Opini Pos Kupang

Adven, Pengungsi dan Solidaritas Kemanusiaan

Umat Katolik sudah memasuki retret agung masa adven 2020. Adven berasal dari kata Latin adventus yang berarti kedatangan

Editor: Kanis Jehola
Dok POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang 

Oleh: Steph Tupeng Witin, Perintis Oring Literasi Bukit Waikomo

POS-KUPANG.COM - Umat Katolik sudah memasuki retret agung masa adven 2020. Adven berasal dari kata Latin adventus yang berarti kedatangan. Kita menantikan kedatangan Yesus pada hari Natal sekaligus kedatangan-Nya pada "akhir zaman."

Nada utama adven adalah tobat. Kita melalui seluruh hidup kita dalam sikap terjaga, selalu sadar dan tidak larut dalam "tidur panjang."

Entah sikap cuek, masa bodoh atau dalam bahasa gaul generasi milenial Lembata: epen ka. Ada kata-kata kunci yang ditegaskan Yesus kepada para murid-Nya, "Hati-hatilah dan berjaga-jagalah." Ini berkenaan dengan sikap batin penuh penantian akan "waktu-Nya."

Baca juga: Rayakan HDI, FPKDK Lembata Bagikan Bingkisan Untuk Difabel Pengungsi Ile Lewotolok

Uskup Hilary dari Poiters, seorang Bapa Gereja pernah mengatakan tentang makna "berjaga-jaga" selama masa Adven dengan menarik, "Ketidaktahuan kita tentang hari datangnya Kristus membuat kita senantiasa berhati-berjaga dan selalu menantikan kedatangan-Nya."

Maka masa Adven berarti menantikan Yesus yang datang "setiap saat." Hal itulah yang terus memotivasi kita untuk mengejar kekudusan, dengan senantiasa mencintai Tuhan melalui kesalehan privat menjadi energi spiritual yang menggerakkan umat Katolik agar melibatkan diri dan komunitas secara konkret dalam tindakan kasih kepada sesama, terutama yang miskin, kecil dan menderita.

Baca juga: Dandim dan Kadis Pertanian TTU Bahas Program TJPS

Tindakan kasih itu merupakan sikap altruis yang menarasikan kesalehan sosial sebagai bentuk respons konkret atas realitas publik dalam beragam dimensi kehidupan.

Pertemuan pribadi dan komunitas dengan Tuhan dalam ruang tertutup (baca: gereja) mesti menginvestasi energi rohani yang selalu bergelora seperti laut biru yang memproduksi gelombang batin untuk membangun jejaring dengan semua orang yang berkehendak baik lalu bergerak menuju pantai sebagai simbol realitas sosial dan terlibat dalam tindakan belarasa kemanusiaan lintas batas.

Tindakan belarasa kemanusiaan ini merupakan bukti iman yang hidup yang menerobos dinding agama yang eksklusif. Agama yang hanya berhenti pada ritus adalah agama tanpa iman.

Agama model ini telah lama mati dan sebatas memori masa lampau. Agama hanya sekadar kulit luar yang kadang terlihat indah megah dalam bangunan dengan segala ornamennya nan mahal.

Perkembangan pemikiran kontekstual yang menempatkan realitas kemanusiaan dan lingkungan di atas segala-galanya menegaskan bahwa agama harus melahirkan iman yang bergerak menerobos kulit dinding agama itu sendiri dan menyebarkan "keharuman" melalui tindakan konkret di tengah realitas kemanusiaan dan lingkungan hidup.

Rasul Yakobus menegaskan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Maka agama tanpa tindakan belarasa kemanusiaan sebagai bukti iman tidak lebih dari barang kedaluwarsa masa lalu.

Pengungsi Datang

Ketika umat Katolik tengah melantumkan lagu "Datanglah Tuhan, datanglah," Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata memuntahkan lahar panas, abu dan debu yang menimbulkan kepanikan warga.

Langit Lembata ditutup debu dan abu putih bercampur pasir dengan siraman bau belerang menyengat. Menurut data dari Badan Geologi, erupsi Gunung Api Ile Lewotolok terjadi dua kali yaitu pada Jumat (27/11) pukul 05.57 Wita dan Minggu (29/11) pukul 09.45 Wita.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved