Terkini Nasional

Bahaya Awan Cumulonimbus Bagi Penerbangan, ada Tragedi AirAsia, Adam Air hingga Garuda

Tragedi AirAsia, Adam Air, Garuda, Sriwijaya Air, Ini Alasan Awan Cumulonimbus Bahayakan Penerbangan

Editor: Eflin Rote
Instagram/@santiagoborja
Awan Cumulonimbus di langit Samudra Pasifik 

AirAsia

Ilustrasi pesawat AirAsia
Ilustrasi pesawat AirAsia (airbus)

Pesawat AirAsia QZ 8501 mengalami kecelakaan yang penyebabnya diduga menghindari awan pada akhir tahun 2014 lalu.

Kala itu, diketahui sang pilot melaporkan akan menghindari awan Cumulonimbus dengan berbelok ke arah kiri dan kemudian minta izin menaikkan ketinggian pesawat menjadi 38.000 kaki dari posisi awal 32.000 kaki.

Semenit berselang, ATC Bandara Soekarno-Hatta kehilangan kontak dengan pesawat yang dikemudikan Kapten Irianto.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan terkait cuaca disepanjang rute yang dilalui Pesawat AirAsia yang hilang kontak tersebut.

Menurut BMKG, terdapat awan tebal berjenis di sekitar rute pesawat.

Baca juga: DIBONGKAR Kebiasaan Arya Saloka di Lokasi Ikatan Cinta, Suami Putri Anne Dulu Paling Anti Dipegang?

Baca juga: Detik-detik Pesawat Sriwijaya Air Meledak, Menggelegar Seperti Petir Getarkan Kaca: Ya Allah Apa Itu

Baca juga: Presiden China Titahkan Pasukannya Latihan Perang Besar, Perintah Penyerbuan Menyusul, SIAP PERANG?

"Area kawasan rute penerbangan berawan dan banyak awan sepanjang rute. Ada awan juga dan ada juga awan-awan jenis lainnya," ujar Kepala Pusat Meteorologi Penerbangan dan Maritim BMKG Syamsul Huda saat dihubungi Kompas.com, Jakarta, Minggu (28/12/2014).

Sebagai informasi, awab Cumulonimbus bisa terbentuk sebagai hasil dari ketidakstabilan atmosfer.

Awan-awan ini dapat terbentuk sendiri, secara berkelompok, atau di sepanjang front dingin di garis squall.

Lebih lanjut kata dia, biasanya saat pesawat memasuki awan akan terjadi guncangan pada pesawat.

Sementara itu, kecepatan angin disekitar hilangnya kontak pesawat pada ketinggian 30.000 feet yaitu 20 knot. Sedangkan pada ketinggian diatas 34.009 feet yaitu 25 knot.

Dalam kecepatan itu, Syamsul mengatakan, pesawat amsih bisa melaluinya dengan aman.

Sebenarnya, lanjut Syamsul, kondisi berawan tersebut sudah bisa diketahui airlines karena sebelum take off pasti BMKG sudah memberikan informasi terkait cuaca kepada otoritas bandara.

Namun, memang kata dia, saat pesawat teraebut take off kondisi cuaca masih kondusif.

"Saat airlines memutuskan untuk terbang berarti sudah menganalisa siap terhadap cuaca," kata dia.

Halaman
1234
Sumber: TribunStyle.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved