Breaking News:

Pandemi Corona

Bangkit di Tengah Pademi Corona, Aroma Teri Hadakewa Menembus Nusantara, Begini Cikal Bakalnya SIMAK

Sosok energik, berusia 35 tahun, ini berobsesi membebaskan warganya dari belenggu kemiskinan. Hadakewa sangat tertinggal.

Pos-Kupang.com
Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, Kades Hadakadewa dan Bupati Lembata, Eliaser Jentji Sunur sedang menunjuk ikan teri Artikel ini telah tayang di pos-kupang.com dengan judul Bermula dari SORGA Tercium Istana, Aroma Teri Hadakewa Menembus Nusantara, https://kupang.tribunnews.com/2020/11/07/bermula-dari-sorga-tercium-istana-aroma-teri-hadakewa-menembus-nusantara?page=4. Penulis: Benny Dasman Editor: Benny Dasman 

POS KUPANG, COM KUPANG - PELUH bercucuran. Siang itu, Theresia Bota Wulo (49), beristirahat di bale-bale rumahnya. Baru saja usai menjual sayur. Dari pintu ke pintu menawarkannya kepada warga Desa Hadakewa. Mengaiz rezeki. Mencari lembaran-lembaran rupiah. Agar asap dapur tetap mengepul. Terus mengepul.

Selain menjual sayur, Theresia menjual kayu api. Berjuangan sendirian. Tanpa suami, yang juga mencari rupiah di seberang sana. Di Malaysia. Negeri Jiran. Pendapatan sang suami di rantau, pun pas-pasan. Tak cukup membuat Theresia tersenyum. Membiayai anak sekolah bahkan harus hutang.

Tatkala pandemi Covid-19 datang 'menyapa', kondisi ekonomi keluarga Theresia semakin tiarap. Tidak menentu. Namun Theresia tetap gigih berjualan sayur dan kayu api. Hasilnya cukup untuk makan sehari. Besok? Jualan lagi! "Syukur-syukur bawa pulang Rp 30 ribu setiap hari," ujar Theresia sembari membatin agar Tuhan menyehatkan raganya. Tak 'tersentuh' corona.

Tak hanya keluarga Theresia. Banyak keluarga lain di Hadakewa, juga tergolong miskin. Hidup pas-pasan. Namun mereka tidak menyerah pada keadaan. Desa yang dihuni 1.053 jiwa ini terletak di pesisir timur Pulau Lembata. Tercatat sebagai salah satu desa miskin di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT). Jaraknya kurang lebih 13 kilometer dari Lewoleba, kota kabupaten. Desa ini masuk Kecamatan Lebatukan.

Bermental 'petarung'. Esi, sapaan akrab Theresia, mencari peluang kerja lain agar tetap produktif di masa pandemi ini. Benar! Mama Esi diterima bekerja pada usaha ikan teri. Usaha ini dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Hadakewa. Saban hari Mama Esi, dan ibu-ibu lainnya sekitar 30 orang, 'menyerbu' Kantor BUMDes. Pukul 08.00 Wita tinggalkan rumah. Tugas mereka di Kantor BUMDes menjemur ikan teri. Hingga pukul 16.00 Wita.

"Tuhan, mudah-mudahan usaha ini mengatasi kesulitan ekonomi keluarga saya pada masa pandemi ini," Mama Esi bersyukur. Pada hari pertama bekerja, Mama Esi sumringah. Tersenyum. Sang ibu rumah tangga ini bisa membawa pulang uang lebih dari Rp 100.000. Tak pernah dialami sebelumnya.

Mama Esi dan kawan-kawan diupah sesuai kemampuan kerja. Jika berhasil menjemur satu kilogram ikan teri, mendapat Rp 1.000. "Saya puas dan bersyukur. Tak hanya mengandalkan uang kiriman dari sang suami di tanah rantau. Sekarang saya bisa beli beras, minyak goreng, dan lain-lain dari usaha ikan teri ini. Bahkan saya bisa sisihkan untuk biaya anak sekolah," tutur ibu dua anak ini.

Bermula dari SORGA

Gebrakan pertama. Usaha ikan teri ini berawal dari gagasan cerdas Kepala Desa Hadakewa, Klemens Kewa Aman. Sosok energik, berusia 35 tahun, ini berobsesi membebaskan warganya dari belenggu kemiskinan. Hadakewa sangat tertinggal.

Klemens memanfaatkan potensi di desanya untuk mendulang rupiah. Sejengkal pun tak boleh disia-siakan. Pada tahun 2017, Klemens menyulap lokasi kumuh di bibir pantai desa setempat menjadi pusat 'sorga' (sarana olahraga). Membangun lapangan futsal dan taman baca. Juga balai pelatihan.

Halaman
1234
Penulis: Benny Dasman
Editor: Benny Dasman
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved