Refleksi Pasca Vaksinasi Covid -19
pertama menjadi cara yang ditempuh pemerintah untuk meyakinkan masyarakat di tengah-tengah pro-kontra penerimaan vaksin.
Seorang kawan berbagi pemikiran. Ada tiga jenis "tulang-tulang kering" - ada tulang-tulang fisik yg kering sebab kebugaran di dalamnya terancam; ada "tulang-tulang" mental yg kering sebab kemampuan untuk memakai akal budi dan belajar dari ilmu juga terancam (mungkin oleh ketakutan atau reaksi stres/psikologis); dan ada "tulang-tulang" spiritual yg kering ketika iman kita terancam oleh keputusaasaan, sinisisme dan kepasrahan.
Kita semua menjadi "tulang kering" berhadapan dengan pandemi. Yehezkiel memanggil roh dari empat penjuru. Vaksin salah satu penjuru, dan gereja berupaya juga untuk mengembalikan roh melalui pelayanan yang aman bagi umat.
Saya percaya bahwa dalam segala situasi, Allah kita adalah Imanuel; Ia beserta kita. Allah Tritunggal beserta kita tidak secara pasif, tetapi Allah berada bersama kita secara aktif. Ia bertindak untuk keselamatan dunia ciptaanNya. Kuasa dosa merusak hidup manusia dan alam semesta, namun Allah tak berhenti menolong manusia dan dunia yang rapuh. Keyakinan bahwa Allah beserta itu memberi manusia daya untuk bahu membahu bersama melawan kuasa sakit dan kematian di tengah-tengah ancaman pandemi Covid sekarang ini. Vaksin Covid-19 adalah bagian dari karunia Allah bagi budi manusia untuk mengolah ilmu pengetahuan menjadi bagian dari alat keselamatan. Menerima vaksin adalah bagian dari komitmen untuk merawat kehidupan.(*/release)
*Rumah bersama, Kantor Sinode GMIT, 15 Januari 2021*
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pendeta-mery-kolimon-10.jpg)