Opini Pos Kupang

Bencana dan Spekulasi Teologis

Meletusnya gunung Ile Lewotolok di Lembata -NTT, pada 29/11 telah menghadirkan aneka tanya tak terkecuali adalam bidang agama

Editor: Kanis Jehola
zoom-inlihat foto Bencana dan Spekulasi Teologis
Dok POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang

Oleh : Robert Bala, Alumnus Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol.

POS-KUPANG.COM - Meletusnya gunung Ile Lewotolok di Lembata -NTT, pada 29/11 telah menghadirkan aneka tanya tak terkecuali adalam bidang agama. Doa lintas agama hingga upacara adat (5/12/2021) dari 27 suku di seputar gunung setinggi 1432 mdpl dilakukan demi melerainya.

Yang jadi pertanyaaan: apakah `emosi' gunung dapat dilerai degan ritus agama dan adat? Pertanyaan ini tidak tunggal. Begitu mudah melibatkan Tuhan dalam pergumulan hidup yang menyebabkan konflik horizontal begitu mudah terjadi. Ayat penuh ancaman mayat begitu diobral sebagai solusi.

Apakah terjadi hubungan kausatif antara penderitaan sebagai hukuman atas dosa manusia? Jawaban Santo Thomas Aquinas dalam Summa Theologiae tentang keheranan metafisis akan motus (gerak) bisa dijadikan jawaban.

Baca juga: Diancam Enam Tahun Penjara, Gadis yang Hina Petugas Kesehatan Ternyata Pelajar SMA

Segala yang bergerak pastilah digerakkan oleh yang lain. Karenanya pasti ada Penggerak Pertama yang bernama motor immobilis; Dialah Tuhan. Yang menjadi pertanyaan: apakah `Penggerakan Utama' itu membuat ketergantungan dengan ciptaanNya? Secara antropomorfistik, manusia mengganggap reaksi Tuhan sama dengan rekasi manusia terhadap milikNya.

Artinya, perbuatan ciptaan (manusia) akan berpengaruh terhadap `reaksi' Tuhan. Jelasnya, selagi manusia berbaik hati, hidup secara konsisten, ia pun `tersenyum'. Sebaliknya, ketika manusia jatuh dalam dosa, ia akan `murka'. Bencana alam, malapetaka, kematian, dianggap `balasan' setimpal dariNya.

Pemahaman ini kemudian dicari pembenarannya melalui ayat-ayat penuh ancaman `mayat'. Neraka dianggap `jatuh' bagi yang ingkar. Tetapi ganjaran nirwana juga telah disiapkan bagi yang membela agama.

Baca juga: 31 Januari 2021 Kota Kupang Sumbang Pasien Covid-19 Sembuh Terbanyak di NTT, Ini Datanya

Cara pandang seperti ini sekilas terlihat efektif. Dalam waktu dekat terjadi perubahan drastis. Praksis ritual agama dilaksanakan (meski dilakukan atas dasar ketakutan).

Tetapi apakah hal ini sesuai dengan maksud Tuhan? Terlalu berani mewakili Tuhan. Meski hal itu bisa dibuktikan dari ayat-ayat Kitab Suci, tetapi proses redaksi teks mesti didalami demi menangkap pesan yang lebih kontekstual.

Kemahakuasaan Tuhan melampaui tafsiran manusia. Alam semesta dan seisinya diciptakan dalam status sempurna. Ia juga memberikan otonomi pada ciptaanNya. Kepada manusia, sebagai mahkota ciptaan diberikan akal budi dan kehendak untuk bertanggungjawab menjaga semesta alam.

Dari analisis ini maka tidak ada korelasi antara gejala alam (seperti gempa bumi dan gunung meletus) dengan amarah Tuhan. Memang dalam kacamata manusiawi (dan hal itu terbukti efektif), setiap bencana alam menghadirkan `pertobatan'. Demikian juga ancaman ayat bernuansa mayat juga kerap menjadikan orang lebih `alim'.

Tetapi ini hanyalah spekulasi. Oleh kepentingan sesaat yang juga sesat, orang memanipulasi ayat-ayat suci demi tujuan jangka pendek. Ia terbukti efektif mengantar orang pada kekuasaan. Namun waktu membuktikan kepicikan itu.

Transformasi

Lalu, apa yang perlu dilakukan di tengah bencana alam yang dipenuhi aneka spekulasi teologis?

Pertama, iman perlu selalu mencari mencari pengertian (fides quaerens intellectum). Di sini (pemuka) agama tidak menutup diri dalam pemahamannya tetapi membuka dialog demi mencapai pemahaman yang lebih mendekati kebenaran.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved