Terkini Nasional

Bahaya Awan Cumulonimbus Bagi Penerbangan, ada Tragedi AirAsia, Adam Air hingga Garuda

Tragedi AirAsia, Adam Air, Garuda, Sriwijaya Air, Ini Alasan Awan Cumulonimbus Bahayakan Penerbangan

Editor: Eflin Rote
Instagram/@santiagoborja
Awan Cumulonimbus di langit Samudra Pasifik 

Garuda Indonesia Airlines

Garuda Indonesia 421 mendarat darurat di Sungai Bengawan Solo, Solo, Jawa Tengah
Garuda Indonesia 421 mendarat darurat di Sungai Bengawan Solo, Solo, Jawa Tengah (Wikipedia)

Kejadian serupa juga dialami pesawat Garuda Indonesia.

Dijelaskan, pesawat dengan nomor penerbangan 421 pada 16 Januari 2002 itu mengalami kecelakaan akibat gangguan awan badai.

Keadaan cuaca kala itu pun dijelaskan oleh BMKG.

"Garuda Indonesia Airlines dengan nomor penerbangan 421, sebuah Boeing 737-300 dengan registrasi PK-GWA mengalami dual-engine flameout (power loss) akibat mencoba menghindari awan badai," jelas BMKG.

Pernyataan ini dijelaskan pada awal 2015 lalu.

Pesawat Garuda Indonesia tersebut pun mendarat darurat di Sungai Bengawan Solo, Solo, Jawa Tengah.

Total orang yang ada di pesawat tersebut berjumlah 60 orang.

Satu pramugari tewas karena terseret arus sungai, 12 penumpang mengalami luka fatal, dan 10 penumpang mengalami luka ringan.

Analisis dari DFDR menunjukkan, pesawat memasuki daerah dengan cuaca buruk disertai badai.

Adam Air 574

Pesawat Adam Air 574 Jatuh di Selat Makassar, 102 Orang Meninggal
Pesawat Adam Air 574 Jatuh di Selat Makassar, 102 Orang Meninggal (Kolase wikipedia & ooyi.files.wordpress.com)

Kecelakaan pesawat akibat cuaca buruk juga pernah dialami maskapai penerbangan Adam Air.

Pesawat Adam Air penerbangan 574 mengalami kecelakaan pada 1 Januari 2007 silam.

BMKG menjelaskan, pesawat dengan rute penerbangan Jakarta-Surabaya-Manado itu mengalami kerusakan pada alat bantu navigasi yang diakibatkan cuaca buruk.

Pesawat kemudian terjatuh di Perairan Manece, Sulawesi Barat.

Kemudian pada 27 Agustus 2007, Black Box pesawat akhirnya ditemukan.

Kesimpulan dari data yang diperoleh, Adam Air jatuh ke laut menabrak permukaan air laut lalu terbelah menjadi dua.

Kejadian tersebut disebabkan oleh cuaca buruk dan kerusakan alat navigasi.

Setahun berselang, Agustus 2008 beredar rekaman pembicaraan yang konon dari pembicaran terakhir di kokpit Adam Air 574.

Jika rekaman tersebut asli, menurut KNKT, kecelakaan tidak diakibatkan dari kesalahan manusia.

Sriwijaya Air SJ 182

Ilustrasi pesawat Srwijaya Air
Ilustrasi pesawat Srwijaya Air (ISTIMEWA)

Belum diketahui apakah cuaca dan awan Cumulonimbus yang menyebabkan pesawat Sriwijaya Air hilang kontak dan jatuh.

Hingga saat ini, tim penyelamat tengah mengevakuasi puing-puing dan jenazah penumpang pesawat rute CGK-PNK.

Dari laporan, pesawat dengan nomor penerbangan SJ 182 itu dilaporkan jatuh di antara Pulau Laki dan Pulau Lancang, Kepulauan Seribu, Sabtu (9/1/2021).

Melansir Kompas.com, Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Bagus Puruhito mengatakan, pesawat Sriwijaya Air tidak memancarkan sinyal emergency location transmitter (ELT) ketika hilang kontak.

Sebagai informasi, ELT merupakan alat penentu lokasi pesawat yang termasuk dalam bagian dari standar peralatan pada pesawat.

ELT bisa dinyalakan langsung oleh pilot atau bisa hidup apabila pesawat membentur benda keras.

"Kan mestinya ada pancaran emergency location transmitter atau ELT, itu tidak ada," kata Bagus seperti dikutip dari siaran Metro TV, Sabtu.

Bagus menjelaskan, Basarnas kemudian berkoordinasi dengan Australia seputar sinyal ELT dari pesawat Sriwijaya Air SJ 182.

"Kita sudah koordinasi dengan Australia, Ausralia juga tidak menangkap (sinyal ELT). Jadi, kita hanya mendapatkan informasi dari AirNav dan radarnya Basarnas sendiri pada menit berapa dia (pesawat Sriwijaya Air) hilang dari radar," ungkap Bagus.

Sedangkan, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menilai wajar pesawat B737-500 milik Sriwijaya Air tak pancarkan ELT ketika hilang kontak.

Sebab, pesawat tersebut diduga membentur benda keras dan jatuh di perairan Kepulauan Seribu.

Dugaan ini berdasarkan temuan serpihan pesawat di lokasi kejadian.

"Jadi, ELT tidak didesain untuk impact yang besar. Jadi, kalau teman-teman di sana menemukan serpihan, berarti pesawat impact-nya cukup kuat. Dan kemungkinan besar ELT-nya enggak sukses," kata Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono, kepada Kompas.com, di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, Tangerang.

Dugaan lainnya adalah ELT di pesawat tersebut sudah rusak sehingga tidak menyala.

"ELT yang dipasang di pesawat itu kalau tenggelam ke air pasti tidak akan manjat. ELT-nya kemungkinan rusak," kata dia.

(TribunStyle.com/Nafis)

Sumber: TribunStyle.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved