Jelang HBKN Kadisperindag NTT Pastikan Harga Bahan Pokok Stabil
ikan kembung 0.03 persen, jeruk nipis 0.03 persen, labu siam 0.03 persen l, sayuran buncis 0.03 persen, ikan ekor kuning 0.02 persen
Penulis: Michaella Uzurasi | Editor: Rosalina Woso
"Lalu gula dalam perjalanan sekitar 140 ton. Jadi diperkirakan nanti gula pasirnya masuk dibulan Desember" ungkapnya.
Dengan perhitungan kebutuhan rutin kurang lebih 5 ribu ton per bulan, maka dipastikan stoknya bisa bertahan sampai bulan April 2021.
" Artinya, kita dari sisi beras itu lebih dari cukup, ditambah lagi itu persediaan beras yang dikuasai oleh distributor masyarakat dan pedagang. Jadi saya pikir kita di NTT ini tidak terlalu risaulah tentang beras. Ditambah lagi daerah - daerah seperti Sulawesi Selatan itu masih panen otomatis perdagangan antar pulau itu akan berjalan. Karena mereka di selatan sana mau kirim ke mana? Pasti ke sini dan harganya bisa murah" ujarnya.
"Saya lihat harga beras itu bervariasi dari 9 ribu lima ratus sampai ada 12 ribu. Kalau 9 ribu lima ratus itu kan medium artinya masih ada di bawah. Kemudian yang 12 ribu Lima ratus itu beras premium" sambungnya.
Distributor telur ayam dari UD Ratna Mulia, Umar Wahyuni mengatakan, meskipun saat ini bergejolak, tahun lalu itu harga telur sudah lebih dari ini.
"Kalau sekarang 320 per ikatnya kalau tahun lalu sektar 330 ribu. Ya mudah - mudahan tidak seperti yang kita khawatirkan" kata Umar.
"Kebutuhan tidak seperti tahun lalu. Dan kalau ketersediaan stok kami sedang Berusaha untuk datangkan lagi untuk ketahanan pangan" lanjutnya.
Sementara dari Bank Indonesia perwakilan NTT melaporkan, perkembangan inflasi provinsi NTT bulan Oktober 2020 sebesar 0.26 persen. Besaran ini meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 0.14 persen.
Inflasi disebabkan karena ada dorongan bahan makanan seperti ikan tembang, sawi putih, cabe merah dan ikan kembung. Secara tahunan, inflasi provinsi NTT pada bulan Oktober mencapai 1.04 persen. Posisi ini masih dibawah dari inflasi nasional yang tercatat 1.42 persen.
Komoditas yang memberikan andil dalam inflasi adalah ikan tembang sebesar 0.6 persen, sawi putih sebesar 0.6 persen cabe merah 0.05 persen, ikan kembung 0.03 persen, jeruk nipis 0.03 persen, labu siam 0.03 persen l, sayuran buncis 0.03 persen, ikan ekor kuning 0.02 persen dan daun singkong 0.02 persen.
Sementara dari sisi deflasi juga disumbang dari komoditas seperti buah apel minus 0.04 persen, telepon seluler minus 0.03 persen, telur ayam ras 0.03 persen, bayam 0.02 persen, emas perhiasan yang biasanya tahun - tahun lalu menjelang HBKN meningkat, namun kali ini mengalami deflasi 0.02 persen. Cabai rawit, beras kemudian jeroan ayam dan daun kelor mengalami deflasi masing - masing 0.01 persen sampai 0.02 persen.
Kepala Bea Cukai NTT, Ketut Suardinaya mengatakan, dari sisi ekspor ada permintaan dari negara Timor Leste namun dari sisi impor, selama ini belum ada kegiatan impor karena semua datang dari Surabaya atau dari Makassar.
"Terkait dengan bongkat muat, kita selalu berkoordinasi dengan Pelindo di pelabuhan, bagaimana caranya untuk mempercepat proses bongkar muat di pelabuhan namun untuk sandar di pelabuhan itu membutuhkan waktu apagi saat sekarang ini memang ada tes kesehatan" ujar Ketut.
Baca juga: Imbas Penangkapan Menteri KKP Edhy Prabowo? Mahfud MD Tiba-Tiba Pasang Badan untuk Firli Bahuri
Baca juga: Update Covid-19 NTT : Menggila, Kasus Positif Covid 19 di NTT, Tembus 1.087 Kasus
Sementara dari pihak Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan mengatakan, terkait bongkat muat di pelabuhan yang jelas lancar dan memang ada sedikit penambahan terkait pelaksanaan pemeriksaan kesehatan oleh Tim Karantina untuk kapal - kapal dari luar NTT yang masuk ke wilayah NTT.(Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Michaella Uzurasi)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/rapat-koordinasi-dan-identifikasi-harga-bahan-pokok-menjelang-hbkn.jpg)