Menag Yaqut Cholil Ditantang Buktikan Ucapan Beri Perlindungan Kelompok Syiah dan Ahmadiyah
Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas mendapat tantangan dari LSM Setara untuk membuktikan ucapannya untuk melindungi kelompok minoritas
Menag Yaqut Cholil Ditantang buktikan Ucapan Beri Perlindungan Kelompok Syiah dan Ahmadiyah, Kemenag Janji Buka Dialog
POS-KUPANG.COM, JAKARTA - Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas mendapat tantangan dari LSM Setara untuk membuktikan ucapannya untuk melindungi kelompok minoritas, seperti Syiah dan Ahmadiyah.
Tantangan itu bisa dimulai dengan mencabut Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri yang melarang ajaran Ahmadiyah serta menindak kelompok yang memicu kekerasan terhadap Syiah, kata peneliti di Setara Institute.
Namun belakangan, menteri agama mengklarifikasi perkataannya tersebut dengan mengatakan bukan melindungi jemaah Syiah dan Ahmadiyah, melainkan melindungi mereka sebagai warga negara.
Sementara itu, Wakil Menteri Agama, Zainut Tauhid, menyebut pihaknya akan memfasilitasi adanya mediasi terhadap kelompok yang berbeda pandangan agar mencapai solusi.
Perkataan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, yang ingin mengafirmasi hak beragama Ahmadiyah dan Syiah bukan suatu hal yang luar biasa, menurut juru bicara Jemaah Ahmadiyah Indonesia Yendra Budiana.
Baginya, pernyataan itu adalah sesuatu yang sepatutnya diutarakan pejabat negara.
"Kami melihatnya normal saja, mengapresiasi tapi tidak terlalu berlebihan apalagi berekspektasi tinggi," ujar Yendra Budiana kepada Quin Pasaribu yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Minggu (27/12/2020).
Namun demikian, kalaupun niat itu akan dilaksanakan, langkah terbaik yang bisa dilakukan yakni dengan membuka "ruang perjumpaan" dengan berbagai kelompok agama yang difasilitasi Kementerian Agama.
Tapi pertemuan itu, kata Yendra, bukan ditujukan untuk mendiskusikan keyakinan Ahmadiyah, melainkan bersama-sama berkontribusi pada 'persoalan bangsa'.
"Misalnya bagaimana bersama-sama saling membantu di tengah pandemi Covid-19 atau bagaimana memberantas pandemi radikalisme. Harusnya semua agama bersatu, karena esensi beragama memberikan solusi. Kalau kelompok agama hanya bicarakan keyakinan, itu jauh dari esensi," sambungnya.
Menurut Yendra, kegiatan bersama lebih bermakna ketimbang dialog di atas meja. Sebab, munculnya kecurigaan bahkan kekerasan terhadap kelompok Ahmadiyah dikarenakan tidak adanya keterlibatan bersama-sama.
"Itu jauh lebih mengakar ketimbang hanya di elite. Kami tidak meminta apa-apa, minta dibangun masjid juga tidak. Bisa berkontribusi itu sudah cukup."
Senada dengan Yendra, tokoh Syiah Indonesia Muhsin Labib, berkata tidak ada yang baru dari pernyataan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas.
Hanya saja, ia berharap kepada ketua umum Gerakan Pemuda Ansor tersebut agar menjalankan amanat undang-undang dasar yang menjamin kebebasan berkeyakinan dan beragama semua warga negara.