Refleksi Pasca Vaksinasi Covid -19

pertama menjadi cara yang ditempuh pemerintah untuk meyakinkan masyarakat di tengah-tengah pro-kontra penerimaan vaksin.

Editor: Rosalina Woso
poskupang.com/novemy leo
Ketua Sinode GMIT NTT, Pendeta DR. Mery Kolimon 

Artinya bagi yang sudah divaksin kalau pun kena Covid-19 tidak sampai dirawat. Hal-hal itu memberi saya kekuatan untuk menerima vaksin. Suami dan anak-anak saya juga ikut mencari informasi di internet untuk menjadi dasar pertimbangan bersama kami.

*Masih Belajar Mencermati Reaksi Tubuh terhadap Vaksin*

Pagi ini, 15 Januari 2021, beta bangun dengan perasaan bercampur. Ada syukur karena semalam beta tidur lumayan lelap. Kadang-kadang tengah malam saya terbangun ke kamar kecil, tapi tadi malam saya tidur lumayan pulas. Ada juga perasaan cemas, bagaimana reaksi tubuh saya terhadap vaksin Covid-19 yang masuk ke tubuh saya.

Tadi malam saya menuju tempat tidur dengan kesadaran bahwa dalam tubuh saya telah dimasukkan virus Corona yang sudah dinonaktifkan. Saya sudah hidup dengan virus Corona yang dilumpuhkan untuk membangun kekebalan dalam tubuh saya terhadap virus itu.

Saya mendengar bahwa setelah vaksin reaksi setiap tubuh berbeda. Beberapa orang mengatakan merasa pegal, mengantuk berat, dll. Setelah vaksin, saya  rasa pegal di tangan. Namun kemampuan saya berkonsentrasi tetap baik. Selepas menerima vaksin kemarin saya memimpin rapat bersama kawan-kawan MSH dan MS-non pendeta secara online. Setelah itu saya ikut seminar online yang kami MSH selenggarakan.

Dua acara itu berurutan dan saya bisa tetap fokus. Tadi malam saya kelelahan dan tidur tempo cukup pulas. Pagi ini saya jalan kaki 5000 langkah dan tetap bugar. Saya masih harus mengamati bahasa tubuh saya hingga 14 hari ke depan, saat saya kembali untuk mendapati vaksin tahap kedua.  Saya mohon doa bagi semua yang telah divaksin agar tetap sehat dan menjadi tanda harapan bagi upaya mengatasi daya Covid-19 yang mengancam kehidupan.

*Berteologi dalam Bencana*

Kita masuk awal tahun dengan terlalu banyak berita duka dan luka. Halaman-halaman Facebook penuh dengan berita pilu yang menguras energi batin. Orang tua dan muda meninggal setiap hari. Ancaman itu kini begitu dekat. Kita semua bertanya: Kapan ini berakhir? Kemarin sore, 14 Januari 2021, dalam seminar online yang kami lakukan di GMIT mengenai perencanaan pelayanan di masa pandemi, seorang narasumber, yang membantu kami melihat peta perkembangan Covid-19 secara global, mengatakan pandemi ini bisa berjalan sampai 2025. Ini situasi yang cukup berat bagi semua orang, termasuk bagi gereja.

Dengan mulai dilakukannya vaksinasi, memang di sana sini ada perdebatan: Apakah vaksin ini bermanfaat atau akan merusak tubuh manusia? Banyak berita yang beredar. Ada yang mengklaim mendapat penglihatan Tuhan untuk tidak menerima vaksin: cukup berdoa, tidak usah bekerja. Saya secara pribadi melihat bahwa hal itu merupakan reaksi psikologis tengah situasi keterancaman yang dirasakan manusia.

Namun pada saat yang sama, sangatlah penting untuk kita melatih diri mencari informasi dari sumber yang terandalkan. Tuhan memberi kita akal budi untuk menguji semua berita dan informasi, menguji semua suara yang mengklaim mendengar suara Tuhan.

Gereja belajar memahami suara Tuhan (berteologi) pertama dan terutama dari Alkitab. Sumber berteologi yang lain adalah nurani tiap orang percaya, juga dari penyataan Allah dalam sejarah, dalam budaya, ilmu pengetahuan, dan dalam pengalaman hidup manusia, termasuk pengalaman penderitaan.

*Roh Tuhan Berhembus atas Tulang-Tulang Kering*

Tahun ini, GMIT menjadikan Yehezkial 37:14 sebagai teks yang membimbing pelayanan GMIT di masa pandemi Covid-19. Allah membawa Yehezkial ke dalam lembah penderitaan yang penuh tulang-tulang sangat kering yang tercerai berai, lambang dari kehidupan yang terputus dari Tuhan dan kehilangan masa depan. Tuhan menyuruh Yehezkial berbicara dengan tulang-tulang itu. Tuhan juga menyuruhnya memanggil roh dari empat penjuru mata angin masuk ke dalam tulang-tulang kering itu memberi kehidupan. Gereja tidak dibawa Tuhan untuk menghindari bencana. Sebaliknya Tuhan justeru menuntun gereja masuk dan berjuang di tengah-tengah lembah ancaman kehidupan itu. Namun tugas gereja tak berhenti untuk berada di situasi penuh ancaman secara pasif. Gereja mendapat panggilan untuk bersaksi tentang karya Roh Allah yang penuh kuasa untuk menghidupkan. Yehezkial mendapat otoritas untuk bernubuat kepada  Roh Kudus untuk menghidupkan tulang-tulang kering itu.

Saya melihat tugas gereja di masa ini adalah belajar memahami realitas “tulang-tulang kering”, yaitu ancaman kehidupan di masa pandemi ini. Kita harus membuka mata untuk mendengar dan mempelajari temuan para ilmuan tentang perkembangan virus ini di seluruh dunia. Kita juga perlu realistis tentang bahaya dan ancaman yang kita hadapi. Namun kita tidak boleh hilang harapan. Justeru gereja dipanggil untuk mewartakan dan mengerjakan kabar baik di tengah situasi bencana. Dalam kerangka itu, vaksinasi oleh pemerintah perlu diterima  secara positif sebagai keterlibatan gereja dalam karya Allah bagi pemulihan hidup manusia. Sekaligus kita perlu tetap kritis terhadap praktik-praktik yang bisa menciderai kemanusiaan dalam upaya-upaya manusia yang terbatas dalam proses vaksinasi itu.

Saya tetap mendorong anggota jemaat-jemaat GMIT dan umat Kristen di seluruh dunia membuka diri secara konstruktif terhadap upaya vaksinasi yang sedang berlangsung. Untuk itu, masing-masing orang sebaiknya sudah mengecek keadaan kesehatannya di fasilitas kesehatan terdekat sebelum menerima vaksin. Dengan menerima vaksin, kita sedang merawat kehidupan di tengah-tengah realitas “tulang-tulang kering”.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved