Opini
Buku dan Gerakan Literasi
Goenawan Mohamad dikenal publik luas sebagai pendiri Majalah Tempo, jurnalis, esais, penyair, penulis buku dan belakangan, pelukis.
Buku dan Gerakan Literasi
Oleh Steph Tupeng Witin
Perintis Oring Literasi Lembata
GOENAWAN Mohamad dikenal publik luas sebagai pendiri Majalah Tempo, jurnalis, esais, penyair, penulis buku dan belakangan, pelukis. Deretan karya dalam beragam bentuk memperkaya khazanah imajinasi intelektual Indonesia. Ia setia berkarya dalam ruang waktu hingga masa tua. Bahkan pada usia pensiun, kreativitasnya justru seolah tak tertahankan.
Catatan Pinggir terbit setiap minggu di Tempo. Kumpulan tulisan menjelma dalam buku lintas ilmu membandangi rak toko-toko buku. Buku-buku puisi yang meneguhkan predikat kepenyairannya terus dicetak. Energi kreativitas tak pernah berhenti menggerakkan imajinasinya untuk terus mengeluarkan perbedaharaan kekayaan “spiritual” yang terbingkai dalam tubuhnya yang ringkih.
Mas Goen, sapaan akrabnya, hendak menginspirasi semua generasi agar tidak pernah boleh berhenti berkarya hingga kapan pun. Waktu yang terus bergulir tanpa kompromi mesti dibarengi dengan kesetiaan untuk terus berkarya sebagai investasi intelektual bagi peradaban.
Kesetiaan menghidupi profesi, kerajinan membaca, ketelatenan berdiskusi dan kedisiplinan menuangkan gagasan menjadi peringatan bagi setiap generasi agar - meminjam istilah biblis - “menyalibkan” kemalasan berpikir, berusaha dan bekerja.
Penulis beruntung menjadi salah satu peserta dalam seminar terbatas bertajuk “Menulis Opini Bersama Goenawan Mohamad” di Auditorium Nurcholish Madjid Universitas Paramadina, Selasa (30/03/2010) yang diinisiasi Tempo Institute-Center of Excellent Journalism-dan Universitas Paramadina. Pesertanya adalah penulis-penulis besar yang namanya terpampang di Kompas, The Jakarta Post, Tempo, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika dan sebagainya.
Maklum, Goenawan Mohamad tidak pernah bercerita tentang proses menulis Catatan Pinggir dan ribuan karya intelektual-sastra lain yang menggenangi ruas-ruas waktu hidupnya. Orang-orang intelektual ini berpenampilan sederhana: kaos oblong lusuh, sandal jepit, celana jeans kusut.
Goenawan Mohamad yang tulisannya digandrungi setiap generasi ini pun berpenampilan sederhana: celana putih berwarna kusam, baju kemeja lengan panjang lusuh yang dilipat lengannya, sepatu hitam. Bicara juga irit. Materi sederhana dari pengalaman konkret. Jawab pertanyaan peserta seadanya. Malah, GM justru membuka ruang diskusi dan sharing pengalaman proses kreatif di antara sesama penulis.
Titik ini yang menerbitkan pengalaman indah: seorang penulis hebat dan serba bisa ini tetap seorang manusia biasa yang rendah hati, terbuka untuk belajar dari pengalaman orang lain dan tidak menjadikan ketenarannya sebagai sebuah “kehormatan” yang pantas diabadikan oleh para pengagum yang rela merogoh kantongnya dan membayar mahal rentang waktu seminar intelektual terbatas ini.
Goenawan Mohamad mengatakan, Catatan Pinggir ia tulis untuk memperkenalkan buku yang tentu saja dibaca dengan serius. Ia berkisah, pada awal Orde Baru, ada banyak toko buku yang berdiri di mana-mana tapi kebanyakan menjual buku manajemen dan ramalam-ramalan yang ia sebut sebagai “kebodohan” zaman itu.
Sementara “di luar” ada banyak buku bagus yang tidak beredar, apalagi dibaca di dalam negeri. Ia ingin menarik perhatian publik intelektual bahwa banyak buku bagus yang penting untuk dibaca. Ia sengaja menulis dengan bereferensi pada banyak buku untuk memantik pembaca agar mencari dan membacanya. Saat membaca buku, biasanya pembaca sering menulis di pinggir, memberi komentar atas isi buku, memberi warna pada tulisan. Itu yang disebut marginalia, catatan pinggir. Suatu komentar atas isi buku yang dibaca.
Itulah awal mula dari Catatan Pinggir di Majalah Tempo yang ditunggu penikmat hingga saat ini. Sebuah ide yang mengusung gagasan besar lahir dari kebiasaan intelektual yang sederhana dan biasa. Membaca buku menjadi laku intelektual yang melahirkan gagasan tertulis untuk menginspirasi orang lain agar menjadikan buku sebagai sumber inspirasi dan penggerak kreativitas untuk mengabadikan pikiran agar tidak diterbangkan angin ke langit hampa.
Buku yang dibaca dengan serius akan menjadi sumber mata air yang mengalirkan ribuan ide segar dan menggerakkan orang membuat catatan pinggir bagi dirinya lalu menyempurnakannya menjadi “catatan abadi” dalam kenikmatan jiwa intelektual pembaca melalui artikel dan buku.
Buku Sumber Inspirasi
Catatan Pinggir ternyata berawal dari sebuah ide sederhana untuk memasyarakatkan buku-buku bermutu bagi rakyat Indonesia. Memang, setiap orang memiliki intensi membaca buku yang berbeda. Bagi penulis, buku menjadi titian untuk membuka horizon wawasan agar lebih peka membaca tanda-tanda zaman dan tergerak membarui realitas melalui karya intelektualnya.
Profesi menulis memang masih menjadi kemewahan bagi mayoritas rakyat karena identik dengan keterpencilan dari kesejahteraan (ekonomi), jejaring bisnis (uang) dan gebyar kekuasaan (politik).
Para penulis khususnya penyair adalah sosok-sosok idealis yang memilih jalan sunyi untuk mencapai kenikmatan intelektual dan keterpesonaan jiwa. Mereka berani menceburkan diri dalam sebuah dunia yang identik dengan keterpencilan, seolah terpisah dari ruang publik, bergulat dengan ide dan refleksi dalam sunyi agar bisa melahirkan karya yang sesungguhnya bila dicerna dengan serius ternyata lebih dekat dengan realitas hidup. Karya-karya mereka menjadi jalan paling singkat menuju kepada manusia dan hidupnya. Mereka mengambil jarak agar lebih jernih membaca kenyataan dan lebih bening melahirkan pikiran segar berdaya menerangi hidup.
Buku lahir dari kedalaman pikiran dan renungan yang merupakan buah refleksi penulis atas kenyataan yang biasa dan sederhana. Buku menjadi titian bagi penulis untuk mengilhami publik pembaca agar melihat realitas dari sisi yang lebih “dalam” lalu terus berpikir, merenung, mencerna, mengunyah dan berkulminasi pada tulisan terpublikasi di ruang publik berupa artikel dan buku, yang terus memantik ide, pikiran dan gagasan baru lagi.
Sebuah buku yang terbit tidak sebatas terpajang di rak toko buku tapi mesti dibaca dan didiskusikan sehingga melahirkan gagasan baru yang akan memberi inspirasi sehingga bisa saja memunculkan buku baru lagi. Buku menjadi inspirasi yang abadi.
Kesadaran akan daya energi inspirasi buku inilah yang mendorong lahirnya gerakan literasi di seantero jagat ini. Buku menjadi titian bagi para pegiat literasi untuk lebih dekat dengan pembaca buku dan pencinta gerakan literasi. Setiap orang digerakkan dan dimotivasi untuk mendekati buku, merobek sampulnya, membuka lembaran, membaca isinya, mencerna dan menyimpannya dalam bank kesadaran.
Ide yang tersimpan menjadi milik pribadi pembaca dan dalam interaksi dengan realitas akan menemukan ruang pengujiannya. Ide bisa identik dengan realitas, bisa bertentangan dan bisa menjadi jalan untuk lebih akrab bahkan menyatu dengan realitas dalam sebuah gagasan solutif.
Jejaring Literasi
Pegiat literasi membangun jejaring dengan semua elemen yang berkehendak baik untuk berbagi kekayaan buku agar bisa dijangkau oleh warga di pulau-pulau terpencil yang hanya membaca alam yang kering dan gersang lalu sedikit hijau di musim hujan seperti saat ini.
Pegiat literasi mendedikasikan hidupnya bagi orang banyak dengan mengandalkan relasi jejaring sosial yang semakin terbatas di era pandemi ini. Dedikasi ini terkadang dipandang “sebelah mata” oleh mereka yang berada di tubir kesadaran akan pentingnya buku bagi proses pencerdasan generasi.
Pegiat literasi berjuang melawan tantangan terbesar dalam dunia literasi yaitu kemalasan berpikir dan kesetiaan berjuang. Orang tergoda dengan kemapanan diri dan kenyamanan kuasa. Tapi malas untuk mendedikasikan diri dengan memilih jalan sunyi melalui gerakan literasi.
Dalam catatan sejarah peradaban, biara-biara dan pastoran menjadi pusat gerakan intelektual dan penyemaian gerakan literasi. Orang-orang datang ke biara karena di situ ada buku, majalah, koran dan ruang diskusi intelektual.
Soekarno dulu datang ke Biara St Yosef Ende saat menjalani pengasingan karena ada perpustakaan lengkap (zaman itu) tempat ia menimba ilmu dan berdiskusi dengan para misionaris Serikat Sabda Allah (SVD).
Pater Arnold Dupont SVD menyediakan buku dan majalah/koran di Pastoran Lamalera sehingga orang bisa membaca apa yang mereka suka.
Pater Eugene Schmitz SVD membangun Taman Baca Siloam di Dekenat Lembata kala itu. Pater Bernard Muller SVD dulu menyediakan buku-buku di Pastoran Waibalun agar anak-anak bisa membaca.
Semua ini tinggal memori. Mungkin situasi masa itu jauh lebih maju khususnya dalam gerakan literasi ketimbang era digital-milenial saat ini.
Kita mesti mengatakan bahwa sekarang ini, pusat intelektual telah beralih ke rumah-rumah warga yang mencintai buku. Ada yang membangun taman baca, sediakan buku, latihan membaca dan latihan menulis.
Gerakan literasi justru muncul dari kelompok awam yang peka dan peduli dengan minimnya peran para “pilihan langit” yang dulu terkenal intelektual karena menyatu dengan bumi.
Mungkin saja pada “suatu waktu”, orang-orang biara datang membaca buku, koran dan majalah di rumah warga karena tidak ada buku, majalah dan koran lagi di biara. Mungkin saja hal ini terjadi karena “tempat suci” ini telah beralihfungsi menjadi literasi isu, manajemen gosip, cerita lawak, dagelan dan literasi “milenial tekan tuts handphone.”
Saatnya, dalam gerakan literasi, peran awam menjadi signifikan agar menerangi “orang-orang” yang saat ini menempati tempat-tempat yang dulu menjadi pusat intelektual dan gerakan literasi. *
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pater-steph-tupeng-witin-svd.jpg)