Menag Yaqut Cholil Ditantang Buktikan Ucapan Beri Perlindungan Kelompok Syiah dan Ahmadiyah
Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas mendapat tantangan dari LSM Setara untuk membuktikan ucapannya untuk melindungi kelompok minoritas
Wamenag: 'kami membuka ruang dialog agar ada solusi'
Wakil Menteri Agama, Zainut Tauhid, mengatakan belum ada strategi yang dirancang Kementerian Agama untuk mengafirmasi kelompok Syiah dan Ahmadiyah.
Meski demikian, ia menjanjikan kementerian akan memfasilitasi kelompok-kelompok yang memiliki perbedaan pandangan agar ada solusi. "Kami membuka ruang dialog agar ada solusi," kata Zainut.
Dia juga memastikan, setiap warga negara berhak mendapat perlindungan apapun etnis, agama, tanpa kecuali. "Saya kira semua warga negara," katanya.
Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, sebelumnya menyatakan pemerintah akan mengafirmasi hak beragama warga Ahmadiyah dan Syiah di Indonesia.
Yaqut tidak ingin ada kelompok yang terusir dari kampung halaman karena perbedaan keyakinan.
"Mereka warga negara yang harus dilindungi," kata Yaqut seperti dilansir Antara di Jakarta, Kamis (24/12).
Karena itu, Kementerian Agama akan memfasilitasi dialog yang lebih intensif untuk menjembatani perbedaan selama ini.
Pernyataan Yaqut itu muncul menanggapi permintaan Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Azyumardi Azra agar pemerintah mengafirmasi kelompok minoritas pada forum Profesor Talk Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Jakarta.
Namun belakangan, Yaqut mengklarifikasi perkataannya tersebut. Ia menegaskan akan melindungi setiap warga negara.
"Sekali lagi, sebagai warga negara, bukan jemaah Syiah dan Ahmadiyah, karena semua warga negara sama di mata hukum. Ini harus clear," kata Yaqut seperti dikutip Antara, Jumat (25/12/2020).
"Tidak ada pernyataan saya yang melindungi organisasi atau kelompok Syiah dan Ahmadiyah."
Dia menyatakan Kementerian Agama siap menjadi mediator jika ada kelompok tertentu yang bermasalah dengan Syiah dan Ahmadiyah.
"Perlu ada dialog lebih intensif untuk menjembatani perbedaan."
Sumber: bbc.com/indonesia