Opini

Buku dan Gerakan Literasi

Goenawan Mohamad dikenal publik luas sebagai pendiri Majalah Tempo, jurnalis, esais, penyair, penulis buku dan belakangan, pelukis.

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
Steph Tupeng Witin 

Semua ini tinggal memori. Mungkin situasi masa itu jauh lebih maju khususnya dalam gerakan literasi ketimbang era digital-milenial saat ini.

Kita mesti mengatakan bahwa sekarang ini, pusat intelektual telah beralih ke rumah-rumah warga yang mencintai buku. Ada yang membangun taman baca, sediakan buku, latihan membaca dan latihan menulis.

Gerakan literasi justru muncul dari kelompok awam yang peka dan peduli dengan minimnya peran para “pilihan langit” yang dulu terkenal intelektual karena menyatu dengan bumi.

Mungkin saja pada “suatu waktu”, orang-orang biara datang membaca buku, koran dan majalah di rumah warga karena tidak ada buku, majalah dan koran lagi di biara. Mungkin saja hal ini terjadi karena “tempat suci” ini telah beralihfungsi menjadi literasi isu, manajemen gosip, cerita lawak, dagelan dan literasi “milenial tekan tuts handphone.”

Saatnya, dalam gerakan literasi, peran awam menjadi signifikan agar menerangi “orang-orang” yang saat ini menempati tempat-tempat yang dulu menjadi pusat intelektual dan gerakan literasi. *

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved