Rabu, 29 April 2026

Jelang HBKN Kadisperindag NTT Pastikan Harga Bahan Pokok Stabil

ikan kembung 0.03 persen, jeruk nipis 0.03 persen, labu siam 0.03 persen l, sayuran buncis 0.03 persen, ikan ekor kuning 0.02 persen

Tayang:
Penulis: Michaella Uzurasi | Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/MICHAELLA UZURASI
Rapat Koordinasi dan Identifikasi Harga Bahan Pokok Menjelang HBKN 

Jelang HBKN Kadisperindag NTT Pastikan Harga Bahan Pokok Stabil

POS-KUPANG.COM | KUPANG -- Jelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HKBN) Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengatakan Rapat Koordinasi dan Identifikasi Harga Bahan Pokok di Aula Hotel Sylvia pada Rabu (25/11/2020).

Rapat ini dipimpin oleh Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Daerah Setda NTT, Ir. Samuel Rebo.

Kepala Disperindag NTT, M. Nasir Abdullah mengatakan, kondisi real pasar saat ini secara umum harga barang relatif stabil.

"Satu contoh riil bahwa ditahun lalu, harga bawang putih mencapai 105 ribu per kilogram namun tahun ini harga bawang putih yang ada  di pasar Inpres 30 ribu rupiah dan baru naik 5 ribu rupiah,  bulan lalu itu masih 25 ribu ribu. 
Bawang merah cuma 25 ribu per kilogram dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun yang berbeda" kata Nasir.

Meski demikian, lanjut dia, harga telur saat ini bergejolak sementara gula pasir masih stabil karena ditahun lalu harganya mencapai 18 ribu hingga 19 ribu rupiah sedangkan saat ini berkisar 12 ribu rupiah.
Nasir mengatakan bahwa kondisi saat ini sebagian dipengaruhi oleh pandemi.

"Ketika permintaan itu meningkat, mau tidak mau dalam hukum Ekonomi itu akan terjadi pergeseran kenaikan, ini relatif aman. Tapi kami laporkan bahwa hampir semua stok bahan pokok atau bahan penting relatif stabil" ujarnya.

"Misalnya kalau di pasar tradisional minyak goreng Bimoli besarannya itu 30 ribu rupiah per dua kilo liter. Sedangkan di pasar modern cuma 25 ribu. Apa artinya? Pedagang - pedagang kita sedang mengambil kesempatan ketika ada permintaan yang tinggi. Namun kalau di pasar modern, apapun kondisinya standar harga yang ditetapkan adalah harga yang diputuskan secara nasional oleh perusahaan sehingga tidak cenderung naik" jelasnya.

Ketika barang tertentu  diminta melebihi yang biasanya, akan ada spekulasi dari pedagang untuk menaikkan harga dalam rangka memperoleh keuntungan pada deadline waktu tertentu.

Nasir juga menyampaikan, meskipun Harga telur bergejolak namun tidak ada kekhawatiran karena dia yakin, pedagang atau distributor yang berani menyembunyikan, menyimpan atau menimbun karena masa penyimpanannya sangat pendek.

" Ditimbun 5 hari saja ada kecenderungan rugi karena pasti telurnya rusak sehingga kita lihat dari stok yang ada, baik yang ada di distributor maupun di pasar, kalaupun harga agak naik tapi saya yakin itu akan turun kembali karena orang akan takut tidak laku karena kecenderungan dia menahan harga barang tidak laku dan akan busuk" beber Nasir.

"Sehingga kami Dinas Perindag menganalisis bahwa kondisi menyambut natal 2020 dan tahun baru 2021 gejolak pasar tidak berpengaruh secara signifikan" tambahnya.

Khusus beras medium harga rata - rata sekitar 9 ribu sampai 9 ribu 6 ratus rupiah sehingga kalau ada beras yang datang dari Sulawesi Selatan,  juga ikut menentukan kestabilan harga.

Untuk tepung terigu dan minyak goreng yang ada, lanjut Nasir, relatif sampai dengan empat bulan kedepan atau dua bulan ditahun 2021 masih sangat terkendali.

"Yang harus kita jaga betul itu adalah kemungkinan inflasi akan naik karena kontribusi inflasi itu datang dari telur yang hampir dipastikan sekitar 80 sampai 90 persen kebutuhan telur di NTT dipasok dari luar khususnya dari Pulau Jawa. Sedangkan telur lokal harganya jauh lebih murah" ujar Nasir.

"Mudah - mudahan bisa terpotong inflasi tahun ini karena pengalaman lebaran pas bulan Mei itu lagi takut - takutnya orang dengan covid sehingga shalatnya dari rumah, silaturahmi lewat media sosial bikin kue tidak banyak - banyak sehingga harga telur tidak terlalu berpengaruh" lanjutnya.

Lanjut dia, kemungkinan perayaan Natal tahun ini  sudah ada kelonggaran tetapi dengan kondisi saat ini, Nasir meminta untuk tetap menerapkan protokol kesehatan.

"Kondisi saat ini, untuk hari ini, NTT menembus angka 1136 orang penderita Covid. Tolong jaga jarak, pakai masker, cuci tangan, selalu membawa hand sanitizer biar kita sampai pada Natal nanti itu dengan damai sejahtera bahwa kita tidak terganggu oleh covid" tuturnya.

Satgas Pangan Polda NTT, John Blegur menyampaikan, ketersediaan stok bahan kebutuhan pokok untuk wilayah NTT khususnya di Kota Kupang, sesuai dengan fakta lapangan dan juga hasil pantauan selama beberapa bulan silam hingga saat ini belum ada jenis bahan pokok yang dinilai kurang. 

"Semuany tersedia. Ini berkat kerja keras para distributor dan para pengusaha lokal" kata John.

Dikatakan John, sepanjang pemantauan dia belum menemui adanya penimbunan bahan kebutuhan pokok.

Semua pedagang pengusaha melaksanakan usaha dagangnya dengan normal. Untuk kestabilan harga sesuai pantauan beberapa bulan lalu hingga saat ini, harga masih pada tahap normal.

" Seperti di pasar tradisional dan pasar modern memang ada perbedaan harga antara pasar modern dengan pasar traditional tapi tidak signifikan" tukasnya.

Sementara untuk kestabilan distribusi sesuai pantauan sampai saat ini belum ada kendala yang berhubungan dengan kekancaran stabilitas distribusi kebutuhan pokok.

Kepala Divisi Regional (Kadivre) Bulog NTT, Eko Pranoto mengatakan, saat ini hampir semua wilayan di Indonesia melakukan pemantauan seperti yang dilakukan di NTT.

 "Karena pengalaman setiap tahun itu dua kali kita direpotkan, kalau bukan puasa itu masuk natal dan tahun baru karena disitu memang cenderung terjadi peningkatan permintaan ditambah lagi ibu - ibu kadang borongan sehingga memacu kecenderungan kerjadinya kenaikan harga di pasar terutama untuk bahan kebutuhan pokok" jelas Eko.

"Alhamdulilah kita sudah melakukan antisipasi awal meskipun natal itu masih lama, kurang lebih 3 minggu lagi" sambungnya.

Dia berharap, ketersediaan bahan pokok saat ini bisa tetap terjaga sampai Natal dan Tahun Baru.

"Itu didukung karena persediaan memang banyak di pasar kecuali beberapa seperti telur. Tapi telur bervariasi juga" ujarnya.

Lanjut Eko, menjelang Natal dan Tahun Baru kali ini, Bulog sebagai penyangga sampai hari ini punya persediaan beras sekitar 22 ribu ton, minyak goreng 64 ribu liter.

 "Lalu gula dalam perjalanan sekitar 140 ton. Jadi diperkirakan nanti gula pasirnya masuk dibulan Desember" ungkapnya.

Dengan perhitungan kebutuhan rutin kurang lebih 5 ribu ton per bulan, maka dipastikan stoknya bisa bertahan sampai bulan April 2021.

" Artinya, kita dari sisi beras itu lebih dari cukup, ditambah lagi itu persediaan beras yang dikuasai oleh distributor masyarakat dan pedagang. Jadi saya pikir kita di NTT ini tidak terlalu risaulah tentang beras. Ditambah lagi daerah - daerah seperti Sulawesi Selatan itu masih panen otomatis perdagangan antar pulau itu akan berjalan. Karena mereka di selatan sana mau kirim ke mana? Pasti ke sini dan harganya bisa murah" ujarnya.

"Saya lihat harga beras itu bervariasi dari 9 ribu lima ratus sampai ada 12 ribu. Kalau 9 ribu lima ratus itu kan medium artinya masih ada di bawah. Kemudian yang 12 ribu Lima ratus itu beras premium" sambungnya.

Distributor telur ayam dari UD Ratna Mulia, Umar Wahyuni mengatakan, meskipun saat ini bergejolak, tahun lalu itu harga telur sudah lebih dari ini.

"Kalau sekarang 320 per ikatnya kalau tahun lalu sektar 330 ribu. Ya mudah - mudahan tidak seperti yang kita khawatirkan" kata Umar.

"Kebutuhan tidak seperti tahun lalu. Dan kalau ketersediaan stok kami sedang Berusaha untuk datangkan lagi untuk ketahanan pangan" lanjutnya.

Sementara dari Bank Indonesia perwakilan NTT melaporkan, perkembangan inflasi provinsi NTT bulan Oktober 2020 sebesar 0.26 persen. Besaran ini meningkat dibandingkan  bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 0.14 persen.

Inflasi disebabkan karena ada dorongan bahan makanan seperti ikan tembang, sawi putih, cabe merah dan ikan kembung. Secara tahunan, inflasi provinsi NTT pada bulan Oktober mencapai 1.04 persen. Posisi ini masih dibawah dari inflasi nasional yang tercatat 1.42 persen. 

Komoditas yang memberikan andil dalam inflasi adalah ikan tembang sebesar 0.6 persen, sawi putih sebesar 0.6 persen cabe merah 0.05 persen, ikan kembung 0.03 persen, jeruk nipis 0.03 persen, labu siam 0.03 persen l, sayuran buncis 0.03 persen, ikan ekor kuning 0.02 persen dan daun singkong 0.02 persen.

 Sementara dari sisi deflasi juga disumbang dari komoditas seperti buah apel minus 0.04 persen, telepon seluler minus 0.03 persen, telur ayam ras 0.03 persen, bayam 0.02 persen, emas perhiasan yang biasanya tahun - tahun lalu menjelang HBKN meningkat, namun kali ini mengalami deflasi 0.02 persen. Cabai rawit, beras kemudian jeroan ayam dan daun kelor mengalami deflasi masing - masing 0.01 persen sampai 0.02 persen.

Kepala Bea Cukai NTT, Ketut Suardinaya mengatakan, dari sisi ekspor ada permintaan dari negara Timor Leste namun dari sisi impor, selama ini belum ada kegiatan impor karena semua datang dari Surabaya atau dari Makassar.

"Terkait dengan bongkat muat, kita selalu berkoordinasi dengan Pelindo di pelabuhan, bagaimana caranya untuk mempercepat proses bongkar muat di pelabuhan namun untuk sandar di pelabuhan itu membutuhkan waktu apagi saat sekarang ini memang ada tes kesehatan" ujar Ketut.

Baca juga: Imbas Penangkapan Menteri KKP Edhy Prabowo? Mahfud MD Tiba-Tiba Pasang Badan untuk Firli Bahuri

Baca juga: Update Covid-19 NTT : Menggila, Kasus Positif Covid 19 di NTT, Tembus 1.087 Kasus

Sementara dari pihak Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan mengatakan, terkait bongkat muat di pelabuhan yang jelas lancar dan memang ada sedikit penambahan terkait pelaksanaan pemeriksaan kesehatan oleh Tim Karantina untuk kapal - kapal dari luar NTT yang masuk ke wilayah NTT.(Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Michaella Uzurasi)

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved