesetiaan berjuang. Orang tergoda dengan kemapanan diri dan kenyamanan kuasa. Tapi malas untuk mendedikasikan diri dengan memilih jalan sunyi melalui gerakan literasi.

Dalam catatan sejarah peradaban, biara-biara dan pastoran menjadi pusat gerakan intelektual dan penyemaian gerakan literasi. Orang-orang datang ke biara karena di situ ada buku, majalah, koran dan ruang diskusi intelektual.

Soekarno dulu datang ke Biara St Yosef Ende saat menjalani pengasingan karena ada perpustakaan lengkap (zaman itu) tempat ia menimba ilmu dan berdiskusi dengan para misionaris Serikat Sabda Allah (SVD).

Pater Arnold Dupont SVD menyediakan buku dan majalah/koran di Pastoran Lamalera sehingga orang bisa membaca apa yang mereka suka.

Pater Eugene Schmitz SVD membangun Taman Baca Siloam di Dekenat Lembata kala itu. Pater Bernard Muller SVD dulu menyediakan buku-buku di Pastoran Waibalun agar anak-anak bisa membaca.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved